Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Cerita Ibu 4 Anak Jual Sabu di Panger, Pernah Beromzet Rp120 Juta, Minta Semua Pengedar Bertobat

Afiat Ananda • Senin, 12 Agustus 2024 | 16:45 WIB
DGS alias Dona.
DGS alias Dona.

Direktorat Reserse Narkoba berhasil mengungkap rantai pengedar sabu di Jalan Pangeran Hidayat, Kota Pekanbaru. Sebanyak 4 orang ditangkap bersama 25 paket siap edar. Salah satunya ibu 4 orang anak berinisial DGS (40).

Laporan AFIAT ANANDA, Pekanbaru

DGS tampak terisak ketika ia diinterogasi petugas Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Riau, Senin (12/8/2024). DGS merupakan salah satu kepala dagang narkotika jenis sabu di Jalan Pangeran Hidayat, atau yang dikenal sebagai kampung narkoba Pekanbaru.

Awalnya, tim dari Kombes Pol Manang Soebeti menangkap dua orang. Yakni RS (19) dan FB (18) pada Jumat (2/8/2024) lalu. Dari tangan keduanya, petugas berhasil mengamankan barang bukti narkotika jenis sabu sebanyak 25 paket berukuran kecil.

Dari pengembangan, RS dan FB mengaku mendapat paket sabu untuk dijual di Panger dari seseorang berinisial RM. Setelah RM tertangkap, barulah DGS berhasil diamankan. Kata Dirnarkoba Polda Riau Kombes Pol Manang Soebeti, DGS dibekuk usai pulang dugem pada malam setelah RS dan FB diamankan.

Saat diwawancarai, DGS sempat meneteskan air mata. Pengakuannya, ia sangat menyesal karena telah terjerumus dalam peredaran gelap narkotika selama kurang dari satu tahun belakangan. Ia juga mengaku terpaksa menjual sabu lantaran sang suami sakit.

"Suami sakit, saya harus menghidupi 4 orang anak saya. Saya terpaksa berjualan seperti ini," ujar DGS.

Ia kemudian bercerita, 1 ons sabu atau 100 gram dibeli dengan harga Rp35 juta. Dari 100 gram ini bisa dijadikan 1.200 paket kecil. Di mana paket kecil ini dijual seharga Rp100 ribu per paketnya. Sehingga bila ditotal, ia bisa mendapat omzet Rp120 juta untuk 1 ons sabu.

"Waktu itu pernah beli cash segaris (100 gram). Pernah (langsung terjual) tapi hanya sekali. Kalau rata-rata omzet per hari, ya, cukuplah untuk membiayai hidup 4 orang anak saya," sambung Dona bercerita.

Setelah tertangkap, Dona mengaku sangat menyesal. Bahkan anaknya yang paling kecil selalu menanyakan keberadaannya. Hal itulah yang membuat dirinya semakin merasa bersalah. Apalagi, putra sulungnya kini sudah beranjak dewasa. Ia juga sempat khawatir apabila anaknya terjerumus narkoba.

"Anak saya paling besar itu laki-laki. Tapi alhamdulillah tidak merokok, tidak aneh-aneh. Saya takut juga anak saya terjerumus (narkoba). Saya ikhlas, saya ikhlas sekarang menghadapi konsekuensi pekerjaan saya kemarin," tuturnya.

Kepada para bandar yang masih berjualan, DGS berpesan agar segera bertobat. Jangan sampai menyesal di kemudian hari seperti dirinya saat ini. Jangan sampai para bandar mendapat hukum karma. Di mana, anak-anak dan keluarga akan terjerumus ke dalam dunia hitam seperti yang ia alami.

"Saya juga punya anak. Saya enggak mau anak saya terjerumus narkoba. Tidak, saya tidak mau. Semua yang masih berjualan, sudahlah, hentikanlah sekarang. Jangan rusak generasi muda kita. Berhentilah sekarang juga," pesannya.

Dirnarkoba Polda Riau Kombes Pol Manang Soebeti menyebut, pihaknya terus mengembangkan jaringan DGS. Bahkan ia berkomitmen untuk menyapu bersih seluruh pengedar dari kampung narkoba yang ada di Pekanbaru.

"Kalau untuk keterangan DGS sudah kami ambil. Kan kami lakukan pengembangan dari sini. Dia dapat dari mana, apa memang benar dia berjualan baru setahun kurang? Kan kami kembangkan terus. Makanya tadi semua keterangan kami ambil, kami lakukan penyelidikan lanjutan," pungkasnya.

Laporan: Afiat Ananda (Pekanbaru)

Silakan simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu dengan mengakses Riau Pos WhatsApp Channel

 

 

Editor : M. Erizal
#penjual narkoba #narkoba #pangeran hidayat #kampung narkoba #polda riau