PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Antrean kendaraan untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umuk (SPBU) mulai menimbulkan masalah sosial. Seperti kemacetan dan terganggunya akses keluar masuk toko maupun rumah yang berada di dekat SPBU.
Jika di daerah perbatasan seperti di Jalan Pasir Putih, Pandau Jaya, Siak Hulu banyak ban bekas atau bahkan beton agar truk tak antre di depan pintu masuk pekarangan toko, lain pula di Jalan Rawamangun, Bukitraya, Pekanbaru. Di sini, pemukim maupun pemilik toko menempel banyak spanduk.
Berukuran kecil, spanduk berisi larangan menutup akses masuk, tertempel sepanjang jalan mulai dari simpang empat Labersa-Setia Maharaja sampai ke depan pintu masuk SPBU Rawamangun.
Baca Juga: El Nino dan Situasi Geo Politik Timur Tengah Sebabkan Rupiah Berpotensi Turun Hari Ini
Spanduk dengan latar putih dan beberapa tertulis dengan tinta merah itu cukup mencolok. Pasalnya, spanduk-spanduk itu juga dipasang warga setempat di batang pohon sepanjang pinggir jalan. Isu sosial yang ditimbulkan oleh antrean solar ini mendapat perhatian wakil rakyat, kali ini dari Anggota DPRD Kota Pekanbaru Nofrizal.
Ia meminta Pertamina mencari solusi agar masyarakat pengguna solar tidak harus menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean hingga menimbulkan masalah bagi pengguna jalan dan warga sekitar SPBU. Menurut Nofrizal, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membuat jadwal khusus pengisian solar di setiap SPBU.
Jadwal tersebut perlu disusun berdasarkan kebutuhan masing-masing SPBU dan diatur berbeda setiap harinya. ‘’Semakin banyak masyarakat mengeluhkan susahnya mendapatkan ataupun mengisi solar di setiap SPBU. Maka dari itu, kita meminta Pertamina bisa mencari solusi terbaik agar masyarakat pengguna solar tidak antre sampai berjam-jam,’’ kata Nofrizal.
Baca Juga: Bawa Pulang Karya Lokal! Serunya Petualangan BRIZZI ARKIV di Blok M Hub
Politisi PAN ini menilai pengaturan jadwal dapat mncegah penumpukan kendaraan pada jam-jam tertentu. Masyarakat juga dapat mengetahui waktu penyaluran solar sehingga bisa menyesuaikan waktu pengisian di SPBU.
‘’Menurut saya, agar tidak terjadi kelangkaan antrean panjang untuk pengisian solar di setiap SPBU pada jam sibuk, maka Pertamina harus mendata kembali dan membuat jadwal pengisian solar di setiap SPBU dengan waktu yang berbeda setiap harinya,” katanya.
Selain pengaturan jadwal, ia juga meminta Pertamina mengevaluasi pembatasan kuota solar bersubsidi di setiap SPBU. Nofrizal menilai kebutuhan solar di masyarakat masih tinggi sehingga kuota perlu disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Baca Juga: BAF Friends Festival Pererat Kedekatan dengan Konsumen Setia
“Terkait adanya pembatasan kuota yang ditetapkan pihak Pertamina di setiap SPBU, maka perlu juga dievaluasi kembali sebab kebutuhan solar ini sangat tinggi,” katanya.
Selain itu turut meminta ada pengetatan pengawasan penyaluran solar bersubsidi. Hal ini untuk mencegah adanya oknum yang menyalahgunakan atau memainkan distribusi BBM bersubsidi.
Sementara itu, terkait rencana DPRD untuk mengundang Pertamina guna meminta penjelasan mengenai kondisi dan distribusi BBM jenis solar, belum mendapatkan tanggapan resmi dari Pertamina Patra Niaga.
Baca Juga: Daewoong Luncurkan Fexuprazan, Pilihan Baru Terapi GERD di Indonesia
Riau Pos sudah melakukan upaya konfirmasi kepada Sales Area Manager Retail Riau Pertamina Patra Niaga, Wilson Eddi Wijaya dan Humas Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, namun belum mendapatkan jawaban.
Beberapa hari sebelumnya, Wilson mengatakan hingga Agustus sampai September 2026, Pertamina telah meningkatkan pasokan BBM berjenis JBT di Riau hingga sekitar 27 persen lebih tinggi dibandingkan rata-rata penyaluran pada April 2026.
‘’Ini menunjukkan bahwa kebutuhan BBM di Riau memang mengalami peningkatan dan terus kami respons melalui optimalisasi penyaluran,” jelasnya saat itu.
Baca Juga: Pegadaian Dorong UMKM Jangkau Pasar Lebih Luas melalui Program Gemilang
Peningkatan tersebut merupakan bagian dari langkah antisipatif Pertamina dalam menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan dan perkembangan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Antrean Truk Isi Solar Mengular di Rohul
Antrean panjang truk dan mobil pribadi yang hendak mengisi solar kembali terjadi di sejumlah SPBU di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). Bahkan, antrean kendaraan mengular hingga memakan badan Jalan Tuanku Tambusai, Pasirpengaraian dan mengganggu aktivitas pengguna jalan maupun masyarakat yang berada di sepanjang ruas jalan tersebut.
Pantauan Riau Pos, Sabtu (19/9) hingga Ahad (20/9), antrean di SPBU Jalan Tuanku Tambusai didominasi truk pengangkut barang. Kendaraan silih berganti antre sejak pagi hingga malam hari untuk mendapatkan solar. Antrean tidak hanya terjadi dari satu arah. Sejumlah kendaraan dari arah berlawanan juga terlihat ikut mengantre untuk mendapatkan solar. Kondisi ini membuat pengguna jalan harus memperlambat laju kendaraan dan berhati-hati ketika melintas di kawasan tersebut.
Baca Juga: DJP Catat Penerimaan Pajak Ekonomi Digital Rp57,23 Triliun
Fenomena antrean panjang ini juga dikeluhkan masyarakat, terutama pedagang dan pemilik ruko yang berada di sepanjang Jalan Tuanku Tambusai. Kendaraan yang mengantre sejak pagi hingga malam dinilai mengganggu akses keluar-masuk ruko serta aktivitas usaha masyarakat.
“Kalau antreannya sudah panjang sampai ke badan jalan, kami yang punya toko juga terganggu. Kendaraan pelanggan sulit masuk, begitu juga kendaraan yang mau keluar dari ruko. Apalagi kalau truk mengantre dari dua arah,” keluh salah seorang pedagang yang meminta namanya tidak disebutkan.
Keluhan serupa disampaikan pengguna mobil pribadi. Mereka mengaku harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan solar karena antrean didominasi kendaraan besar. “Kadang kita sudah masuk antrean, berjam-jam belum juga dapat. Yang kita lihat truk terus yang datang dan mengisi. Kami berharap ada pengaturan sehingga masyarakat yang memang membutuhkan solar juga mendapat kesempatan,” ujar Andre, seorang pengendara mobil pribadi saat antre mengisi solar di SPBU Jalan Tuanku Tambusai Pasirpengaraian, Ahad (20/9).
Baca Juga: Indonesia Bidik Sri Lanka Jadi Pasar Ekspor
Ia meminta adanya pengawasan lebih ketat terhadap pola pengisian BBM subsidi. Pasalnya, di tengah panjangnya antrean, muncul dugaan adanya kendaraan tertentu yang melakukan pengisian secara berulang atau menjadi pelangsir solar.
Namun, dugaan tersebut perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan pengawasan aparat serta pihak terkait di lapangan. Masyarakat meminta penyaluran BBM subsidi benar-benar diawasi agar tepat sasaran dan tidak dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.
“Kami tidak menuduh siapa pun. Tapi kalau memang ada kendaraan yang mengisi berulang kali untuk melangsir, harus ditindak. Jangan sampai masyarakat yang hanya ingin mengisi untuk kebutuhan kendaraan sendiri justru harus antre berjam-jam,” tegas Ardi Apriso, warga Pasirpengaraian kepada Riau Pos, Ahad (20/9).
Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Rp6.000
Dia berharap Polres Rohul tidak hanya menunggu laporan, tetapi menempatkan personel di SPBU yang antreannya kerap meluber ke badan jalan. Kehadiran personel dinilai penting untuk mengatur lalu lintas sekaligus melakukan pengawasan terhadap aktivitas pengisian BBM bersubsidi.
“Kalau perlu tempatkan personel di SPBU yang antreannya panjang. Selain mengatur lalu lintas, polisi bisa melihat langsung kalau ada kendaraan yang diduga melakukan pengisian berulang,” harapnya.
Pasokan Solar Dinilai Perlu Ditambah
Aktivitas pengisian BBMdi SPBU Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) saat ini terpantau relatif berjalan normal. Meski demikian, kebutuhan BBM masyarakat tetap berjalan, terutama untuk kendaraan pribadi, nelayan lokal, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), kelompok tani, serta berbagai keperluan lainnya.
Direktur Pengembangan SPRH (Perseroda) Rohil, Yusuf Mudji Sutrisno ST, mengatakan ketersediaan BBM di SPBU Bagansiapiapi saat ini berada di kisaran 16 kiloliter (kl) per hari. Jumlah tersebut mencakup berbagai jenis BBM yang disalurkan kepada masyarakat.
Baca Juga: Toyota Space Kembali Hadir di Riau, Rasakan Langsung Inovasi Teknologi Hybrid EV
Menurutnya, seiring dengan kebutuhan masyarakat yang terus berjalan, pasokan solar dinilai perlu mendapatkan perhatian dan penambahan agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. “Kalau untuk kebutuhan solar subsidi, memang perlu ada penambahan seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat,” ujar Yusuf, Ahad (20/9).
Sementara itu, untuk BBM jenis nonsubsidi, Yusuf menyebutkan belum terlihat adanya lonjakan permintaan yang signifikan. Kondisi permintaan masih relatif normal dan belum menunjukkan peningkatan seperti yang terjadi pada kebutuhan solar.
Dengan kondisi tersebut, pengelolaan pasokan BBM di SPBU Bagansiapiapi diharapkan dapat terus disesuaikan dengan pola kebutuhan masyarakat. “Penambahan pasokan, khususnya solar, dinilai penting untuk menjaga kelancaran aktivitas transportasi, perikanan dan usaha masyarakat di wilayah Bagansiapiapi dan sekitarnya,” katanya.
Baca Juga: Weekend Ini, Yuk Habiskan Waktu Bersama Orang-Orang Tersayang di Living World Pekanbaru
Saat ini terangnya, aktivitas pengisian di SPBU masih berlangsung normal. Masyarakat dapat memperoleh BBM sesuai dengan jenis dan ketentuan penyaluran yang berlaku. Terkait dengan pengajuan penambahan kuota terangnya saat ini pihaknya masih menunggu disetujuinya permintaan terkait dengan pengajuan tersebut.
Antrean di SPBU Kaharuddin Nasution Ujung Mulai Berkurang
Antrean kendaraan untuk mendapatkan solar di SPBU Jalan Kaharuddin Nasution ujung, Pekanbaru masih terjadi Ahad (20/9). Namun, antrean terlihat tidak separah kondisi pada awal pekan lalu.
Pantauan di lokasi, sejumlah kendaraan seperti minibus dan kendaraan pribadi masih terlihat mengantre untuk mendapatkan solar. Meski demikian, panjang antrean tidak sampai memadati badan jalan seperti beberapa hari sebelumnya.
Baca Juga: Pemprov-Kanwil DJP Perkuat Sinergi Optimalisasi Penerimaan Pajak
Salah seorang pengendara, Toni, mengatakan kondisi antrean saat ini masih tergolong normal. Menurutnya, pelayanan penyaluran solar juga sudah dibuka sejak siang. “Antreannya biasa saja seperti ini, tidak terlalu panjang. Petugas juga sudah membukanya sejak siang. Kata petugas, solar masih ada,” kata Toni didampingi Erik, Ahad (20/9).
Hal senada disampaikan petugas SPBU Khaharudin Nasution Rani. Ia menyebut antrean kendaraan saat ini sudah lebih pendek dibandingkan beberapa hari sebelumnya. “Antrean tidak sepanjang beberapa hari lalu. Solar masih tersedia,” ujar Rani.
Sementara itu, kondisi berbeda terlihat di SPBU Jalan Soekarno Hatta ujung. Berdasarkan pantauan di lokasi, tidak terlihat antrean panjang kendaraan yang hendak membeli solar. Pengendara minibus maupun kendaraan pribadi yang mengisi solar tampak dapat melakukan pengisian dengan lancar tanpa harus mengantre panjang.
Baca Juga: Lampaui Target, Realisasi PSR Capai 7.244 Ha
Salah seorang pengendara menyebutkan antrean di SPBU merupakan hal yang biasa selama ketersediaan solar tetap terjaga. “Antrean biasa saja kalau di SPBU. Yang penting solar masih ada,” katanya.
Di Kuantan Singingi (Kuansing) antrean kendaraan terlihat berkurang dari biasanya. Terutama kendaraan yang mengisi bahan bakar pertalite. Di SPBU Sungai Jering, kendaraan yang ingin mengisi pertalite terlihat hanya sampai di depan Alfamart.
Sedangkan kendaraan solar sedikit panjang hingga ke tanjakan depan Toko Sembako Damai Sungai Jering. “Kebetulan mengisi pertalite, cuma sekitar 30 menit lah sudah dapat giliran. Kalau minggu lalu, antrean agak panjang sampai satu jam,” ungkap Iwan warga Simpang Tiga Telukkuantan usai mengisi BBM.
Baca Juga: B50 Pangkas Ketergantungan Impor BBM
Diakui bagian administrasi SPBU Sungai Jering Mega Wahyuna, kondisi ini dipengaruhi pasokan BBM yang masuk berjalan normal dan sesuai kuota. “Iya, antrean sudah jauh berkurang. Dan tiga hari ini, pasokan BBM yang masuk normal. Tidak ada kendala,” ujarnya.(end/azr/epp/fad/ilo/dac)
Editor : Arif Oktafian