Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Panen Energi Bersih dari Limbah Kayu

M Amin • Selasa, 29 Oktober 2024 | 13:30 WIB

Business Development Engineer PT Prima Khatulistiwa Sinergi (PKS), Muhammad Zaki, berdiri di antara kayu karet yang menjadi bahan baku woodchips, Rabu (23/10/2024).
Business Development Engineer PT Prima Khatulistiwa Sinergi (PKS), Muhammad Zaki, berdiri di antara kayu karet yang menjadi bahan baku woodchips, Rabu (23/10/2024).
 

Potensi biomassa yang melimpah menjadi solusi energi terbarukan sebagai bauran (co-firing) bahan bakar fosil. PLTU Tenayan dan Tembilahan di Riau telah dimaksimalkan dalam transisi energi ini. Bahkan baurannya pernah mencapai 70 hingga 100 persen. Perlu tekad kuat dari PLN dan kolaborasi banyak pihak, dari hulu ke hilir, agar transisi menuju energi bersih ini terwujud dengan baik.

Laporan MUHAMMAD AMIN, Kampar

SUARA mesin chainsaw menderu-deru di antara deretan pohon karet yang berbaris rapi. Lalu, bum. Sebuah pohon karet tua tumbang. Supriyadi (51), warga Desa Kualu Nanas, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau segera memotong pohon karet itu dengan potongan ukuran 1,5 meter. Mesin chainsaw pun kembali menderu.

“Dipesan PT Prima untuk jadi woodchips,” ujar Supriyadi kemudian, seraya menyeka keringatnya.

Petang itu, Rabu (23/10/2024), Bumi Riau memang sedang panas-panasnya. Terik Matahari tak pudar hingga petang. Suhu 35 derajat Celsius menyisakan panas berdengkang. Tapi petani penakik getah karet ini tak surut bekerja. Pesanan kayu karet sudah telanjur diterima dan harus siap kirim.

“Hari ini punya abang saya yang ditebang,” ujar Supriyadi.

Sehari-hari, Supriyadi bekerja menakik getah. Kini, mayoritas pohon karetnya telah mati polan, yakni tak lagi mengeluarkan getah. Jika pun ada, jumlahnya sangat sedikit. Mati polan merupakan istilah bahasa Kampar yang digunakan untuk adanya penyakit jamur pada karet. Selain karena penyakit, ada juga batang karet yang harus ditebang karena sudah berumur tua, sehingga tak lagi keluar getahnya. Dari sekitar 3 hektare lahan karet Supriyadi, beberapa bidang di antaranya sudah berumur 30 tahun. Ada juga yang masih 10 tahun, tapi tak lagi mengeluarkan getah karena penyakit jamur.

Dulu, pohon karet bekas tebang ini terbiar begitu saja. Siapa saja boleh mengambil. Hanya jadi limbah. Kadang digunakan sebagai kayu bakar untuk memasak. Belakangan, mulai ada yang membeli untuk kayu bakar rumah makan, bahan bakaran pabrik batu bata, hingga industri skala kecil lainnya. Kayu karet ini juga mulai digunakan untuk bahan baku tripleks dan dibeli pabrik tripleks di kawasan Pasir Putih, Kampar. Sekarang dibeli PT Prima untuk woodchips.

Tidak semua kayu karet yang dipotong ini milik Supriyadi sendiri. Sebab, banyak juga karet petani lain yang terkena penyakit jamur dan tidak lagi produktif. Salah satunya milik abangnya. Sebagai penggantinya, Supriyadi dan beberapa petani karet lainnya berencana akan menanam sawit. Sebab, secara hitungan ekonomi lebih menguntungkan. Karet baru bisa ditakik atau dideres getahnya setelah berumur delapan tahun.

“Sedangkan sawit sudah mulai buah pasir pada umur tiga tahun. Jadi lebih menjanjikan,” ujar Supriyadi, memberikan alasan.

Sebuah kawasan industri di Jalan Pasir Putih, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar jadi destinasi batang karet Supriyadi dan beberapa petani lainnya. Truk dan kontainer sudah bolak-balik datang ke kawasan biomass warehouse PT Prima Khatulistiwa Sinergi (PKS) itu. Timbangan truk di tempat ini sudah berkali-kali menimbang woodchips untuk dikirimkan ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tenayan. Tapi produksi woodchips-nya masih di lokasi lain, yakni di Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu. Beberapa tumpukan potongan kayu juga tampak menggunung di sudut lahan seluas 8.000 meter persegi itu. Di lahan berukuran 50 x 160 meter itu, juga ada perkantoran dan mesin pencacah untuk woodchip (woodchiper machine).

“Sedang persiapan operasi. Kami rencanakan November 2024 ini beroperasi,” ujar Business Development Engineer PT Prima Khatulistiwa Sinergi (PKS), Muhammad Zaki.

Zaki menyebutkan, pihaknya merupakan salah satu vendor yang memenangkan tender pengadaan woodchips (kayu cacah) untuk bahan baku bauran (co-firing) PLTU Tenayan dan Tembilahan. Hanya saja, sejauh ini, pasokan woodchips masih dilakukan dari warehouse PT PKS yang beroperasi di Desa Sagu, Kecamatan Lirik, Kabupaten Indragiri Hulu. Mesin woodchips (woodchiper machine) PT PKS lebih dahulu beroperasi di Lirik karena permintaan di PLTU Tembilahan memang datang lebih dahulu dibandingkan PLTU Tenayan. Lirik memang lebih dekat ke Tembilahan dibandingkan ke Tenayan di Pekanbaru. Sejauh ini, woodchiper machine PT PKS di Lirik memproduksi 18-19 ton woodchips per hari untuk dua PLTU. Sebanyak 5-6 ton untuk PLTU Tembilahan dan 12-13 ton untuk PLTU Tenayan.

“Kalau yang di Pasir Putih ini sudah jalan, maka woodchips dari sini semuanya untuk PLTU Tenayan. Sedangkan yang di Lirik, semuanya untuk PLTU Tembilahan,” ujar Zaki.

Baca Juga: Al Nassr Tersingkir dari Piala Raja Saudi, Ronaldo Gagal Penalti di Menit Akhir

Bukan Tanaman Hutan

Terkait bahan baku pembuatan woodchips ini, Zaki menyampaikan bahwa pihaknya sangat selektif. Kayu karet dijadikan pilihan karena kayu ini termasuk kategori tanaman tua rusak (TTR). Banyak kayu karet yang tidak terpakai lagi dan menjadi limbah organik yang sedianya dibuang. Salah satunya adalah keinginan petani karet sendiri untuk mengganti tanaman karet mereka menjadi sawit. Selain diganti sawit, sebagian kecilnya memang harus di-replanting ke tanaman karet baru karena usianya yang sudah maksimal, antara 15-30 tahun. Tidak produktif lagi.

Potensi ini membuka peluang dijadikannya limbah pohon karet ini menjadi bahan bakar PLTU pengganti batu bara. Di Riau, potensi karet tua dan rusak sangat besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, luas perkebunan karet di Riau mencapai 240,4 ribu hektare, terluas keenam se-Indonesia. Di Desa Kualu Nanas, Kecamatan Tambang saja terdapat sedikitnya 100 hektare lahan pohon karet warga. Jika dikonversi, 1 hektare lahan karet bisa menjadi 100 ton bahan baku woodchips.

Potensi ditebangnya karet akan bertambah seiring makin tingginya minat petani mengonversi karet mereka menjadi sawit. Sawit memang menjadi tanaman primadona di Riau, dengan luas total 2,87 juta hektare. Terluas di Indonesia.

Sejauh ini, PT Prima baru berkoordinasi dengan masyarakat per individu untuk mendapatkan bahan baku woodchips. Tapi ke depan, akan dijalin kerja sama dengan koperasi, perangkat desa, dan perkebunan besar. Tentu sesuai dengan kapasitas permintaan dari PLTU.

Zaki menyebutkan, pihaknya sangat selektif menjaga asal-usul bahan kayu untuk woodchips ini. Karet menjadi pilihan karena dokumen penggunaannya relatif sederhana. Tapi tetap harus ada surat keterangan asal barang (SKAB) yang ditandatangani pemerintah setempat seperti kepala desa (kades) atau kepala dusun (kadus). Tanpa itu, kayu bahan woodchips tak akan diterima karena pihak PLTU selaku pengguna juga sangat selektif.

“Kami harus menjaga, jangan sampai kayu yang dipakai berasal dari ilegal logging,” ujar Zaki.

Menurutnya, asal-usul kayu yang dijadikan bahan baku woodchips ini sangat penting. Kayu hutan sangat tidak dianjurkan, bahkan dilarang digunakan dalam membuat woodchips ini. Kayu kebun menjadi pilihan karena izinnya cukup dari pejabat desa setempat. Harus ada sertifikat yang dikeluarkan surveyor independen yang ditunjuk pihak PLTU berupa certificate of analist (CoA), sebelum woodchips diolah jadi bahan baku bauran batu bara.

Selain ketersediaan yang berkelanjutan, kualitas bahan juga jadi pertimbangan. Maka yang digunakan untuk bahan baku woodchips ini adalah pohon karet yang baru ditebang (fresh cut), yang masih ada getahnya. Sebab, jika kayu yang didatangkan sudah tersimpan lama hingga bertahun-tahun, dan tumbuh jamur, maka kualitas kalorinya kurang baik untuk pembakaran mesin boiler PLTU. Selaku vendor, pihaknya harus menjaga kualitas kalori atau gross calorific value (GCV) agar stabil. Tidak boleh kelebihan air, dan tidak boleh berjamur. Untuk menjaga air atau getahnya maksimal 35 persen, maka fresh cut pohon karet itu harus ditumpuk dahulu antara dua pekan hingga sebulan. Setelah itu, barulah kayu ini bisa dimasukkan ke mesin pencacah. Sejauh ini, pihaknya sudah mengumpulkan 28 ton fresh cut karet yang sudah ditumpuk sejak dua hingga tiga pekan lalu. Pihaknya harus menjaga GCV karet ini di atas 3.500 kilo kalori per kg (kkal/kg). Menumpuk kayu dan menjemurnya adalah cara untuk mengurangi kadar airnya.

“Jadi sebelum mesin benar-benar beroperasi, kami masih terus menumpuk bahan bakunya. Tiap hari bisa datang 6-7 ton fresh cut karet ke lokasi ini,” ujar Zaki.

Mesin pencacah yang digunakan akan mencacah bahan baku ini menjadi potongan kecil yang disebut woodchips. Ukurannya maksimal 16 milimeter persegi atau 1,6 cm persegi. Rata-rata, atau lebih baik ukuran 1 cm persegi. Pihaknya akan selalu menjaga kelembaban (moisture content), kualitas kalori (GCV), dan ukuran (size partikel) dalam menyiapkan woodchips.

“Mesin di Pasir Putih ini lebih canggih, lebih cepat, dan tajam. Salah satu keunggulannya dibanding mesin di Lirik adalah adanya penyaring (screen),” ujarnya.

Dengan adanya penyaring ini, maka ukuran partikel woodchips bisa terjamin sesuai dengan yang diinginkan. Sebab, makin kecil partikel kayu, makin bagus juga pengolahan dalam mesin boiler PLTU. Ukuran 1 cm persegi yang paling ideal, dan mesin pencacah sudah disetel demikian.

“Bahan baku ini akan berkurang 10 persen bobotnya setelah jadi woodchips,” ujar Zaki.

Sementara ini, pihak PLTU Tenayan meminta pasokan woodchips sebanyak 150 ton per bulan. Pihaknya memasok selama hari kerja, atau Senin hingga Jumat. Makanya dikalkulasi, setiap harinya dipasok 12-13 ton. Dengan mesin pencacah ini, maka pekerjaan mencacah kayu cukup dilakukan antara 1,5 hingga 2 jam untuk mendapatkan 12 hingga 13 ton woodchips.

Jika dimaksimalkan, mesin pencacah ini bisa mengolah 70 ton per hari. Dalam 20 hari kerja selama sebulan, maka bisa dihasilkan 1.500 ton per bulan. Bahkan mesin ini diestimasi masih sanggup memproduksi 100 ton per hari atau 2.000 ton per bulan.

“Tentu sesuai dengan permintaan dari pihak PLTU karena kami dengar akan ada peningkatan permintaan bahan baku woodchips ini,” ujar Zaki.

Selain untuk PLTU Tenayan dan Tembilahan, pihaknya juga memasok woodchips ke industri yang menggunakan boiler lainnya. Makanya, peningkatan produksi woodchips akan terus dilakukan. PT PKS menargetkan produksi woodchips hingga kapasitas maksimal, yakni 2.000 ton per bulan.

Executive Advisor Business Development PT PKS, Avila Ananda, secara terpisah menambahkan, pihaknya berkontrak dengan PLTU Tenayan untuk memasok 20 ribu ton woodchips selama lima tahun, atau jika dikalkulasi 4 ribu ton per tahun. Akan tetapi, jika ada peningkatan permintaan dari PLTU Tenayan, pihaknya bisa memasok lebih banyak.

“Kami bisa gaspol dan memasok 1.500-2.000 ton per bulan,” ujar Avila.

Bahkan, jika permintaan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) melalui subholding-nya PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) meningkat, pihaknya siap memenuhi. Peningkatan permintaan itu bisa terjadi seiring dengan kapasitas boiler PLTU yang bisa ditingkatkan maksimal, tentu setelah melalui serangkaian uji coba. Avila bahkan menyebut, bisa memasok hingga 5 ribu ton per bulan.

“Saat ini ada permintaan baru dari PLTU Tenayan agar kami dapat menyuplai 850 ribu ton per bulan. Permintaan ini akan meningkat secara berkala,” ujar Avila.

Adapun bahan baku yang memungkinkan saat ini memang limbah kayu karet. Selain limbah kayu karet ini melimpah, kualifikasi lainnya juga memenuhi, yakni termasuk kayu lunak yang mudah dicacah dan mudah juga diolah di boiler PLTU. Kualifikasi lainnya adalah kalori yang dihasilkan, yang cukup memadai, yakni antara 3.000 hingga 3.500 kkal. Kayu keras seperti akasia memang memiliki kalori lebih besar, yakni 3.000 hingga 4.000 kkal. Akan tetapi, stoknya susah didapat dengan syarat berbeda-karena merupakan kayu hutan-dan lebih berat dalam pengolahan. Ini berbeda dengan kayu karet yang stoknya melimpah karena banyaknya kebun karet tua dan rusak. Bahan baku lainnya, termasuk pohon sawit yang juga melimpah stoknya, sejauh ini belum bisa digunakan.

“Kayu sawit itu memiliki beberapa kandungan kimiawi yang tidak cocok untuk mesin boiler PLTU. Bisa rusak mesin boiler PLTU dibuatnya,” ujar Avila.

Dari Karet hingga Hutan Tanaman Energi

Sejauh ini, bahan yang memungkinkan diolah untuk jadi woodchips adalah karet. Akan tetapi tentu saja ke depan akan semakin banyak alternatif, seiring meningkatnya tren penggunaan energi terbarukan.

Bagaimana jika permintaan semakin banyak dan stok pohon karet berkurang? Menurut Avila, pihaknya sudah memiliki beberapa strategi jangka pendek, menengah, dan panjang terkait bahan baku ini. Strategi jangka pendek adalah menggunakan limbah pohon karet. Sedangkan strategi jangka menengah dan panjang adalah menggunakan hutan tanaman energi (HTE). Banyak pohon yang memiliki kalori tinggi, memiliki pertumbuhan yang cepat, dan cocok dijadikan biomassa. Di antaranya adalah kaliandra merah, gamal, lamtoro, akasia, akasia akor, dan lainnya.

Biomassa sendiri adalah semua senyawa organik, mulai dari tanaman, algae, hingga sampah yang bisa diolah menjadi energi. Kebanyakan biomassa tersusun dari karbohidrat, lemak, dan protein. Sisanya adalah mineral yang tersusun dari fosfor, besi, kalsium, dan natrium. Adapun senyawa utama yang membentuk biomassa adalah lignin, hemiselulosa, dan selulosa.

Dengan adanya tanaman yang dibudidayakan, maka potensi energi yang dihasilkan akan dapat berkelanjutan. Menurut Avila, pihaknya sedang melakukan riset terkait rencana ke depan membangun HTE.

“Jangka panjangnya begitu. Kita di sini belum seperti di Jawa karena potensi karet di Riau masih banyak. Perhutani di Jawa sudah melakukan penanaman untuk hutan tanaman energi ini,” ujarnya.

Dia menyebut, PT Prima banyak memasok biomassa untuk pembangkit, tidak hanya PLTU Tenayan dan Tembilahan di Riau, tapi juga PLTU di Kalimantan Barat, yakni PLTU Sintang dan Sanggau, selain juga pembangkit listrik swasta. Selain pembangkit listrik, ada juga pabrik semen, kimia, makanan, minuman, hingga tekstil. Saat ini, tren penggunaan biomassa untuk menggerakkan mesin uap (boiler) semakin tinggi. Bahkan perusahaan multinasional juga sudah begitu intens menggunakan biomassa, di antaranya yang berbahan baku woodchips.

“Sudah jadi tuntutan negara untuk tiap industri agar mengurangi emisi. Bahkan untuk PLN, Kementerian ESDM menargetkan bauran energi terbarukan mencapai 23 persen pada 2025,” ujar Avila.

 

Hasil olahan kayu karet yang telah menjadi woodchips untuk bauran (co-firing) batu bara di PLTU Tenayan dan Tembilahan.
Hasil olahan kayu karet yang telah menjadi woodchips untuk bauran (co-firing) batu bara di PLTU Tenayan dan Tembilahan.

Baca Juga: Daftar Cedera Terus Bertambah, Arsenal Berharap Odegaard Dapat Kembali dalam 2 Pekan

Bauran Sampah hingga Sawdust

Salah satu bahan baku woodchips dari PT Prima Khatulistiwa Sinergi (PKS) disalurkan ke PLTU Tenayan. Tapi bukan hanya PT PKS yang memasok biomassa ini. Ada dua jenis biomassa yang saat ini digunakan PLTU Tenayan, yakni woodchips dan sawdust atau serbuk kayu. Kerap juga disebut serbuk gergaji. Keduanya berbahan dasar kayu. Satu vendor memasok sawdust, yakni PT Marela. Sementara ada tiga vendor yang memasok woodchips, yakni PT Borneo, PT Cakra, dan PT Prima.

“Sejauh ini woodchips yang lebih banyak, yakni 70 persen berbanding 30 persen sawdust,” ujar Team Leader Niaga dan Bahan Bakar PLTU Tenayan, Ramli.

Ramli menyebutkan, saat ini, PLTU Tenayan menggunakan 150 ton biomassa per hari, yang dipasok dari beberapa vendor itu. Bahan baku biomassa dilakukan pembauran (co-firing) dengan bahan bakar batu bara sebesar 3.000 ton per hari.

“Persentasenya 5 persen biomassa dari total penggunaan batu bara. Itu sesuai dengan rekomendasi Puslitbang PLN,” ujar Ramli.

Penggunaan biomassa dari woodchips dan sawdust ini sudah dilakukan sejak Juli 2023 hingga sekarang, setelah dilakukan serangkaian uji coba yang panjang. Terdapat beberapa bahan baku biomassa yang pernah diuji coba untuk PLTU Tenayan, mulai dari tandan kosong (tankos) sawit, cangkang inti sawit, sawdust, woodchips, hingga bahan bakar jumputan padat (BBJP), dan brown fiber. Brown fiber merupakan limbah bahan baku kertas dari kayu akasia. Sedangkan BBJP adalah gabungan sampah organik 95 persen dan anorganik sisanya, yang dicacah dan diberikan bioaktivator. Pemberian bioaktivator sangat penting untuk meningkatkan kalori sampah. Jika sampah rumah tangga biasa yang dijadikan BBJP, maka kalorinya hanya 1.000 kkal per kg. Masih jauh dari harapan untuk bisa berimbang dengan batu bara. Sedangkan jika diberikan treatment tambahan berupa bioaktivator, maka kalorinya bisa meningkat menjadi 3.800 kkal per kg. Tentu dapat mengimbangi kalori batu bara yang jadi bahan baku utama PLTU. Pembuatan BBJP dilakukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muara Fajar Pekanbaru dan menjadi co-firing PLTU yang cukup efektif untuk mengurangi sampah. Hanya saja, penggunaan BBJP tidak berlangsung lama. Hanya sekitar empat bulan, sejak November 2022 hingga Februari 2023.

“Ada kendala operasional dalam penggunaan bahan baku BBJP,” ujar Ramli memberi alasan.

Sejauh ini, uji coba maksimal yang pernah dilakukan mencapai 10-15 persen. Beberapa bahan baku malah lebih rendah dibandingkan yang lainnya, misalnya BBJP yang hanya digunakan 1-2 persen sebagai bauran batu bara. Penyebabnya, pasokan yang masih belum memadai. Berdasarkan rangkaian uji coba yang dilakukan Puslitbang PLN, saat ini bahan baku woodchips dan sawdust digunakan sebesar 5 persen. Akan tetapi, pihak PLTU Tenayan akan berupaya menaikkan bauran biomassa menjadi 10 persen, bahkan 15 persen.

“Puslitbang akan menguji coba lagi di angka 7 persen. Kalau indikator boiler semuanya baik, maka bisa dilanjutkan dan bahkan ditingkatkan jadi 10 persen, bahkan 15 persen,” ujar Ramli.

Salah satu sebab sulitnya memaksimalkan penggunaan bauran biomassa adalah karena kondisi mesin boiler PLTU Tenayan terpasang yang menggunakan tipe CFB (circulator fluidized bed). Tipe boiler ini memang telanjur dipasang untuk bahan baku batu bara. Penggunaan bauran biomassa tidak bisa dilakukan serampangan karena akan dapat merusak sistem kerja boiler.

“Harus berangsur dan melalui rangkaian uji coba,” ujarnya.

Hanya saja, karena kapasitas mesin boiler PLTU Tenayan ini besar, maka bahan bakunya juga sangat banyak. PLTU Tenayan memiliki kekuatan 2x110 MW dan memerlukan 3.000 ton batu bara per hari. Batu bara yang digunakan adalah jenis low rank coal/LRC (batu bara peringkat rendah) dan middle rank coal/MRC (batu bara peringkat menengah). LRC memiliki rata-rata 4.200 kalori (kkal/kg), sedangkan MRC memiliki rata-rata 4.200-5.000 kalori (kkal/kg). Sedangkan jenis high rank coal (HRC) dengan kalori 6.000 kkal/kg tidak digunakan di PLTU ini.

Bauran biomassa yang ideal, berdasarkan sejumlah uji coba sebelumnya adalah cangkang sawit. Sebab, kalori cangkang sawit ini bisa mencapai 3.800-4.000 kkal/kg. Ini jauh di atas woodchips atau sawdust yang hanya memiliki kalori berkisar 3.000-3.500 kkal/kg. Masalahnya, harga cangkang sawit bahkan lebih mahal dibandingkan batu bara. Jika batu bara hanya seharga Rp800 ribu per ton, maka cangkang sawit memiliki harga Rp900 ribu per ton, bahkan pernah Rp1,2 juta hingga Rp1,3 juta per ton.

“Makanya kami belum bisa menggunakan cangkang sawit ini. Tapi cangkang sawit digunakan juga di luar negeri seperti Korea dan Jepang untuk PLTU. Bahkan mereka sudah menggunakan biomassa ini 100 persen,” ujar Ramli.

Biomassa 100 Persen, Kenapa Tidak?

Penggunaan biomassa yang lebih maksimal sebenarnya pernah dilakukan di Riau pada PLTU Tembilahan. Manager Unit PLN Nusantara Power Services PLTU Tembilahan, Zais Ariyono menyebutkan, pihaknya memang pernah melakukan uji coba penggunaan biomassa sebanyak 70 persen, bahkan 100 persen. Bahan yang digunakan adalah cangkang sawit, yang memang memiliki kalori hampir setara dengan batu bara, sekitar 4.000 kkal per kg.

“Itu karena boiler kami di PLTU Tembilahan jenis stoker. Jadi bisa lebih adaptif dengan biomassa,” ujar Zais.

Secara teori, boiler jenis stoker ini bisa digunakan untuk biomassa hingga 70 persen. Tapi dalam uji coba, pernah dilakukan penggunaan biomassa hingga kapasitas maksimal, yakni 100 persen.

“Uji coba berhasil karena tidak ada masalah dengan boiler,” ujar Zais.

Boiler stoker memang berbeda dengan jenis CFB yang digunakan di PLTU Tenayan. Boiler jenis stoker ini juga digunakan di beberapa PLTU di luar negeri seperti Korea dan Jepang, yang kini 100 persen menggunakan biomassa, terutama cangkang sawit.

Dikatakan Zais, pengujian biomassa di PLTU Tembilahan pernah menggunakan tandan kosong (tankos) sawit, kulit sagu, hingga cangkang sawit. Penggunaan cangkang sawit terbukti paling baik karena pembakarannya yang sempurna. Sebab, kapasitas kalorinya sama dengan batu bara muda. Lalu kenapa tidak seterusnya digunakan cangkang sawit?

“Harganya yang tidak kompetitif. Jadi digunakan bahan lainnya,” ujar Zais.

Bahan lain yang diuji coba adalah woodchips, yang diuji coba pada Maret 2024 lalu. Awalnya diuji coba 5 persen dari kapasitas PLTU sebesar 2x7 MW. PLTU Tembilahan memerlukan pasokan batu bara sebesar 400 ton per hari untuk dua unit mesin boiler. Batu bara itu dibaurkan dengan 20 ton woodchips dan berhasil. Penggunaan bauran woodchips ini terus dilakukan dari Maret hingga Juli 2024. Pada Agustus 2024, dilakukan peningkatan bauran menggunakan woodchips sebesar 10 persen atau 40 ton per hari. Per bulan digunakan woodchips sebesar 1.200 ton.

Ada beberapa vendor yang memasok woodchips untuk PLTU Tembilahan, yakni PT Berkah Bara Riski Bersama, PT Borneo Maju Sejahtera, PT Bhakti Energi Sejahtera, dan PT Prima Khatulistiwa Sinergi. Masing-masing memiliki pasokan yang berbeda sesuai kontrak.

Komitmen Energi Baru dan Terbarukan

Zais Ariyono menyebutkan, di kalangan PLN sudah muncul keinginan kuat untuk menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT). Dalam hal PLTU yang sudah telanjur menggunakan batu bara, pihaknya terus berusaha meningkatkan bauran energi terbarukan ini. Sebab, kebijakan ini menjadi bagian dari transformasi PLN yang berkomitmen menggunakan energi hijau. Pemerintah juga sudah memiliki komitmen untuk menerapkan net zero emission pada 2060, dan sudah ada peta jalan (road map) yang  diadopsi dari KTT COP26 di Glasgow tahun 2021.

“Ini tentu memerlukan kolaborasi berbagai pihak dari hulu hingga hilir, sehingga transisi energi menuju energi terbarukan ini bisa dilaksanakan,” ujarnya.

Pada awal 2024, sebanyak 43 PLTU di Indonesia telah menggunakan bauran biomassa dengan berbagai macam varian bahan baku. PLN juga terus berusaha meningkatkan persentase bauran energi ini, termasuk jumlah PLTU yang menggunakan biomassa. Targetnya 52 PLTU. Sejauh ini, penggunaan biomassa dikalkulasi telah menurunkan emisi karbon hingga 1,6 juta ton CO2e. Selama empat tahun sejak 2021, peningkatan bauran energi terjadi signifikan pada 2024. Makanya diharapkan pada 2025, target dekarbonisasi dapat lebih besar, bahkan mencapai 10 juta ton CO2e.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebutkan, sebagai solusi energi bersih, pihaknya telah menyiapkan peta jalan (road map) untuk mempensiunkan dini (early retirement) PLTU batu bara. PLN akan menggantinya dengan energi terbarukan bersumber biomassa. Target pensiun dini PLTU ini diterapkan hingga 2056 dan dilakukan bertahap.

Pada 2040, misalnya akan ada PLTU dengan kekuatan total 6,7 GW yang bakal berhenti operasi. Ini terbagi atas 3,2 GW pembangkit yang berhenti beroperasi secara natural, dan 3,5 GW dengan skema early retirement.

Tentu semuanya perlu biaya besar dan komitmen kuat. Pemerintah kemudian meluncurkan mekanisme khusus, yakni energy transition mechanism (ETM) sebagai wujud komitmen itu. Untuk mengantisipasi rencana mempensiunkan PLTU agar tidak malah mengurangi pasokan energi kepada masyarakat, maka rencana itu dibarengi dengan melakukan pembauran biomassa. Jika pembauran berhasil mencapai 100 persen seperti pada PLTU-PLTU bertipe stoker, maka jumlah PLTU yang bakal pensiun bisa diminimalisir. Program ini bahkan bisa jadi antiearly retirement, karena “pensiunnya” PLTU tidak perlu lagi terlalu dini. PLTU bisa pensiun sesuai masa pakainya.

PLN juga melakukan dedieselisasi pada PLTD (pembangkit listrik tenaga diesel). PLTD akan diganti dengan energi baru dan terbarukan (EBT) berbasis bahan baku lokal. Berbagai rencana mempensiunkan PLTU dan PLTD itu tentunya akan membuat pasokan energi berkurang. Makanya, PLN terus menggesa pembangkit berbasis EBT seperti PLTS (pembangkit listrik tenaga Surya), PLTA (pembangkit listrik tenaga air), dan lainnya.

“Ditargetkan pada 2030, pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan bisa mencapai 20,9 GW,” ujar Darmawan.

Komitmen menggunakan EBT juga disampaikan Presiden Prabowo Subianto. Saat dirinya dilantik sebagai Presiden, pada 20 Oktober 2024 lalu, dia menyelipkan sebuah pidato yang tegas soal kemandirian energi. Swasembada energi ini didapatkan dari bahan-bahan lokal yang berbasis tanaman, seperti kelapa sawit, singkong, tebu, sagu, jagung, dan lainnya. Tentu juga sumber alternatif lainnya seperti panas Bumi, geothermal, Surya, dan air yang melimpah. Dia menekankan pentingnya swasembada energi, termasuk dari EBT karena kemungkinan terjadinya perang global yang sulit diprediksi. Dalam kondisi itu, tidak akan ada negara yang mau menjual sumber energinya kepada Indonesia.

“Pemerintahan yang saya pimpin nanti, akan fokus untuk mencapai swasembada energi,” ujar Prabowo.***

 

 

 

 

 

 

Editor : RP Edwar Yaman
#PLTU Tembilahan #pltu tenayan #limbah kayu #energi bersih