Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

121 Tahun Pacu Jalur Kuantan Singingi: Menjaga Tradisi, ‘Mengayuah’ Cita-Cita

Desriandi Candra • Rabu, 10 Juli 2024 | 07:05 WIB

 

Orang Tua Jalur Rajo Bujang Desa Padang Tanggung Pangean sesaat saat sebelum melepas Jalur dalam perpacuan di Arena Tepian Rajo beberapa waktu lalu.
Orang Tua Jalur Rajo Bujang Desa Padang Tanggung Pangean sesaat saat sebelum melepas Jalur dalam perpacuan di Arena Tepian Rajo beberapa waktu lalu.

Tradisi pacu jalur di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) sudah berusia 121 tahun. Kini Pemkab Kuansing punya cita-cita dan mimpi menjadikan olahraga tradisional masyarakat ini menjadi salah satu event yang menarik wisatawan mancanegara.

Laporan: DESRIANDI CANDRA, Telukkuantan

RIBUAN masyarakat terlihat berjejal dan memadati arena perpacuan jalur di Tepian Rajo, Kecamatan Pangean, Kuansing, Senin ((10/6/2024) siang itu. Terik sinar matahari yang seperti memanggang, tak dihiraukan oleh mereka yang memadati kawasan Sungai Kuantan sepanjang sekitar 1 kilometer tersebut.

Mereka nampak duduk di tribun-tribun kayu dengan atap terpal biru. Di antara mereka ada yang terpaksa harus duduk di pinggiran tebing dan ada yang berlindung di bawah pohon, juga warung-warung jajanan makanan di sepanjang arena. Bahkan ada yang rela basah-basahan di dalam sungai. Mereka bersorak-sorai memberikan dukungan saat jalur asal desa mereka beraksi di arena pacu. 

Mereka tengah menyaksikan jalannya perpacuan jalur. Hari itu adalah hari ketiga jalannya pacu jalur di Kecamatan Pangean yang menjadi tuan rumah perpacuan. Ada 104 jalur yang berlaga pada tahun ini di arena Tepian Rajo. Mereka ada yang datang dari Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), juga jalur-jalur dari beberapa kecamatan tetangga di Kuasing. 

Semua mata tertuju ke Sungai Kuantan. Dua buah jalur yang dihiasi dengan cat yang diukir dengan model yang khas dan menarik, terlihat membelah Sungai Kuantan. Keduanya berusaha menjadi yang tercepat. Di atas jalur yang tengah bertanding itu, terlihat si tukang tari (anak coki red) dengan kostum yang khas dari salah satu jalur menari-nari. Atraksi dari si tukang tari itu sebagai pertanda kalau jalur mereka berhasil mendahului lawan.

Di bagian tengah jalur, terlihat seorang laki-laki yang berdiri diantara anak pacuan. Dia disebut tukang timbo ruang. Sambil meniupkan pluit dari mulutnya, tangannya memberikan aba-aba pada anak pacuan. Menambah kecepatan jalur agar bisa mengejar maupun meninggalkan jalur lain yang menjadi lawan tanding.  Si tukang timbo ruang pun sesekali terlihat membuang air yang masuk ke dalam jalur dan memukul pelepah pinang tua yang dibawa. Baca Juga: Doyan Makan Pedas, 60 Persen Generasi Milenial dan Gen Z Mengalami Gejala Gangguan Lambung

Sementara di bagian belakang jalur, juga berdiri tegak seorang laki-laki dewasa. Sambil memegang selembayung jalur (ekor jalur red), laki-laki itu memberikan aba-aba arah jalur yang dipacukan agar tidak melenceng. Begitulah pemandangan yang terlihat tak kala perpacuan jalur digelar di Kuantan Singingi.

Di tengah hingar-bingar suara penonton yang bersorak-sorai itu, pada tambatan kajang Jalur Rajo Bujang, Desa Padang Tanggung, Pangean --persis di pancang keempat seberang Sungai Kuantan-- terlihat seorang laki-laki  lanjut usia berada di luan jalur (ujung jalur bagian depan).  Dia rela berendam di sungai, tempat tambatan jalur Rajo Bujang. Tak seorang pun anak pacuan berada di atas jalur. Semuanya masih berada di dalam tenda peristirahatan. Menunggu aba-aba dari orang tua itu. 

Sosok laki-laki itu adalah Aprijamilis alias Naro. Dia adalah salah seorang Tua Jalur atau pawang Jalur Rajo Bujang yang dipercayai masyarakat Desa Padang Tanggung. Tangan Naro terlihat mengusap-usap ujung kepala jalur. Sesekali dia pindah ke kiri dan kanan, lalu tegak di bagian depan. Sesekali dia pun berendam di depan jalur dan berdiri. Mulut Naro terlihat membacakan sesuatu. Walau tidak terdengar apa yang dibacakannya, tetapi mulutnya terlihat jelas bergerak-gerak komat-kamit seperti membaca membaca doa atau mantra.Baca Juga: Bawaslu Kampar Ingatkan Pengawasan di Lapangan Harus Cermat Coklit di Perbatasan Kampar-Pekanbaru

Setelah itu Naro terlihat menyirami jalur dengan air. Lalu dia melambaikan tangan ke Amun yang berada tak jauh dari tenda. Amun adalah Ketua Jalur Rajo Bujang. Amun menyampaikan aba-aba dari sang pawang kalau jalur Rajo Bujang sudah bisa di isi anak pacuan. Si tukang tari atau anak coki, adalah orang pertama mengisi jalur. Lalu diikuti tukang timbo ruang yang berada di tengah dan tukang onjai yang berada di bagian paling belakang jalur. Setelah ketiganya naik ke atas jalur, barulah semua anak pacuan naik ke dalam jalur sesuai tempatnya masing-masing yang sudah diatur. 

Setelah semua anak pacuan naik ke dalam jalur, mereka tidak langsung memacukan jalurnya menuju pancang start untuk menunggu panggilan perpacuan, tapi menunggu aba-aba sang pawang. Seluruh pendayung jalur menengadahkan wajah ke langit. Setelah dirasa siap, Naro memberikan aba-aba pada seluruh anak pacuan untuk meluncurkan  jalur kebanggaan mereka itu ke pancang start. Masyarakat desa yang berada di tambatan kajang dan pinggiran sungai, langsung bersorak-sorai memberikan dukungan agar jalur kebanggaan mereka memenangkan perlombaan.

Apa yang dilakukan Naro adalah  bagian dari ritual singkat saat perpacuan. Ritual itu selalu dilakukan Naro saat akan berpacu. Baik ketika Jalur Rajo Bujang berhadapan dengan Jalur Siposan Rimbo --rekan sekecamatannya yang pernah empat kali juara iven nasional dan digelari Sang Jendral— maupun ketika di partai final melawan jalur baru Juragan Kuantan Kecamatan Gunung Toar. Laga sengit itu akhirnya dimenangkan Jalur Rajo Bujang. Kemenangan itu membuat jalur Rajo Bujang berhasil mempertahankan gelar juaranya secara beruntun di Tepian Rajo Pangean.Baca Juga: Membiarkan Kamar Selalu Berantakan, Ternyata Ada Hubungannya dengan Kesehatan Mental"Ini memang tugas saya sebelum jalur dipacukan, Nak," kata Naro yang ditemui Riau Pos di tambatan kajang jalur Rajo Bujang. 

Raut muka Naro, tampak sedikit memerah karena cuaca yang cukup panas ketika berbincang di Tepian Rajo. Naro rupanya sudah dipercaya masyarakat Desa Padang Tanggung sebagai seorang Tua Jalur atau pawang jalur sejak awal Jalur Rajo Bujang dibuat, yakni tahun 2005, atau sekitar 19 tahun lalu. Selama itu, dia hampir tidak pernah absen bersama Rajo Bujang dalam setiap gelanggang perpacuan. Baik di rayon kecamatan maupun iven nasional. 

Naro pun bercerita bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa, agar langkah jalur Rajo Bujang dan anak pacuan, dimudahkan, dilapangkan, dan jauh dari gangguan yang tidak diinginkan dalam perpacuan. 

"Kami hanya minta itu pada Yang Maha Kuasa. Bagaimanapun, kita harus waspada dari setiap segala kemungkinan yang terjadi," ujarnya.

Di Desa Padang Tanggung, ia diberi tugas sebagai orang tua di jalur atau pawang jalur. Perannya, mulai pencarian banan (kayu jalur) di hutan, penebangan, pembuatan, hingga perpacuan di arena-arena perpacuan jalur yang diikuti. Sebelum penebangan kayu jalur di hutan belantara, biasanya dia mencari hari baik. Setelah dapat, barulah ke hutan tempat kayu ditemukan. Dia pun membawa beberapa bekal yang dimintanya pada masyarakat desa. Seperti ayam hitam dan lainnya. Sebelum kayu ditebang, dilakukan sedikit ritual memanjatkan doa agar diizinkan dan dimudahkan mengambil kayu jalur yang sudah didapat. Masyarakat Kuansing dari dulu hingga sekarang meyakini, kalau kayu yang akan dibuat jalur dengan usia 100 tahun ke  atas, ada mambang yang menunggunya. Mambang jalur sejenis mahluk halus penunggu kayu jalur yang bila tidak dipindahkan dari kayu yang akan diambil, bisa mendatangkan hal yang tidak baik. Dia pun melihat kondisi jalur. Baik panjang, lebar, dan jenisnya. Baca Juga: Mau Lihat Gelaran GIIAS 2024? Ini Daftar Harga Tiket Masuknya, Paling Murah Dijual Rp50 Ribu

Begitu juga saat akan dimulai untuk proses pembuatan jalur, jalur selesai dibuat, jalur saat turun mandi (turun pertama ke Sungai Kuantan), jalur akan dipacukan, hingga jalur dikandangkan kembali. 

"Perlu diobat (seperti ditepung tawar red) dengan dibarengi memanjatkan doa agar jalur yang dibuat berkah dan meraih kemenangan di setiap perpacuan. Kalau siap diobat, jalur tak boleh disentuh. Apalagi dilangkahi," papar Naro. 

Menurut orang tua jalur dulu, ada saja kejadian aneh yang terjadi saat dua jalur berpacu di Sungai Kuantan. Terkadang ada yang karam sesaat setelah dilepas dari pancang start, jalur tak mau dipacukan di sungai, terasa berat, dan lainnya. Karena itu, ritual yang dilakukan diharapkan dapat menghindari segala rintangan, hambatan yang tak terlihat, dan di lapangkan jalan saat berpacu. 

"Percaya atau tidak, dulu sering terjadi di arena pacuan. Kita perlu waspada dan tetap mengingat Yang Maha Kuasa agar semuanya terhindar," ujar Naro. 

Apa yang dilakukannya, sebuah tradisi yang telah turun-temurun dilakukan para pendahulunya, nenek moyang Kuansing saat tradisi dan budaya pacu jalur dimulai. Padahal, usia pacu jalur terbilang tua. Dikenal sejak tahun 1903 atau 121 tahun silam. Tradisi itu masih tampak terlihat nyata di saat masa perpacuan jalur di Kuansing, meski zaman sudah jauh berubah. Zaman milenial, zaman teknologi tinggi saat ini. Namun masyarakat Kuansing percaya kalau ritual dan peran pawang jalur akan membawa keberuntungan dan jauh dari segala hambatan, rintangan, maupun gangguan. Baik kasat mata maupun tak kasat mata. 

Menurut Ketua Jalur Rajo Bujang, Amun, Naro adalah satu dari beberapa orang tua atau pawang di Jalur Rajo Bujang. "Dari beberapa orang pawang jalur di Jalur Rajo Bujang, Pak Naro yang dituakan untuk ritual di Sungai Kuantan dan beberapa tugas lainnya. Dan kami masyarakat desa menyerahkan pada mereka. Ibarat orang yang didahulukan selangkah dalam jalur," kata Amun. 

Amun pun sama dengan Naro. Dia sudah dipercaya sebagai Ketua Jalur Rajo Bujang sejak dibuat tahun 2005 silam. Kata Amun, membuat jalur bukanlah pekerjaan yang mudah dan ringan. Tetapi tugas berat dari desa. Karena jalur juga menjadi simbol kalau di desa atau kampung itu masih ada laki-laki. Karena itu pembuatan jalur menjadi simbol marwah desa bagi mereka. 

Sebelum jalur dibuat, masyarakat desa melakukan musyawarah. Menanyakan apakah semua masyarakat desa sepakat untuk membuat jalur. Musyawarah desa biasanya dilakukan di balai desa atau rumah godang. Dihadiri kepala desa, ninik mamak, penghulu, kepala desa, para pemuda maupun kaum ibu-ibu. Bila semua sepakat, barulah dibahas soal ke mana akan dicari banan atau kayu jalur, siapa orang tua (pawang jalur) dibawa, dari mana anggarannya, dan beberapa kebutuhan lainnya. 

Setelah ditetapkan itu semua, desa mengirimkan utusan untuk mensurvei atau mencari banan jalur. Mereka yang diutus bukan orang sembarangan. Mereka harus tahu hutan belantara (rimbo) yang akan dituju. Dia juha harus tahu dengan jenis banan jalur yang dibuat, dia meter, dan panjang minimal untuk sebuah jalur tradisional. Setelah banan jalur didapat, utusan desa yang mensurvei pulang untuk membuat laporan.  Masyarakat desa kembali melakukan musyawarah untuk persiapan penebangan kayu jalur dan maelo jalur (menarik jalur) untuk dibawa ke desa. 

Untuk proses penebangan kayu jalur, selain tukang tebang kayu jalur, desa juga mengutus pawang jalur. Pawang jalur akan melakukan ritual penebangan. Ritual itu bertujuan agar dimudahkan dalam proses penebangan dan jauh dari gangguan mahluk gaib di hutan belantara. Dengan memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa, menaburkan beberapa jenis bunga di bawah pohon, pengasapan dan pemotongan ayam hitam yang dibawa dari desa, pawang jalur baru memerintahkan untuk dilakukan penebangan. 

"Langkah-langkah ini diajarkan secara turun-temurun oleh orang tua di desa kami. Kami hanya mengikuti tradisi yang sudah diajarkan. Dan rasanya begitu pula di desa-desa lain di Kuansing yang memiliki jalur," papar Amun. 

Menurut lelaki yang hampir menginjak usia 50 tahun ini, tidak semua kayu bisa dibuat jalur. Tetapi ada jenis tertentu yang bisa dan baik untuk dibuat sebuah jalur. Beberapa jenis di antaranya jenis kayu marsawa, meranti, dan bonio dengan panjang 30-36 meter dan diameter 1,8 meter sampai 2 meter lebih. Jenis kayu dengan panjang dan dia meter seperti itu, tidaklah mudah didapatkan. Biasanya hanya kayu yang berusia 100 tahun ke atas yang memiliki panjang dan di meter kayu sebesar itu. 

Maka, tidak di semua hutan belantara di Kuansing ada. Apalagi di zaman sekarang, hutan belantara sudah banyak yang ditebangi, sehingga pencarian kayu jalur terkadang sampai ke negeri orang. Ke kecamatan tetangga atau bahkan hingga ke kabupaten tetangga di Kuansing.  Seperti Inhu, Pelalawan, dan Kampar. Makanya pencarian kayu jalur hingga berbulan-bulan. 

Jalur Rajo Bujang yang mereka miliki sekarang, misalnya, mereka dapatkan di Hutan Toro di Langgam, Kabupaten Pelalawan. Itu didapatkan setelah utusan desa yang ditunjuk sudah bolak-balik pulang ke desa melaporkan. 

Jenis kayu jalur Rajo Bujang 2005 berjenis kayu meranti dengan panjang  34 meter dan diameter 1,8 meter. Maka jalur Rajo Bujang bisa disi sebanyak 55 orang anak pacuan. Diakui Amun, proses maelo jalur ke desa mereka tidak lagi seperti dulu. Dengan membawa ratusan warga dan menyusun kayu-kayu seperti rel di dalam hutan untuk dilewati kayu jalur hingga ke Sungai Kuantan. Karena kayu jalur yang akan ditarik jauh dari Sungai Kuantan dan desa, untuk memudahkan penarikan dan membawa kayu jalur sampai ke desa, mereka menggunakan alat berat.

"Kalau dielo secara manual, entah berapa bulan baru sampai ke desa. Makanya masyarakat sepakat meminta bantuan alat berat milik perusahaan untuk mengeluarkannya," ungkap Amun menjelaskan. 

Setelah kayu jalur keluar dari hutan, barulah dibawa dengan torado (sejenis truk panjang) ke desa dengan diiringi masyarakat desa. Dan di desa baru mulai di kerjakan, dibentuk menjadi jalur oleh tukang jalur. 

Jalur Rajo Bujang dibuat oleh tangan terampil Mansyur. Dia warga Desa Teluk Pauh, desa induk sebelum Desa Padang Tanggung menjadi desa sendiri. Dibantu beberapa warga desa, akhirnya setelah memakan waktu satu bulan lebih, Jalur Rajo Bujang Siap. Ketika itu Mansyur mendapatkan upah sebesar Rp3.500.000. Dana poses pembuatan Jalur Rajo Bujang 2005, hasil gotong-royong masyarakat desa. Melalui iuran sukarela masyarakat, anak cucu kemenakan yang berada di perantauan, para donatur maupun pemerintahan desa dan pemerintah daerah.

"Kami pun berbangga hati bisa memiliki Jalur Rajo Bujang," kata Amun. 

Selama 19 tahun, Jalur Rajo Bujang sudah banyak mengukir prestasi gemilang di arena perpacuan jalur. Mulai pacu jalur ajang uji coba, pacu jalur tingkat kecamatan, hingga pacu jalur event nasional di Tepian Narosa, Telukkuantan. 

Dalam pacu jalur, pawang jalur berperan manyatukan masyarakat desa, menjaga jalur dari gangguan mistis sekaligus penyemangat anak pacu. Tukang tari memberi pertanda kalau jalurnya menang dan anak kecil sebagai penerus generasi budaya. Timbo ruang berperan sebagai komando dalam jalur. Orang yang disegani dalam jalur. Sementara tukang onjai berperan sebagai penujuk arah jalan, pemberi aba-aba, karana dia yang paling tinggi melihat ke depan untuk arah tujuan jalur.

 

Pemilihan Nama Rajo Bujang

Dalam tradisi pacu jalur Kuansing, nama jalur juga sangat penting. Selain enak didengar, nama jalur biasanya punya arti tersendiri bagi desa. Terkadang, nama-nama jalur yang diberikan berkaitan dengan hutan belantara tempat kayu jalur di dapat, namun ada juga berkaitan dengan desa dan keunikan pada jalur itu sendiri saat ditebang. 

Misalnya Jalur Pendekar Hulu Bukit Tabandang asal Kecamatan Hulu Kuantan berkaitan dengan hutan belantara tempat banan didapat. Jalur Pendekar Hulu Bukit Tabandang mantan juara pacu jalur event nasional Tepian Narosa Telukkuantan itu memang kayunya didapat di hutan Bukit Tabandang. Itu adalah kawasan hutan lindung yang menjadi perbatasan Kuansing dengan Sijunjung, Sumatera Barat. 

Lalu ada nama Jalur Siposan Rimbo Pangean, Singa Ngarai Benai, Singa Kuantan dari Hulu Kuantan, Harimau Paing, dan Siluman Buayo Danau asal Kecamatan Kuantan Tengah, Kalo Jengking Tigo Jumbalang dan Batu Lompatan Harimau Kompe asal Kuantan Mudik, Juragan Kuantan dan Lintah Jalang asal Kecamatan Gunung Toar dan banyak lagi nama-nama jalur yang unik. Namun bagi Desa Padang Tanggung, mereka memilih nama Rajo Bujang sebagai jalur kebanggaan desa mereka.

"Ada kisahnya pemberian nama Jalur Rajo Bujang," kata Amun. Saat itu obrolan ditemani oleh Kepala Desa Padang Tanggung, Tamrin. 

Keduanya pun berkisah. Dulu, papar Amun, pada tahun 1951, jalur Rajo Bujang sudah ada. Ketika itu Desa Padang Tanggung masih berstatus dusun dan di bawah wilayah Desa Teluk Pauh Kecamatan Pangean. Di era itu, Desa Teluk Pauh memiliki dua buah jalur. Jalur Silancar Air dan Jalur Rajo Bujang dari Dusun Padang Tanggung. Lalu Dusun Padang Tanggung dimekarkan menjadi desa. 

Ketua Jalur Rajo Bujang, Amun dan Kepala Desa Padang Tanggung Tamrin saat meninjau Jalur Rajo Bujang di Kandang Jalur.
Ketua Jalur Rajo Bujang, Amun dan Kepala Desa Padang Tanggung Tamrin saat meninjau Jalur Rajo Bujang di Kandang Jalur.

"Ketika dimekarkan menjadi desa, masyarakat desa bermufakat apakah akan membuat jalur baru atau tidak. Ketika masih dusun, lama tidak memiliki jalur. Maka hasil mufakat, disepakati kembali menggunakan nama Jalur Rajo Bujang. Maka dibuatlah Jalur Rajo Bujang di tahun 2005," sambung Tamrin. 

Tamrin pun mengapresiasi nama Rajo Bujang baru 2005 diterima seluruhnya. Masyarakat maupun pemuda terlihat kompak, bergiat, berlatih untuk menjadikan jalur Rajo Bujang mampu mengukir prestasi di arena-arena pacu jalur di Kuansing. 

Bagi masyarakat di Kuansing, jalur adalah simbol dan marwah desa. "Jika jalur desanya menang, desanya dikenal dan disegani. Makanya, semangat kekompakan dan kebersamaan itu harus dijaga jika jalurnya ingin berprestasi," papar Tamrin lagi. 

Dengan semangat kekompakam, kebersamaan dan giat berprestasi, Jalur Rajo Bujang pernah merajai tujuh kali perpacuan jalur di tahun 2007. Menjadi jawara pada pacu jalur tingkat Kecamatan Cerenti, Inuman, dua kali pacu jalur Basrah Kecamatan Kuantan Hilir, dan dua kali pacu jalur Kecamatan Pangean. Juga pernah masuk sepuluh besar pacu jalur event nasional di Tepian Narosa di Telukkuantan. 

"Dan terbaru, pada tahun 2023 dan 2024 menjadi juara pada pacu jalur Kecamatan Pangean," sambung Tamrin semangat. 

Pemerintah desa, menurut Tamrin, selalu memberikan dukungan moril dan materiil. Desa berharap masyarakat Desa Padang Tanggung yang sekarang berpenduduk 500 jiwa, tetap menjaga kekompakan, kebersamaan, agar jalurnya tetap berprestasi dan marwah desa terjaga. 

 

Mansyur si Tukang Jalur

Jam menunjukkan persis pukul 14.30 WIB ketika Riau Pos sampai di Desa Pembatang Pangean, Sabtu (15/6/2024). Di kandang atau rumah Jalur Pendekar Khayangan milik Desa Pembatang yang berada tak jauh dari pinggiran sungai kuantan, terlihat beberapa warga desa paruh baya dan saorang lelaki tua, tengah mengerjakan perbaikan sebuah jalur. Jalur itu berada persis di sebelah Jalur Pendekar Khayangan. Jalur yang sedang  diperbaiki itu adalah Jalur Ular Kumbang Danau Roboh. Jalur lama milik desa ini yang selalu ikut dalam berbagai event pacu jalur. Baca Juga: Pengusaha Menjerit, Lembah Anai Normal Oktober, Malalak-Sitinjau Laut Macet Parah

Lelaki tua itu terlihat memberikan arahan kepada beberapa asistennya yang tampak fokus melakukan perbaikan jalur di bantu beberapa warga. Lelaki tua yang memakai baju kaos biru dan topi biru itu pun pergi duduk di bawah pohon beringin yang berada tak jauh dari rumah jalur tadi. Dia bersandar, sambil sesekali menarik napas melepas lelah. 

Dialah Pak Mansyur. Dia dikenal sebagai si Tukang Jalur atau pembuat jalur yang cukup mahir yang ada di Kuansing. Dia tinggal di Desa Teluk Pauh. Sementara kedua orang tuanya berasal dari desa tetangga, yakni Desa Sukaping. Dan dia pula yang membuat jalur Rajo Bujang Desa Padang Tanggung tahun 2005 silam. 

Meski sudah 19 tahun lamanya, Mansyur masih mengingat jelas saat pembuatan Jalur Rajo Bujang. Waktu itu tahun 2005, Desa Padang Tanggung sudah mekar dari Desa Teluk Pauh dan berkeinginan punya jalur sendiri. Lalu warga pun mencari kayu. 

Singkat cerita, kayu jalur akhirnya berhasil didapat dan sampai ke desa. Jalur Rayo Bujang berjenis kayu meranti dengan panjang 34 meter. Hasil musyawarah desa, dia ditunjuk sebagai tukang jalur. Mendapatkan kepercayaan itu dan memang berasal dari desa yang sama, Mansyur pun mulai mengerjakannya.

Dalam pembuatan Jalur Rajo Bujang, Mansyur mengaku dibantu beberapa warga yang memiliki pemahaman pembuatan jalur. Sekitar lima orang setiap hari. Untuk pembuatan jalur, Mansyur menggunakan beberapa alat dalam pekerjaan. Seperti kapak, parang, beliung (beliung penabik, beliung penara, beliung babu), rembe, dan lainnya. 

Pembuatan Jalur Rajo Bujang cukup lama, lebih satu bulan pekerjaan. Itu karena semuanya dikerjakan secara manual dengan peralatan yang ada. Dia pun tak memikirkan dan mematok upah. Melainkan sesuai kemampuan desanya. 

"Terkadang Rp100. 000 per hari, terkadang lebih," kenang lelaki yang sudah berusia 70 tahun itu. 

Hingga selesai pekerjaan Jalur Rajo Bujang, dia mendapat upah sebesar Rp3.500.000. Meski sudah berusia lanjut, Mansyur tampak masih sehat. Ingatannya pun masih tajam. Jalur Rajo Bujang, kata Mansyur, satu dari banyak jalur yang sudah dia buat di Kuansing. Selain Jalur Rajo Bujang, Jalur Singa Ngarai Desa Pulau Kalimanting Kecamatan Benai yang tahun 2023 lalu beberapa kali masuk tiga besar event pacu jalur di beberapa kecamatan, termasuk buatannya. Lalu jalur-jalur asal Basrah Kecamatan Kuantan Hilir, Benai, Pangean sendiri hingga ke Kecamatan Gunung Toar juga hasil karyanya.

”Kalau dihitung-hitung, rasanya sudah ada 80 buah jalur yang saya buat. Selesai di sini, sudah menunggu pembuatan jalur baru Olang Barantai Desa Padang Kunyit, Pangean," sambung Mansyur. 

Saat ini, upah pembuatan jalur cukup lumayan. Berkisar Rp25 jutaan untuk sebuah jalur. Bahkan ada yang sampai Rp30 jutaan. "Tapi kalau saya, rata-rata di bawah 30 juta. Itung-itung kita saling membantu," ujarnya lagi. 

Lalu dari mana kemahiran Mansyur membuat jalur? Kepandaian atau kemahirannya dalam membuat jalur, ternyata didapat dari almarhum ayahnya. Ayahnya juga tukang perahu atau jalur. Sejak kecil, Mansyur sering ikut ayahnya dan melihat ayahnya membuat jalur ataupun perahu di desa-desa. Selain dia juga hobi dengan jalur. Lama-kelamaan, saat sudah mulai remaja, ayahnya pun memintanya ikut membantu saat ada desa meminta membuat jalur. Itu dilakukan rutin, sehingga saat ayahnya wafat, dia sudah mahir membuat jalur. 

“Kalau membuat jalur ini sejak tahun 1975. Waktu itu sudah beristri dan punya anak satu dan tinggal di Desa Teluk Pauh. Membuat jalur perlu ketelatenan dan sungguh-sungguh,” kenang Mansyur. Baca Juga: Seluruh ASN dan PPPK Meranti Terima Rapel Kenaikan Gaji Pokok

Keterampilannya dalam membuat jalur, menjadi penopang pendapatan ekonomi keluarga. Dia pun bisa membiayai pendidikan ketujuh orang anaknya dari hasil pendapatan upah membuat jalur. Meski anak-anaknya tak sampai ke perguruan tinggi. Tapi pendapatannya membuat jalur, cukup memadai untuk ekonomi keluarga. 

Dalam satu bulan, Mansyur mengakui kalau dia dan empat orang asistennya bisa menyiapkan sebuah jalur. Paling banyak dua buah jalur. Namun jika untuk rehab atau perbaikan jalur, bisa tiga sampai empat buah dalam satu bulan dengan upah Rp4-6 juta per jalur, tergantung tingkat kesulitannya. 

Mansyur berharap, tradisi pembuatan jalur bisa terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda Kuansing. Sehingga tradisi pacu jalur tetap bisa bertahan sepanjang masa. Karena itu, dia selalu membawa dua sampai empat orang sebagai asistennya dalam pembuatan jalur. Tujuannya,  agar ilmu dan dan teknik pembuatan jalur yang baik bisa terus lestari dan diwarisi oleh para asistennya tersebut.

 

Libatkan Orang Adat

Sekretaris Umum Limbago Adat Nogori (LAN) Kabupaten Kuansing, Datuk Paduko Rajo Ir Emil Harda MM MBA, salah seorang tokoh adat di Kenegerian Telukkuantan, tak memungkiri kalau tradisi pacu jalur memperlihat perpaduan antara aktivitas olahraga dengan unsur-unsur supranatural. 

Anak pacu dengan kekuatan ototnya melambangkan sebuah kegiatan olahraga. Sedangkan pawang jalur dengan kemampuan supranatural mewakili dunia lain atau kebatinan. Sebagian besar masyarakat Kuansing mempercayai bahwa kemenangan baru akan diperoleh oleh jalur yang berpacu jika kedua unsur tersebut (fisik dan batin) memiliki kekuatan yang lebih. Petuah orang tua-tua Rantau Kuantan mengatakan bahwa ada tiga unsur yang menentukan kemenangan sebuah jalur dalam berpacu. Yakni, pawang jalur yang hebat, jalur yang laju, dan anak pacuan atau pemacu yang kuat. Sebuah jalur yang tidak melibatkan pawang dan hanya mengandalkan kekuatan otot saja, dipercayai tidak akan memperoleh kemenangan. 

Keberadaan pawang jalur dalam prosesi pacu jalur tradisional diakui memang ada perdebatan. Diakui, salah satu faktor utama yang mendukung bertahannya sebuah budaya di suatu daerah adalah jika budaya tersebut sejalan dengan agama yang dianut oleh sebahagian besar masyarakatnya sebagai contoh Bali.

Sementara di Kuansing, awal mulanya dahulu agama masyarakat adalah Hindu atau animisme, dan secara berangsur-ansur dengan masuknya Islam sekitar abad ke-17, menjadi agama mayoritas masyarakat. Yang terjadi, banyak adat dan budaya yang ada secara berangsur-angsur terdegradasi oleh perkembangan zaman, terutama yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Menurutnya, keberadaan pawang jalur dan bertahannya ritual dalam kegiatan pacu jalur tradisonal berkaitan erat dengan tingkat pemahaman masyarakat terhadap agama yang dianutnya, yaitu Islam. Masyarakat mempercayai bahwa hal tersebut tidak berseberangan dengan ajaran Islam, karena mereka juga menggunakan ucapan-ucapan yang berbau Islam. Atas dasar inilah kegiatan ini bertahan dan tetap berlangsung sampai sekarang.

Masih segar dalam ingatannya, tatkala pada tahun 2018 pacu jalur tradisonal Kuansing hilang dari  agenda pariwisata nasional.  Timbul reaksi dari berbagai kalangan, terutama pemangku adat dan perangkat adat. Bahkan masyarakat adat Kenegerian Telukkuantan melalui panitia musyawarah besar (mubes). Mereka melakukan rapat dan menyurati kepala daerah sebagai bentuk keprihatinan orang adat pada 24 Oktober 2018.

Hasil dari pertemuan itu menyimpulkan, pelaksanaan pacu jalur tradisional semakin tahun semakin bias dari konsep dasarnya. Pacu jalur tradisional adalah budaya kearifan lokal yang bertumpu pada nilai-nilai tradisional, baik dalam pelaksanaan dalam pacu jalur tradisional itu sendiri maupun pada rangkaian kegiatan yang menyertainya.  

Mulai dari 2019 dan seterusnya, pelaksanaan pacu jalur memperbesar keterlibatan masyarakat adat. Untuk tahap awal, masyarakat adat Kenegerian Telukkuantan dalam pelaksanaannya. Dan sangat diharapkan pula pada akhirnya nanti  pacu jalur tradisional dapat dilaksanakan atau diserahkan pelaksanaannya kepada masyarakat adat Rantau Kuantan dan Rntau Singingi (Kabupaten Kuansing).

Pacu jalur tradisional harus mulai dikembalikan kepada nilai-nilai dan kaidah-kaidah adat dalam nuansa tradisional. Hal itulah yang membuat pacu jalur tradisional tersohor ke berbagai belahan bumi dan lestari sampai sekarang. 

Berharap Jadi Tujuan Wisata Internasional

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kuantan Singingi (Kuansing) memberikan dukungan penuh terhadap pelestarian tradisi dan budaya pacu jalur Kuansing, baik dukungan moril maupun materil. Salah satunya melakukan pembenahan infrastruktur dan fasilitas penunjang dalam pelaksanaan event pacu jalur di sepanjang sungai kuantan. Pemkab sudah menuntaskan pembangunan tribun pacu jalur di semua kecamatan yang menjadi penyelenggara tradisi turun-temurun itu. Mulai dari Kecamatan Hulu Kuantan, Kuantan Mudik, Gunung Toar, Kuantan Tengah, Benai, Pangean, Kuantan Hilir, Inuman, dan Cerenti.

Semua itu dimaksudkan agar masyarakaat Kuansing di kampung halaman, perantauan, maupun wisatawan domestik dari kabupaten tetangga di Riau, provinsi tetangga, dan tamu-tamu penting dari kementerian maupun wisatawan mancanegara yang datang berkunjung merasa nyaman.

Pemkab Kuansing semenjak dimekarkan menjadi sebuah kabupaten pada 12 Oktober 1999 lalu sampai saat ini sudah berusia 24 tahun, gencar melakukan promosi wisata dalam berbagai kunjungan ke kabupaten dan provinsi tetangga. Tak ketinggalan ke Kementerian Pariwisata RI.

Bahkan dalaam pertemuan World Water Forum (WWF) yang diikuti ratusan kepala negara dari belahan dunia di Bali, belum lama ini, Kabupaten Kuansing diberi kesempatan menampilkan tradisi pacu jalur yang mendapat respon luar biasa dari peserta.

Upaya promosi yang gencar dilakukan Pemkab Kuansing itu mulai membuahkan hasil. Tradisi pacu jalur sudah menjadi kalender tetap pariwisata nasional. Bahkan sudah masuk dalam Top Ten  Kharisma Event Nusantara (KEN) tanah air pada tahun 2023. Yakni peringkat ketujuh.

”Gol akhir yang menjadi sasaran dan target  kinerja ke depan, pada masanya nanti sesuai progres 5 atau 10 tahun ke depan, pacu jalur menjadi daya pikat dan magnet turis domestik dan mancanegara. Itu cita-cita kita,” kata Bupati Kuansing Dr H Suhardiman Amby AK MM.

Bila tradisi dan budaya pacu jalur ini sudah menjadi event wisata mancanegara, lanjut Suhardiman Amby Datuk Panglimo Dalam, maka wisatawan domestik dan mancanegara setiap tahun akan ramai datang ke Kabupaten Kuansing menyaksikan pacu jalur ini.  Logikanya, semakin orang ramai datang ke Kuansing tentu akan memutar ekonomi masyarakat. Semakin ramai orang datang maka geliat UMKM akan semakin subur tumbuh dan berkembangnya.

Ekonomi menegah ke bawah akan tumbuh dan berkembang. Seperti kuliner, kerajinan khas Kuansing serta perputaran barang dan jasa. Homestay dan penginapan yang ada akan terisi. Ekonomi menengah ke atas juga akan maju. Dampak lainnya, tentu akan membuka peluang tumbuhnya hotel-hotel berbintang yang ujungnya adalah peningkatan pendapatan asli daaerah (PAD).

“Kalau PAD kita bertambah, tentu pagu APBD Kuansing akan naik pula. Artinya, ada multiplier effect untuk semua itu yang bisa dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur sosial dan ekonomi di Kuansing,” ujarnya.

Untuk mewujudkan cita-cita itu, Suhardiman mengakui banyak hal yang harus dibenahi. Banyak “PR” yang harus dikerjakan di tengah keterbatasan anggaran yang dimiliki Kabupaten Kuansing. Misalnya saja pembenahan sarana dan prasarana di kawasan Tepian Narosa Telukkuantan yang menjadi arena pacu jalur nasional. Seperti fasilitas tribun VIP di pancang stars dan finis. Tribun penonton yang ada di sepanjang  Desa Koto Taluk-Desa Sawah dan Desa Seberang Taluk. Semua itu membutuhkan dana yang tidak sedikit dan perlu “gotong-royong”,  sharing budged antara Pemkab Kuaansing dengan Pemprov Riau.

“Kami segera siapkan perencanaan  sharing budged dengan Pemprov untuk bagian darat. Sementara untuk daerah aliran sungai (DAS) sesuai kewenangan akan diusulkan melalui dana APBN,” papar Suhardiman.

Meski tujuan menjadi agenda wisatawan mancanegara merupakan sebuah cita-cita yang ingin dicapai, Suhardiman mengatakan, kelestarian dari tradisi, budaya, nilai-nilai kemuliaan yang terkandung di dalam pacu jalur harus tetap dijaga. Menjaga kelestarian hutan dan lingkungan agar hutan belantara yang ada di Kuansing terpelihara sehingga kayu jalur yang menjadi bahan baku dalam pembuatan jalur, tetap tersedia sampai kapan pun. Untuk menjaga ketersediaan kayu jalur itu, Pemkab Kuansing sudah menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) Khusus yang diperkuat dengan Peraturan Bupati (Perbup) Kuansing tentang pengambilan kayu jalur.

Misalnya, kayu yang ditebang untuk pembuatan jalur benar-benar dipastikan cocok. Tidak asal tebang. Bila berada di kawasan hutan lindung, harus meminta persetujuan kepala daerah. Bila berada di kawasan ulayat, harus ada persetujuan datuk penghulu dari kawasan ulayat itu. Dan bila masuk dalam HGU perusahaan, harus minta persetujuan perusahaan yang bersangkutan. Pemkab Kuansing akan mendukungnya, sepanjang itu benar-benar untuk pembuatan jalur dan pelestarian budaya Kuansing.

“Ini kebijakan Pemkab untuk menjaga agar hutan dan budaya tetap lestari. Karena perlu 100 tahun untuk sebuah kayu jalur,” kata Suhardiman.

Dia berharap, kebijakan itu bisa dipatuhi seluruh masyarakat Kuansing. Dengan begitu budaya pacu jalur tetap lestari, pariwisata maju, ekonomi masyarakat bisa banghkit, dan masyarakat Kuansing bisa sejahtera ke depan.

Hal ini juga diungkapkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuansing Drs Azhar MM. “Kita masyarakat Kuansing bisa sedikit berbangga hati. Kini pacu jalur sudah masuk dalaam Top Ten KEN Indonesia, yakni peringkat tujuh,” kata Azhar.

Namun misi ke depan tidak cukup sampai di situ. Pemkab Kuansing menargetkan pacu jalur Kuansing di tahun 2024 ini bisa masuk tiga besar KEN. Sementara cita-cita paling besar, tradisi warisan leluhur Kuansing ini bisa menembus mancanegara, menjadi tujuan wisatawan tidak hanya domestik tetapi juga internasional. Semua cita-cita itu bisa diwujudkan dengan dukungan semua komponen masyarakat Kuansing. Pemerintah, orang adat, masyarakat serta selalu menjaga keasrian tradisi pacu jalur itu sendiri.

Salah satu keasrian tradisi pacu jalur, sebuah jalur memiliki si tukang tari, timbo ruang dan tukang onjai. Makanya, di dalam event nasional, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuansing mewajibkan, kalau setiap jalur yang menjadi peserta, harus ada si tukang tari atau anak coki, tukang timbo ruang dan tukang onjai.

"Karena begitulah tradisi yang ditinggalkan dulu secara turun-temurun. Jika itu tidak terpenuhi, jalur akan didiskualifikasi," papar Azhar. 

Sementara ornamen atau ukiran jalur, tidak mutlak. Hanya pemanis dari jalur yang dibuat desa sehingga tampilan jalur semakin indah saat berpacu. Azhar tak menampik kalau di era milenial sekarang, di usia pacu jalur yang sudah 121 tahun, keunikan-keunikan dari tradisi pacu jalur masih terlihat di tengah masyarakat Kuantan Singingi. Misalnya saja, saat pencarian kayu jalur, penebangan, turun mandi jalur maupun saat perpacuan. Peran orang tua jalur atau pawang jalur masih terlihat.

Menurutnya hal itu bagian sebuah budaya yang diwariskan para leluhur. Namun terkadang menjadi perdebatan. Tapi yakinlah, kalau pawang jalurnya seorang muslim, yang dilakukannya tetap sesuai syariat Islam. Karena dalam tradisi dan budaya pacu jalur tetap berpegang pada adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Artinya berpedoman pada agama Islam.

"Biasanya memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa. Mayang pinang, beberapa bunga hanya penggiring tradisi," ujarnya. 

Di tahun 2023 lalu, media sosial  event pacu jalur Kuansing menembus 2,7 juta followers yang ditonton dari dalam dan luar negeri seperti yang dilansir dan diekspose Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif (Parekraf) RI. Ini menandakan kalau tradisi pacu jalur sudah dikenal luas.

“Tinggal kita bagaimana lebih gencar promosi dan melakukan pembenahan fasilitas serta dalam pelaksanaan iven itu sendiri,” ujarnya.Baca Juga: Spanyol Melaju ke Final Euro 2024 Setelah Kandaskan Perlawanan Prancis 2-1

Pacu jalur, kata Azhar, konon sudah dimulai sejak abad ke-17. Bermula dari sebuah sistem transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan. Sebuah daerah yang berada di sepanjang Sungai Kuantan. Masyarakat di masa itu belum mengenal transportasi darat. Karena sungai masih menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar. Mulai dengan mencari ikan dengan memancing, mencuci pakaian, mandi, hingga menjadi sebuah jalur transportasi. 

Kata jalur sendiri dalam bahasa tradisional Riau berarti perahu. Karena ukurannya yang besar dan mampu menampung 40 sampai 60 orang, disebut perahu besar. Di masa itu, masyarakat beramai-ramai menggunakan jalur untuk mengangkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu. Seiring waktu muncul berbagai jalur yang diberi ukiran-ukiran indah, selendang, tali temali dan berbagai asesoris pemanis lainnya.

Dalam perkembangannya, jalur tidak hanya berfungsi sebagai alat pengangkut, namun juga sebagai simbol status sosial masyarakat pada kala itu. Hanya datuk-datuk dan bangsawan atau penguasa wilayah saja yang dapat mengendarai jalur berhias. Semakin mewah hiasannya, semakin ekslusif jalur tersebut. Sekitar abad ke-18, warga mulai menggelar lomba adu kecepatan antar jalur yang sampai hari ini dikenal sebagai pacu jalur. Dan sekarang pacu jalur sudah menjadi festival merayakan hari kemerdekaan RI.

Pada tahun 2024 pacu jalur sudah berusia 121 tahun. Tradisi ini pun sudah dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif RI pada tahun 2015 lalu. Pencapaian ini menjadi sebuah kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi.

Pada event nasional pacu jalur tradisional yang biasanya setiap bulan Agustus, Pemkab melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuansing menyiapkan paket pendamping. Misalnya, malam hiburan rakyat, apresiasi seni, pacu jalur eksebisi, atraksi budaya etnis daerah, permainan tradisional seperti sepak rago tinggi, lomba gasing, atau pacu oncu sebagai daya tarik tambahan bagi pengunjung yang datang ke Kuansing. Sehingga orang yang datang ke Kuansing bisa menikmati hiburan rakyat Kuansing lainnya.  Bahkan, mereka pun bisa memfasilitasi kunjungan ke beberapa objek wisata alam yang dimiliki Kuansing. Seperti Air Terjun Batang Koban di Hulu Kuantan, Air Terjun Guruh Gemurai di Kuantan Mudik, Arung jeram Hulu Kuantan, dan lainnya.

Pacu jalur identik dengan keramaian, kepadatan orang yang datang. Itu bisa dilihat dari padatnya orang di sekitar kawasan Taman Jalur-Tepian Narosa Telukkuantan. Dari hitungan tingkat kunjungan tahun 2023 yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuansing, selama lima hari pelaksaan event pacu jalur nasional, mampu menarik 1.719.925 juta pengunjung. Dengan angka di hari pertama di taksir mencapai 255.130 orang. Hari kedua, sekitar 367.820 orang. Hari ketiga 337.356 orang. Hari keempat 378.503 orang dan hari kelima 381.115 orang dengan jumlah perputaran uang yang beredar di Kuansing mencapai Rp90.943.950.000.

Pacu jalur juga membawa berkah pertumbuhan UMKM lokal. Pada tahun 2023 lalu, ada 750 orang pelaaku UMKM binaan Pemkab Kuansing yang ikut serta dengan omset rata-rata Rp2 juta per hari. Lalu ada sekitar 450 orang pelaku UMKM ekonomi kreatif dari luar Kuansing yang ikut ambil bagian dengan omset rata-rata mencapai Rp4 juta per orang per hari. Dan pedagang lainnya ada sekitar 2.323 orang dengan omset Rp2,5 juta per orang per hari.

Di sektor perhotelan atau wisma, ada 427 kamar yang disewa para pengunjung ke Kuansing dengan harga Rp400.000 per kamar per hari. Sementara homestay ada 75 unit dengan harga Rp500.000 per hari. Pacu jalur juga melibatkan banyak pelaku seni yang ada. Setiap tahun rata-rata ada 1.300 orang atau 45 grup seni yang tampil.

“Karena itu kita berharap suatu saat tradisi kebanggaan kita ini bisa menjadi kalender wisata mancanegara di tanah air. Karena akan banyak memberikan dampak positif bagi masyarakat tempatan,” papar Azhar.

Menyinggung soal pembiayaan atau anggaran, Azhar mengakui kalau anggaran yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Pada pelaksanaan event pacu jalur tahun 2024 ini, dibutuhkan anggaran pembiayaan sekitar Rp4.681.918.000. Besaran anggaran itu ditanggulangi melalui APBD Kuansing Rp1.596.833.000.  Pada APBD Kuansing tahun 2022, anggaran pacu jalur sebesar Rp641.017.075 dan tahun 2023 lalu Rp1.909.878.800.

Sementara bantuan Pemprov Riau melalui Dinas Pariwisata berupa bantuan penyelenggaraan pembukaan dan penutupan, bantuan hadiah serta bantuan operasional jalur untuk 2024 sebesar Rp560 juta. Dan tahun 2022 dan 2023 lalu masing-masing sebesar Rp180 juta. Sisanya dilakukaan penggalangan dana dari sponsor, donatur dan pihak-pihak lainnya termasuk dari Kemenparekraf RI sendiri.

Fasilitas Pendukung Harus Dibenahi

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau, melihat tradisi dan budaya asal Kabupaten Kuansing sebagai sebuah wisata tahunan yang harus dijaga kelestariannya. Banyak hal positif yang terkandung dalam pacu jalur yang menjadi ikonik Kabupaten Kuansing dan Provinsi Riau. 

"Ini tradisi dan budaya yang unik. Karena itu harus dilestarikan dan dijaga," ungkap Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rakhmad. 

Pacu jalur, kata Roni Rakhmad, sudah menjadi kalender wisata Provinsi Riau dan nasional yang diadakan setiap bulan Agustus dalam menyemarakkan Hari Kemerdekaan RI. Namun perlu kerja keras bersama bila event ini ingin melangkah dan bercita-cita menjadi tujuan wisatawan internasional ke depan. Terutama fasilitas sarana dan prasarana event yang ada di kawasan Tepian Narosa seperti tribun tamu dan penonton. Sehingga bila wisatawan mancanegara datang berkunjung maupun tamu VIP lainnya, merasa nyaman dan betah. 

Pemprov Riau ingin itu dilakukan bersama-sama dengan Pemkab Kuansing. Ada sharing budget pembangunan infrastruktur pendukung kawasan wisata pacu jalur. Tapi itu belum bisa disepakati dan perlu diskusi bersama sharing anggaran. 

Di tahun 2023 lalu, Pemprov Riau melalui Dinas Pariwisata Riau mengucurkan anggaran Rp350 juta untuk pelaksanaan pacu jalur Kuansing. Anggaran ini bertambah pada tahun 2024 dengan besaran mencapai Rp700 juta untuk pelaksanaan event pacu jalur dan bantuan subsidi seluruh jalur yang berpacu masing-masing Rp1 juta per jalur. ***

 

Anggaran Pacu Jalur Kuantan Singingi

 

APBD Kuansing

2022 Rp 641.017.075
2023 Rp1.909.878.800
2024 Rp1.596.833.000

 

APBD Riau

2022 Rp180 Juta
2023 Rp180 Juta
2024 Rp560 Juta

 

Multiplier Effect

* Serap 719.925 juta pengunjung
* Perputaran uang beredar capai Rp90.943.950.000.
* Melibatkan 750 orang pelaku UMKM lokal dan 450 orang pelaku UMKM luar,

 

Hotel dan Wisma

* Menyerap 427 kamar
* Menyerap 75 unit homestay
* Melibatkan 1.300 orang atau 45 grup pelaku seni

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Edwar Yaman
#Tukang onjai #Aura Farming Tarian Perahu #kuantan singingi #Penari pacu jalur #cita-cita #pacu jalur kuansing #Anak coki #Tradisi Pacu Jalur #pacu jalur #Menjaga Tradisi #Aura Farming