Musibah abrasi Sungai Indragiri di Tembilahan Hulu, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) masih menyisakan sejumlah cerita bagi para korban. Musibah yang merusak lima bangunan rumah dan kafe itu terjadi cukup cepat. Bahkan sebagian besar korban tidak sempat menyelamatkan harta benda mereka.
Laporan INDRA EFENDI, Tembilahan
SEKITAR pukul 14.30 WIB, sejumlah rumah dan tempat usaha warga di Kelurahan Tembilahan Hulu, Kecamatan Tembilahan Hulu, Indragiri Hilir (Inhil) amblas ke sungai karena dampak abrasi Sungai Indragiri.
Beruntung kejadian di depan Kampus STAI Auliaurrasyidin atau STAI Tembilahan Jalan Grilya ini tidak sampai menelan korban jiwa.
Namun, abrasi tersebut juga memberikan dampak terhadap kondisi jalan lintas Tembilahan-Rumbai yang berada di depan STAI Tembilahan.
Awalnya tidak ada yang menduga musibah ini akan terjadi dan warga yang ada di sana masih beraktivitas seperti hari-hari biasanya. “Awal kejadian cuma ada getaran dari gudang kelapa,” kata Mizi, salah seorang korban, Selasa (9/7).
Cerita pilu juga disampaikan Wandri Saputra (35). Saat kejadian ayah 2 anak itu masih menunggu kios pulsa miliknya. Dia dan keluarga tidak merasakan ada tanda-tanda mencurigakan. “Tiba-tiba saya mendengar teriakan adanya longsor,” cerita Wandri.
Mendengar teriakan itu, Wandri, langsung melihat ke luar. Begitu melihat kejadian tersebut, Wandri berlari masuk ke dalam rumah untuk menyelamatkan anak dan istri. “Saya lihat dapur rumah saya sudah terjatuh ke sungai. Kejadianya begitu cepat,” paparnya.
Wandri mengatakan dengan seketika bangunan yang dia tempati sekitar lima tahun itu runtuh. Kendati demikian, dia masih bersyukur masih bisa menyelamatkan istri bernama Aini (30) dan dua anaknya yang saat kejadian berada di ruang tengah. “Bagi saya nyawa jauh lebih berharga dari barang,” sambungnya.
Setelah berhasil menyelamatkan keluarga, Wandri, berusaha untuk menyelamatkan harta benda. Salah satunya, televisi 30 inci miliknya yang diletakan di tempat yang dianggap aman. “Lalu saya pergi lagi untuk mencari barang lainnya. Eh, begitu saya balik, tv itu sudah nggak ada. Hilang tidak tahu sampai hari ini,” keluhnya.
Dalam suasana hati yang masih sedih, Wandri kembali mencoba untuk mencari harta benda yang tertimbun bangunan akibat abrasi. Usahanya membuahkan hasil, Wandri berhasil menemukan perhiasan emas milik istrinya. “Saya temukan di bawah lipatan kain. Termasuk dompet saya. Walau isinya sudah tidak ada lagi,” ujar Wandri.
Saat ini Wandri, dan keluarga sudah mencari rumah kontrakan. Menurutnya tidak baik jika menumpang terlalu lama. Apalagi dia harus menghidupi istri dan dua anaknya. “Usaha kios pulsa saya tetap jalan,” ujarnya.
Sementara itu Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Inhil R Arliansyah, kepada Riau Pos, mengatakan pasca-abrasi pihaknya bersama unsur terikat telah menetapkan menjadi status tanggap darurat bencana alam. “Berdasarkan hasil rapat bersama bencana abrasi di Kecamatan Tembilahan ditetapkan menjadi status tanggap darurat bencana alam,” katanya.
Saat ini, lanjutnya BPBD tengah mempersiapkan segala administrasi termasuk langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penanggulangan bencana alam tersebut. Menindaklanjuti status tanggap darurat ini, BPBD Inhil juga telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Dari koordinasi tersebut, pihak BBWS akan segera turun ke lokasi. “Karena ini bencana, kami akan terus berkoordinasi dengan banyak pihak. Baik itu dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui BPBD. Sehingga diharapkan ada solusi jangka panjang,’’ ujarnya.
Kemudian dia menegaskan agar para korban yang terdampak tidak baru-buru mencari barang-barang yang tertimbun bangunan akibat abrasi. Artinya, para warga harus juga memperhatikan keselamatan jiwa mereka.
“Kami membuka posko pengaduan. Silakan laporan kepada kami apa bila memerlukan bantuan,” pesanya.(das)
Editor : RP Arif Oktafian