JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Indonesia memperluas jejaring ekonomi ke sejumlah kawasan nontradisional. Sri Lanka dibidik sebagai pasar ekspor, terutama untuk produk pupuk, sementara Nigeria dan Angola menjadi sasaran baru untuk memperkuat pasokan sekaligus investasi energi.
Peluang tersebut mengemuka dalam rangkaian diplomasi ekonomi dan energi Indonesia sepanjang September. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso membuka peluang ekspor pupuk ke Sri Lanka, sedangkan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno membawa agenda kerja sama energi saat mengunjungi Nigeria dan Angola pada 7–10 September 2026.
Ketertarikan Sri Lanka terhadap pupuk Indonesia disampaikan dalam pertemuan Mendag Budi dengan Menteri Tenaga Kerja sekaligus Wakil Menteri Keuangan dan Perencanaan Sri Lanka Anil Jayantha Fernando di Jakarta, Rabu (16/9).
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Rp6.000
”Kami membahas sejumlah upaya untuk meningkatkan perdagangan antara Indonesia dan Sri Lanka,” ujar Budi di Jakarta, Kamis (17/9).
Ketertarikan tersebut menjadi peluang konkret bagi produsen pupuk nasional. Delegasi Sri Lanka yang akan menghadiri Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, didorong bertemu langsung dengan industri pupuk Indonesia.
Di sisi lain, RI juga memperlebar jejaring ekonomi ke Afrika yang menyangkut ketahanan energi sekaligus peluang investasi perusahaan nasional.
Baca Juga: Tujuh Emiten Siap IPO, Incar Rp4,02 T
Dalam kunjungan ke Nigeria, Havas bertemu Menteri Luar Negeri Nigeria Bianca O. Odumegwu-Ojukwu, Menteri Perminyakan Heineken Lokpobiri, serta jajaran pejabat Nigerian National Petroleum Corporation (NNPC) dan Nigerian Upstream Petroleum Regulatory Commission (NUPRC).
Kedua pihak membahas usulan pembentukan Kemitraan Energi Strategis RI-Nigeria yang mencakup suplai langsung minyak mentah, investasi blok migas, serta peningkatan kapasitas. ”Indonesia membutuhkan sumber energi yang aman dan terdiversifikasi. Nigeria adalah mitra penting untuk mendukung ketahanan energi Indonesia, sekaligus membuka peluang investasi pada jangka panjang, khususnya bagi Pertamina,” ujar Havas.
Langkah serupa diarahkan ke Angola. Dalam forum Angola Oil & Gas (AOG) 2026 di Luanda, Indonesia mendorong penguatan kemitraan energi dengan negara tersebut dalam kerangka kerja sama Selatan-Selatan. Pertamina membuka peluang memperluas kehadiran di Angola. Selain menjajaki pembelian , perusahaan nasional tersebut juga melihat peluang investasi langsung di sektor hulu dan hilir migas.(dio/jpg)
Editor : Arif Oktafian