Jantung serasa mau lepas, ketika tiba-tiba harimau yang sebelumnya berada sekitar 30 meter sudah berada di depan Jon Heri. Jaraknya hanya 1,5 meter. Meski jantung tak beraturan, namun Jon Heri tetap ingat wasiat agar jangan berbalik saat berhadapan dengan harimau.
Laporan MONANG LUBIS dan HENDRAWAN KARIMAN, Siak Sri Indrapura dan Pekanbaru
PADA Rabu (4/9) sekitar pukul 12.45 WIB, pekerja pencari kayu mahang Jon Heri diserang harimau di wilayah perbatasan Kampung Mengkapan dengan Rawa Mekar Jaya, tak jauh dari Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB).
Awalnya Jon Heri yang tiduran di bawah terpal, melihat ke arah harimau melompat dan menghilang. Namun, tiba-tiba dirinya mendengar napas hewan buas itu. Ketika dia palingkan wajahnya, bukan main kagetnya Jon Heri, karena posisinya sudah sangat dekat.
Lalu Jon Heri tiarap sambil perlahan menjauh dari posisinya yang berhadapan dengan harimau.
“Lalu saya duduk sambil terus mundur. Berjarak sekitar 5 meter dari harimau, saya berbalik dan teriak minta tolong,” sebut Jon Heri.
Temannya Hamid dan Kaca, serta pamannya Bahar, berada sekitar 50 meter darinya. Teman-temannya sedang mengecek burung yang sehari sebelumnya dijerat menggunakan jala.
“Saat membelakangi itulah, kaki depan harimau sudah berada di lengan dan punggung saya. Sementara mulutnya berada di tengkuk,” sebut Jon Heri.
Jon Heri berusaha memegangi tengkuknya dengan tangan kiri. Karena kena taring harimau, digantinya dengan tangan kanan. Sampai akhirnya harimau mencakar kepala bagian belakangnya.
“Saya yakin itu harimau remaja, baru belajar berburu. Jika harimau dewasa, sudah habis saya,” ucap Jon Heri.
Atas serangan itu, Jon Heri sudah dalam posisi tertelungkup ketika pamannya Bahar dan dua rekannya, Kaca dan Hamid tiba. Bahar dan Hamid menghalau harimau. Lalu harimau meninggalkan tubuh Jon Heri yang sudah bersimbah darah karena luka robek di kepala, tangan, dan punggung.
Jon Heri ingat betul saat mereka melihat harimau berjarak 30 meter ketika mereka istirahat makan siang. Kaca menghalau harimau.
”Hus hus pergi sana,” ujar Jon Heri menirukan suara Kaca.
Lalu harimau pergi melompati kanal dengan lebar sekitar 1 meter lebih. Kepergian harimau itu sama sekali tidak memberi firasat bagi Jon Heri, jika harimau itu akan datang lagi dan menghampirinya.
Atas apa yang menimpanya, disebutkan Jon Heri, warga menjadi resah. Bahkan sebagian warga sudah tidak ke kebun.
“Anak-anak kami juga belajar secara daring, baik SD, SMP sampai SMA,” terangnya.
Jon Heri sendiri belum bisa bekerja, meski saat ini berada di rumah, dan rawat jalan oleh pihak Puskesmas Pembantu (Pustu) Kampung Rawa Mekar Jaya (RMJ).
“Ada belasan jahitan di kepala saya ini. Kadang saat duduk sendiri, teringat bagaimana harimau menyerang. Allah masih panjangkan umur saya,” sebutnya.
Heri Jon mengucapkan terima kasih kepada paman dan temannya yang telah menyelamatkan dan melarikannya ke pustu. Sementara adik Heri Jon bernama Yudi mengatakan situasi saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Warga resah, khawatir harimau masih berkeliaran.
Selain ada jam malam, warga juga sudah tidak ke mana mana lagi selepas Maghrib. Pihak desa dan perangkatnya sedang koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk mencarikan solusi atas situasi ini.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Siak Fakhrurrazi membenarkan sekolah diliburkan dan dilakukan belajar secara daring.
“Hal ini kami lakukan sampai situasi benar-benar sudah kondusif,” sebutnya.
Pihaknya tetap terus berkoordinasi dengan pemangku kepentingan, agar dicarikan solusi dan aktivitas kembali normal.
Tim Tetap Bersiaga
Sejak terjadi penerkaman harimau di Kampung Sungai Rawa, Kecamatan Sungai Apit, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menempat timnya di Resor Siak untuk tetap siaga. Namun hingga Senin (9/9) harimau yang menerkam korban belum terdeteksi keberadaannya.
Kepala BBKSDA Riau Genman S Hasibuan menyebutkan, bersama Animal Rescue BPBD Siak, Tim BBKSDA Resor Siak terus bersiaga dalam upaya mitigasi konflik berdarah harimau sumatera dan manusia tersebut.
‘’Tim juga menindaklanjuti informasi yang beredar terkait kemunculan kembali harimau. Tim kita turun bersama BPBD Siak ke lapangan, ternyata itu hanya status dan tidak pernah terjadi,’’ kata Genman.
Informasi hoaks kemunculan kembali harimau di Sungai Rawa itu menurut Genman diedarkan oleh seorang pekerja yang tinggal di Tanjung Buton, Siak. Dia membuat status di Aplikasi WhatsApp.
Penyebar informasi itu sendiri telah melakukan klarifikasi didampingi Tim BBKSDA dan Tim Animal Rescue BPBD Kabupaten Siak. Bahwa informasi itu hanyalah status yang dibuat karena kekhawatirannya, karena Tanjung Buton tidak jauh dari Sungai Rawa.
Terkait mitigasi, BBKSDA Riau telah memasang kamera jebak di lokasi kejadian dan juga di titik asal kemunculan harimau tersebut. Namun belum ada gambar harimau yang berhasil direkam.
Namun Genman menyebutkan pihaknya telah melakukan patroli gabungan untuk menghadirkan rasa aman bagi masyarakat. Kemudian melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat setempat tentang mitigasi awal terhadap interaksi negatif dengan satwa liar khususnya harimau sumatera.
Tak Satu pun Harimau Terdeteksi
Sepanjang 2024, Riau Pos mencatat setidak ada empat kali konflik harimau-manusia terjadi di Riau. Dua di antaranya berakibat fatal dimana korban ditemukan dalam keadaan tewas mengenaskan.
Namun tidak satu pun harimau-harimau yang terlibat dalam konflik ini terdeteksi. Jangankan tertangkap, bahkan individu-individu harimau ini tidak pernah terekam kamera jebak yang selalu dipasang BBKSDA Riau di lokasi kejadian.
Adapun empat peristiwa konflik berdarah di Riau ini pertama terjadi di Simpang Kanan, Kecamatan Pengalihan, Inhil. Buruh kebun bernama Rahmad (26) ditemukan tewas pada Kamis (9/5).
Kemudian di Kampung Penyegat, Sungai Apit, di mana korban Yosania (43) ditemukan tewas mengenaskan pada Selasa (16/6). Dua konflik berdarah lainnya terjadi Pulau Muda, Pelalawan dengan korban Jali (40) pada Sabtu (17/8) dan di Sungai Rawa Siak dengan korban Jon Henri (40) pada Rabu (4/9).
Keduanya selamat meski harus menanggung luka pada bagian kepala masing-masing.
Pada empat kejadian itu, BBKSDA Riau mendapat satu kesamaan. Di mana setiap lokasi terjadi konflik merupakan wilayah jelajah harimau. Baik harimau kantong Semenanjung Kampar maupun harimau kantong Kerumutan.***
Editor : Rindra Yasin