Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Mengenal Tradisi Pacu Jalur di Kuantan Singingi: Wujud Kekompakan Tegakkan Marwah Negeri

Juprison • Senin, 8 Juli 2024 | 15:43 WIB

 

Timbo ruang jalur Rajo Bujang memberi komando dan arahan kepada pemacunya usai berpacu saat mendengar keputusan dewan hakim di Tepian Rajo Pangean.
Timbo ruang jalur Rajo Bujang memberi komando dan arahan kepada pemacunya usai berpacu saat mendengar keputusan dewan hakim di Tepian Rajo Pangean.

Pacu jalur. Salah satu tradisi masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) Riau yang diwarisi turun-temurun ratusan tahun silam. Merupakan cerminan kehidupan sosial kemasyarakatan yang masih lestari hingga sekarang. Lantas, apa itu pacu jalur?

Laporan: JUPRISON, Telukkuantan

NAAAAAH. Arahkan pandangan Anda ke hulu pancang awal. Diangkat sudah bendera merah. Melambai-lambai. Ini pertanda dipanggil sudah dua jalur hilir kedua putaran kedua hari final antara jalur Siposan Rimbo dari Pauh Angit Pangean berhadapan dengan Rajo Bujang dari Padang Tanggung Pangean. Sama-sama dari Kecamatan Pangean. Berlaga ayam sekandang. Siapakah yang akan pulang kandang lebih awal?

Demikian penggalan ungkapan reporter pacu jalur, Darwis pada Festival Pacu Jalur Kabupaten Kuantan Singingi di Tepian Rajo Pangean, Kuansing, di hari final Senin (10/6/2024) siang.

Tuuuuum. Begitu bunyi dentuman cagak meriam (alat pengeras suara saat melepas jalur) mengiringi sahnya dua jalur berpacu di sisi kiri dan kanan Sungai Kuantan. Yang diawali dengan dijatuhkannya bendera ke tanah. Setelah mendapat persetujuan kedua perwakilan jalur yang mendapat giliran berpacu saling berlawanan.

 Baca Juga: Kemenkumham Riau Deportasi 27 WNA, Terbitkan 77 Ribuan Pasor Sepanjang 2024

Sorak-sorai pun bergemuruh mengiringi hilir dua jalur antara Siposan Rimbo yang berada di jalan sebekah kiri atau kawasan tebing berhadapan dengan Rajo Bujang berada di sebelah kanan atau pulau. Kedua pemacu mendayung sekuat tenaga untuk menjadi yang tercepat di arena yang panjangnya sekitar 1,000 meter atau 1 kilometer di Tepian Rajo ini. Mulai dari start, pancang 2, 3, 4, 5 dan finis. 

Saling manjujuik (saling ambil alih kemenangan). Istilah dalam pacu jalur. Pancakan air dayungan berterbangan ke udara. Hiruk pikuk di tebing menggema. Apalagi hilir mempertemukan dua jalur unggulan milik tuan rumah, yang mempertemukan jalur Rajo Bujang dari Padang Tanggung berpacu dengan Siposan Rimbo dari Pauh Angit Pangean.

Ribuan pasang mata nyaris tak berkedip menyaksikan hilir bak final di hari ketiga putaran kedua di Tepian Rajo Pangean itu. Dayungan mereka terlihat tak mengendur. Karena tak ingin kalah. Memasuki pancang 2 dan 3, tampak haluan jalur Rajo Bujang mendahului haluan jalur Siposan Rimbo.

Tidak mudah bagi masyarakat Kampung Baru Sentajo, Sentajo Raya, untuk mendapatkan pohon besar dengan panjang 30 hingga 35 meter. Beruntung mereka, ada Hutan Lindung Sentajo yang masih terjaga, yang masih menyimpan aneka ragam pepohonan tua lagi besar yang masih terperlihara hingga sekarang. 

Di hutan inilah bermula. Mereka hanya menempuh perjalanan sekitar 7 kilometer perjalanan dari kampung menuju hutan itu. Mencari kayu terbaik. Didapatilah kayu jenis Meranti.

Sudah 5 generasi jalur dibuat masyarakat Kampung Baru Sentajo. Dengan nama jalur Pangeran Keramat Tangan Biso. Karena jalur lama yang dibuat tahun 2014 lalu tak bisa bersaing lagi, maka atas musyawarah dan keinginan masyarakat, Desa Kampung Baru Sentajo sepakat untuk kembali membuat jalur baru.

Sekitar pukul 15.00 WIB, Jumat (7/6/2024), kami tiba di lokasi pembuatan jalur, Desa Kampung Baru Sentajo Raya, yang jaraknya hanya kisaran 15 kilometer dari kota Telukkuantan, ibukota Kabupaten Kuansing. Kami disambut tetua, tetua kampung. Kami disuguhi makanan khas Kuansing. Konji. Adonan tepung yang dituangkan santan.

Sambil duduk bersila. Kami mendengar satu persatu penyampaian dari unsur masyarakat Kampung Baru. Seru. Kami saling akrab. Saling gurau dan ketawa-ketiwi. Satu per satu mereka bercerita tentang pembuatan jalur baru milik masyarakat setempat.

"Memasuki 1,5 bulan saya menjadi Pj (Penjabat) Kepala Desa (Kades), setiap hari pemuda datang ke rumah. Mereka menanyakan kapan membuat jalur baru. Melihat antusiasme pemuda, saya kumpulkan semua elemen. Kami rapat. Bermusyawarah. Sepakat untuk membuat jalur baru. Karena untuk memperbaiki jalur lama mahal," kata Masuri, Pj Kepala Desa Kampung Baru saat itu.

Sepakat membuat jalur. Ada warganya menemukan pohon besar yang dinilai layak dibuat jalur. Lalu, diutus orang untuk meninjau kondisi kayu di Hutan Lindung Sentajo. Didapatilah kayu jenis Meranti dengan panjang sekitar 34 meter. Diameter 1 meter. Dengan target isian jalur 53 hingga 55 pemacu.

"Awalnya ada masyarakat menemukan 2 kayu jalur di Hutan Lindung. Kami perintahkanlah. Dipilih kayu Meranti Bungo dan kayu Marsawa. Jadi, putuskanlah ambil kayu Meranti," ungkapnya.

Sebelum ditebang. Karena ini adalah Hutan Lindung yang pengelolaannya juga melibatkan pemangku adat Sentajo, maka diuruslah dokumen yang diperlukan. Kayu pun siap untuk ditebang.

"Tak bisa juga sembarang tebang, meski ini berada di Sentajo. Tapi karena ini hutan lindung yang juga termasuk hutan larangan, tentu kami siapkan syarat-syaratanya. Baru bisa kami tebang," kata Samsuri, Ketua Jalur Pangeran Keramat Tangan Biso Desa Kampung Baru Sentajo Raya.

Kayu pun siap ditebang. Tiba di bawah pohon yang akan ditumbang. Sesajian pun disiapkan lengkap bersama seekor ayam jantan yang disembelih di bawah pohon yang memang dianggap punya 'mambang' (mahluk gaib penunggu pohon).

Sebelum pohon besar yang diyakini berusia puluhan tahun itu tumbang, mereka berdo'a bersama. Dipandu oleh salah seorang alim yang memang harus ada dalam setiap penumbangan kayu jalur. Doa pun dibaca. Puja-puji, ampunan dan permohonan izin untuk menumbang kayu pun dipinta kepada Sang Khalik.Baca Juga: PT PHR Serahkan Sentra UMKM Bangkinang Riverside

Braak, brakk, brakk. Begitulah suara yang terdengar saat pohon besar ditumbang di tengah hutan belantara. Pohon-pohon kecil pun ikut bertumbangan bersamanya. Pohon yang berusia ratusan tahun itu jatuh berdentum ke tanah. Kalimat allahuakbar pun berkumandang. Itu pertanda memuji kebesaran Sang Pencipta yang memiliki alam beserta isinya.

Laut sakti, rimbo batuah. Ini pepatah yang diyakini sampai sekarang. Pada saat pohon mulai ditumbang, biasanya kejadian aneh pun terlihat dan dirasakan masyarakat. Angin kencang memutari di setiap ujung dahan pohon yang menjulang tinggi mencakar langit. Sekitar 30 menit, pohon itu akhirnya berhasil ditumbangkan.

"Alhamdulillah, kayu ini tidak berlubang. Kayunya panjang dan besar pula," kata Samsuri.

Kayu jalur sudah ditumbang. Mereka pun kembali ke kampung halaman untuk bersiap-siap membawa kayu itu ke tengah-tengah masyarakat untuk dibuat menjadi sebuah jalur yang bisa menorehkan prestasi di setiap event. Kayu jalur siap dibopong ke kampung dengan melibatkan banyak warga.

Usai kayu ditebang, masyarakat berbondong-bondong menarik kayu dari hutan. Dielo. Ditarik dengan alat berat. Satu hari ditarik, kayu pun tiba di kampung halaman.

Sekitar 7 kilometer perjalanan, kayu jalur itu pun berhasil dibawa ke desa yang diiringi ribuan masyarakat sambil disambut rarak dan calempong. Kayu itu kini siap dibuat menjadi sebuah jalur yang bisa mempertahankan marwah masyarakat di setiap event.

Ya. Dahulu, untuk menarik kayu jalur dilakukan oleh pria dan wanita, sehingga terlihat kekompakkan di antara warga di desa tersebut. Kaum ibu pada waktu itu menyediakan makanan, dan kaum lelaki menarik kayu jalur. Namun seiring kemajuan zaman, hanya kaum lelaki yang menarik kayu jalur itu.

Prosesi pembuatan jalur butuh waktu yang cukup lama. Kayu yang panjangnya 18 depa orang dewasa atau sekitar 34 meter itu diserahkan kepada sang tukang yang dipilih dari hasil musyawarah desa. Perlu waktu sekitar satu hingga dua bulan bagi Khairun (60), sang tukang untuk bisa membuat sebuah jalur yang siap untuk dipacukan.

"Kalau lama membuat jalur ini tergantung jenis kayunya. Kalau ini Meranti. In sya Allah selesai satu hingga dua bulan," ujar Khairun.

Jalur akhirnya dilayur. Jalur pun dihias. Jalur itu pun siap dipacukan di setiap gelanggang. Begitulah prosesi pembuatan jalur yang dilakukan masyarakat di Kabupaten Kuansing. 

 

Dukun Ikut Turun Tangan

Sebelum jalur dipacukan di Sungai Kuantan, jalur yang terbuat dari kayu besar dan panjang yang berusia puluhan tahun itu terlebih dahulu diinang (dipelihara secara ghaib). Konon, karena kayu yang berusia puluhan tahun ini diyakini masyarakat Kuansing terdapat mambang.

Ketika kayu tersebut sudah menjadi sebuah jalur yang diukir dengan indah dan penuh nuansa seni khas tradisional Kuansing dengan panjang mencapai 30 hingga 35 meter, maka masyarakat akan menempatkannya di rumah jalur yang panjangnya melebihi dari panjang jalur tersebut.

 

Di rumah jalur tersebut, jalur yang tadinya siap untuk dipacukan terlebih dahulu disemayamkan menjelang dihelatnya event pacu jalur tradisional. Baik pada ajang uji coba, pacu jalur rayon maupun tingkat nasional.

Biasanya, tiga hari menjelang jalur turun ke sungai, masyarakat menunjuk beberapa orang dukun yang sejalan untuk mengobati jalur sebelum turun ke sungai. Di sinilah sang dukun ikut turun tangan. Berbagai macam obat (limau, arai pinang, kunik bolai, dan bahan ramuan lainnya) disiram dan dipasangkan di tubuh jalur lengkap dengan jampi-jampinya oleh sang dukun.

Setelah itu, dukun melalui pengurus jalur tidak memperbolehkan siapa pun untuk menyentuh jalur sebelum turun ke sungai, karena jalur telah diinang atau melalui penjagaan secara ghaib. Seperti yang diyakini masyarakat Linggar Jati Pulau Kumpai Pangean. Jalur yang punya penunggu secara ghaib ini akan menyatu dengan jalur dan memberi kekuatan (atas izin Allah SWT) tersendiri bagi masyarakat dan para atlet dalam berpacu.

Jalur telah diinang (dipelihara secara ghaib) selama tiga hari, dukun pun akan bekerja untuk menentukan kapan saatnya jalur turun ke sungai. Ya, tujuannya, agar pada saat berpacu jalur ini bisa diharapkan mendapat lawan yang ringan atau lawan yang sepadan.

Tradisi pacu jalur ini sangat kental dengan nuansa adat-istiadat serta menampilkan banyak prosesi ritual yang mengandung unsur magis, mulai dari rencana membuat jalur sampai jalur dipacukan ke gelanggang, semuanya tidak terlepas dari unsur magis.

Pacu jalur ini menjadi unik, karena kekuatan dan keserasian dari para anak pacu dalam mengayuh tidak menjamin menentukan akan meraih kemenangan dalam berlomba. Karena diyakini pula, faktor peranan sang dukun jalur juga mempengaruhi hasil pacu.Baca Juga: Mudah Lelah dan Cepat Mengantuk? Jangan Anggap Sepele, Bisa Jadi Gejala Penyakit Ini

Hal ini disebabkan, kayu yang telah berusia ratusan tahun itu memiliki mambang. Tentu sang dukun itulah yang mengetahui bagaimana cara untuk menaklukan kayu besar tersebut bisa dijadikan jalur. Setelah menjadi sebuah jalur, masyarakat yang dibantu sang dukun berkeyakinan kalau kayu itu tetap hidup secara gaib.

Sang dukun paham betul bagaimana jalur itu bisa kencang atas pertolongan Tuhan melalui perantara sang dukun. Dan itu pula sebabnya segala prosesi yang berkaitan dengan jalur itu mulai dari mencari, membuat, dan melepas jalur ke gelanggang pacuan di Sungai Kuantan tidak terlepas dari peranan sang dukun. Terkadang, dalam satu jalur itu ada tiga sampai enam orang pawang jalur atau dukun.

"Kami memohon kepada Allah SWT, bahwa ada mahluk secara ghaib yang menunggu jalur ini. Karena kami meyakini, bahwa jalur yang berasal dari kayu besar dan panjang yang berdiri di hutan belantara ini sejak ratusan tahun lalu itu ada penunggunya," ungkap Ketua Jalur Linggar Jati Pulau Kumpai Pangean Marliyus, terpisah di Pangean.

 

Potensi Tingkatkan Ekonomi

Pelaksanaan festival pacu jalur di setiap kecamatan setiap bulannya pada tahun 2024 di Kabupaten Kuantan Singingi diyakini Bupati Kuansing Dr H Suhardiman Amby MM berpotensi meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

"Ini bisa meningkatkan ekonomi masyarakat di kecamatan masing-masing," kata Suhardiman pada pidatonya pada setiap pembukaan pacu jalur di Kuansing.

Pasalnya, setiap pelaksanaan pacu yang dilaksanakan di setiap kecamatan, menurutnya, warga setempat bisa memanfaatkannya untuk berjualan apa saja. Kuliner dan kerajinan tangan warga di setiap kecamatan.

 

"Kalau itu dimanfaatkan untuk jualan. Ini ada potensi ekonominya. Bisa menambah pendapatan ekonomi warga di kecamatan," katanya.

Selama pelaksanaan pacu di Tepian Rajo Pangean, selama 3 hari, 8 hingga 10 Juni 2024 lalu, warga berjejer berjualan. Mayoritas mereka berjualan makanan dan minuman berupa mi rebus, mi goreng, sate, bakso, soto, lontong, gorengan, aneka kue, dan berbagai jenis minuman.

Bahkan festival pacu jalur ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat dari daerah tetangga, seperti dari Sumbar, Sumut, Jambi, dan daerah lainnya. Mereka menjajal dagangannya seperti pakaian, salak, sanjai, dan permainan anak lainnya.

"Alhamdulillah. Dapat reski sedikit," kata Ajut (57), seorang ibu penjajal aneka makanan di sekitaran arena finis.

Begitu pula yang diutarakan Rini (29), ibu 2 anak ini menjajal anek kue. Ia mensyukuri, hasil jualannya selama pelaksanaan pacu bisa membantu ekonomi rumah tangganya.

"Alhamdulillah. Dapat pembeli makan anak," ungkapnya usai pacu, kemarin.

Namun kondisi berbeda dialami warga yang hanya jadi penonton pacu. Okta (26), warga Pangean lainnya mengakui, kalau pacu setiap bulannya menguras keuangan keluarga.

Setiap bulan. Setiap minggu pacu. Mana kuat duit. Tabungan yang ada bisa habis," ungkapnya, terpisah.

Asal Pacu Jalur

Hakekat dari pembuatan jalur menurut Pemuka Masyarakat Pangean, Kardius (70), pada dasarnya untuk melestarikan kegiatan gotong-royong dansilahturahmi yang mencerminkan kehidupan sosial  kemasyarakatan di Kuantan Singingi sejak ratusan tahun silam. Tanpa kebersamaan, masyarakat tidak akan bisa membuat sebuah jalur. Apalagi jalur adalah marwah bagi masyarakat adat yang harus terus dipertahankan di tengah ancaman kepunahan.

Kenapa ada pacu jalur. Riau Pos mencoba menemukan sejarah pacu jalur ini dari sosok yang pernah menjadi pengamat sekaligus reporter pacu di era 1990 hingga 2000-an, Kardius.

Dijelaskan Kardius, pacu jalur bermula pada saat masyarakat pergi menuai padi untuk mengangkut hasil panen padi mereka dengan menggunakan perahu. Mereka pada waktu itu menyeberangi Sungai Kuantan konvoi dan beriringan untuk pulang ke rumah masing-masing sambil membawa hasil panen padi mereka. Dengan beriringan, mereka dengan gembiranya saling berpacu di sungai kuantan tersebut.

Kondisi ini terus terjadi hingga masyarakat mulai berfikir bagaimana untuk mengembangkannya. Sehingga masyarakat pada waktu itu berinisiatif untuk menambah muatan perahu. Nah, pada perjalanannya, masyarakat berhasil membuat perahu panjang dan besar dengan muatan yang lebih banyak. Dan mereka secara bersama-sama mengisi perahu tersebut untuk mengangkut hasil panen padi mereka tersebut.

Seiring dengan perkembangannya pula, selesai masyarakat melaksanakan panen raya, mereka berinisiatif untuk melaksanakan lomba alias pacu, yang diikuti seluruh perahu yang ada di wilayah tersebut, yang tujuannya hanya ingin untuk merajut silaturrahim antar sesama masyarakat.

Setelah itu, bebernya, pacu yang menggunakan perahu panjang ini terus mengalami perkembangan dan kemajuan. Pada masa penjajahan Belanda mulai dinamakan pacu jalur, sehingga untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina Belanda, digelarlah lomba pacu jalur dengan hadiahnya berupa kue, dan sejenis makanan tradisional lainnya.

"Itu sejarah yang kami terima soal kenapa pacu jalur ada di Kuansing," katanya kepada Riau Pos di sela pelaksanaan pacu jalur di Pangean, kemarin.

Jalur itu simbol persatuan di kampung. Di jalur, ada 5 komponen yang merupakan cerminan kehidupan sosial masyarakat di kampung. Pertama, ada disebut tukang onjai (tukang tari berdiri di bagian belakang. Tukang onjai berpegang ke salimbayuang (tempat berpegang yang diukir dan dihias). Filosofinya, tukang onjai ini adalah orang yang memahami adat dan agama. Tukang tunjuak ajar pangulu nen ompek suku tadi.

Kedua, tukang minggang atau juru kemudi. Ini cerminan pangulu 4 suku yang ditunjuak ajar oleh tukang onjai. Seperti memberitahu, kalau negeri sedang ada gangguan sosial dan keamanan, dan lain sebagainya.

Ketiga, tukang kayuah atau pemacu. Filosofinya tukang kayuah ini adalah masyarakat. Keempat, ada timbo ruang. Sosok yang berdiri tegap di tengah. Memberi komando kepada pemacu.

"Timbo ruang ini kalau dibawa ke desa, adalah kepala desa atau Pak Wali yang memimpin masyarakat di desa," sebut Mulbastoni (59), pengamat pacu jalur di Kuansing.

Kelima, ada togak haluan. Anak kecil yang duduk berdiri di atas haluan jalur. Maknanya, togak haluan ini adalah anak-anak yang merupakan keceriaan dan kemakmuran di desa.

"Dia menari-nari kalau jalurnya menang. Ini maksudnya, di kampungnya aman sentosa. Masyarakatnya kompak. Tanaman subur. Ini adalah simbol kegembiraan di desa," ungkapnya lagi.

Lalu, jalur yang dipacukan itu diberi motif warna-warni. Menurutnya, ada banyak ragam namun bersatu di jalur.

"Jalur ini adalah simbol. Warna-warni di desa, namun tetap satu perahu. Tetap sekampung. Itu maknanya," ungkap Mulbastoni menceritakan.

Ancaman Menanti

Ya, pacu jalur merupakan tradisi yang tumbuh dan berkembang turun-temurun di tengah masyarakat Kabupaten Kuansing sejak ratusan tahun silam.

Kini, pacu jalur yang telah menjadi salah satu aset budaya nasional yang diharapkan tetap eksis sepanjang masa. Eksistensi budaya pacu jalur ini tergantung dengan ketersediaan kayu di hutan-hutan yang ada di negeri ini.

Sejalan dengan punahnya hutan, hal itu merupakan sebuah tantangan pelik menghadang dalam upaya pelestarian pacu jalur di masa-masa mendatang. Salah satu tantangannya adalah semakin sulitnya mencari bahan baku jalur. Yakni kayu-kayu besar dengan panjang 20 sampai 35 meter yang berdiameter minimal 1 meter lebih.

"Pemerintah harus bersikap tegas, dan mulai melakukan upaya untuk menyelamatkan pacu jalur ini dengan cara menanam pohon-pohon yang bisa dibuat jalur," sarannya.

Sekarang, saran Mardianto, pemerintah harus melakukan penyelamatan terhadap pacu jalur. Ya, caranya harus dimulainya penanaman kayu-kayu jalur di tingkat desa.

"Tapi masyarakat harus menjaganya," katanya.

Selain pemerintah, perusahaan perkebuan ataupun perusahaan yang menggarap hutan di Kuansing juga harus ikut bertanggungjawab secara moral terhadap budaya ini. Karena masyarakat Kuansing tidak mungkin akan kehabisan kayu untuk membuat jalur jika hutan Kuansing tidak ditebang untuk usaha perkebunan.

"Kalau kayu jalur tidak bisa lagi kita dapatkan, tentu jalur nantinya akan dibuat dari plastik," katanya.

Kendati pacu jalur ini adalah tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Kuansing, namun budaya ini, kata Mardianto, merupakan aset nasional yang harus dijaga dan dipertahankan oleh semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, mulai dari kabupaten, provinsi hingga pusat.

"Kondisi ini harus jadi perhatian bagi semua elemen di Kuansing, dan juga di tingkat provinsi. Karena tradisi ini juga aset Riau. Harus dicarikan solusi jangka panjang kalau kita tak ingin pacu jalur tidak punah," katanya disela pembukaan pacu jalur di Pangean, Juni lalu.***

Editor : RP Edwar Yaman
#negeri #kuantan singingi #marwah #Tradisi Pacu Jalur #pacu jalur