Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Inovasi Trimba, Segitiga Berjasa Penyelamat Abrasi Desa

Siti Azura • Kamis, 31 Oktober 2024 | 21:20 WIB

Suasana Wisata Mangrove Pangkalan Jambi, Kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bagan Batu, Kabupaten Bengkalis.
Suasana Wisata Mangrove Pangkalan Jambi, Kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bagan Batu, Kabupaten Bengkalis.

Berawal dari abrasi yang terus-menerus menggerus Desa Pangkalan Jambi, tepatnya pesisir laut, di Kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bagan Batu, Kabupaten Bengkalis, inovasi pun tercipta. Trimba, atau triangle mangrove barrier menjadi penyelamat bagi desa tersebut. Inovasi sederhana yang dikembangkan oleh pemerintah bersama Kelompok Mangrove Harapan Bersama dan sentuhan Kilang Pertamina Internasional RU II Sungai Pakning, ini nyatanya mampu memberikan kehidupan baru bagi desa yang sempat tergerus tersebut.

Laporan: SITI AZURA, Bengkalis

JANGAN bayangkan Trimba ini adalah alat canggih dengan high teknologi. Sebaliknya, justru Trimba hanya terbuat dari batang-batang kayu yang disusun membentuk segitiga yang menjadi barrier di daerah pesisir. Meski sangat sederhana, namun nyatanya inovasi ini memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dan efektif dalam penanaman mangrove.

Diceritakan oleh Pertamina melalui Officer Comrel and CSR RU II Sungai Pakning, Rahmat Hidayat inovasi ini didasari oleh adanya kerusakan lingkungan di pesisir.

"Awal melakukan pemberdayaan di sini, daerah ini hampir 150 meter itu tergerus abrasi. Dulu juga di daerah sini ada permukiman warga. Tapi karena dampak abrasi yang cukup luas, mau tidak mau warga direloaksi ke daratan yang lebih tinggi," ujarnya menceritakan.

Abrasi terjadi juga bukan tanpa sebab akibat. Adanya penebangan mangrove tidak teratur yang kayunya digunakan bahan bakar bangunan dan bahan arang menjadi pemicunya. Sehingga lokasi yang dulunya dipenuhi mangrove berubah  menjadi lokasi punahnya mangrove. Secara bertepat pula,  waktu itu pula ombak menghantam tebing-tebing di Desa Pangkalan Jambi sehingga terjadi abrasi yang cukup dahsyat di tahun 2004.

Berdasarkan itu, ia bersama warga yang terdiri dari Kelompok Mangrove Harapan Bersama, melakukan program social maping untuk memitigasi program apa yang cocok  diakukan untuk menanggulangi bencana di daerah tersebut.

"Kami pun melakukan inovasi yang kami sebut dengan Trimba atau Triangel Mangrove Barrier, yaitu alat pemecah ombak yang menurut kami sederhana. Kami buat untuk melakukan penanaman mangrove," lanjutnya.

Awalnya, sebelum kelompok melakukan inovasi ini, penanaman mangrove sudah sering dilakukan Namun, selalunya berakhir dengan kegagalan.

"Selalu gagal karena disebabkan saat warga menanam ini, arus pasang surut cukup kuat di sini," terang Rahmad lagi.

Akar mangrove yang belum kuat tak sanggup menghadapi pasang surut cukup tinggi, sehingga mangrove gagal ditanam. Ia mengklaim bahwa dengan inovasi trimba ini ternyata sangat efektif dan keberhasilannya hampir 100 persen.

"Misalkan kami menanam 300 mangrove dengan penahan ombak yang kami buat tadi, mangrove-nya berhasil tumbuh. Ombak yang pasang surut itu, ditahan dengan alat pemecah ombak yang kami buat tadi," jelasnya.

Menariknya lagi, karena terbuat dari bahan baku alami, alat pemecah ombak ini juga sangat bersahabat dengan lingkungan. Jadi, jika secara perlahan alat tersebut lapuk, laut dan lingkungan tak akan rusak.

Inovasi ini pun kini menghasilkan buah manis yang bisa dinikmati masyarakat. Kawasan itu jadi kawasan Wisata Mangrove yang membangkitkan ekonomi masyarakat.

Karena ada pemasukan dari uang masuk pengunjung hingga pengolahan mangrove dan hasil laut yang diminati oleh pengunjung. "Batang Terendam" Desa Pangaklan Jambi pun bangkit kembali.

 Baca Juga: Sambil Patroli Cegah Kejahatan Jalanan, Ditreskrimum Polda Riau Ajak Pemuda Wujudkan Pilkada Damai

Dulu Dicemooh, Sekarang Tuai Pujian

Sebelum tersentuh oleh Pertamina, dulunya masyarakat Desa Pangkalan Jambi sebetulnya sudah melakukan usaha secara swadaya. Tanpa modal besar, hanya keinginan yang kuat untuk mencegah abrasi.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Kelompok Mangrove Harapan Bersama, Alpan yang merupakan warga asli Desa Pangkalan Jambi. Ia ingat betul bahwa sejak tahun 2004, ia bersama 11 orang lainnya bahu-membahu menanam mangrove di daerah abrasi tersebut.

"Kalau bukan kita yang menalangi abrasi ini, siapa lagi," ujarnya bersemangat.

Warga membeli sendiri bibit-bibit mangrove untuk ditanam di bibir pantai. Namun, karena minimnya ilmu saat itu, banyak pohon yang gagal tanam. Hingga akhirnya Pertamina masuk dan membantu mereka pada tahun 2017.

"Pertamina dari tahun 2017 sudah memperhatikan kami sudah membantu kami dalam kegiatan kegiatan pelestarian mangrove," lanjutnya.

"Alhamdulillah saat ini, abrasi terhenti dan kami bisa melanjutkan kegiatan ini ke depannya," sambungnya.

Ia mengenang bahwa dulunya aksi ia dan kelompoknya untuk pelestarian mangrove dicemooh oleh warga lainnya.

"Dulu dicemooh sekarang disanjung," ungkapnya.

Bukan tanpa alasan ia dan kelompoknya mendapat sanjungan. Pasalnya, sejak keberhasilannya menanggulangi bencana abrasi dengan pelestarian mangrove, Desa Pangkalan Jambi yang "tenggelam" karena abrasi pun bangkit lagi.

"Sekarang warga bangga dan puas atas kegiatan kami karena bisa menghijaukan desanya kembali," ujarnya.

Terlebih kawasan Wisata Mengrove Pangkalan Jambi juga sudah menambah income masyarakat. Mulai dari uang masuk pengunjung sebesar Rp2 ribu per orang, penjualan hasil olahan mangrove dan laut cukup untuk dibagi-bagi kepada pegiat kelompok. Dari hasil tersebut tak kurang per bulannya anggota kelompok bisa mengantongi Rp1,2 juta.

Daerah tersebut juga sudah disetujui oleh Bupati Bengkalis menjadi zona konservasi. Dari 8 hektare luasnya, 90 persen di antaranya sudah ditanami puluhan ribu mangrove. Karena kesuksesan itu, pihaknya pun berterima kasih atas kontribusi Pertamina dalam hal ini Kilang Pertamina Internasional RU II Sungai Pakning yang sudah banyak memberikan kontribusi. Termasuk inovasi Trimba yang akhirnya menjadi penyelamat abrasi.

"Bantuan dari Pertamina banyak tak terhitung terutama sekali bibit, penanaman, bangunan (tempat wisata mangrove) semua dari Pertamina. Semua yang ada di sini dari Pertamima kecuali jalan," lanjutnya.

Untuk itu ia berharap kolaborasi ini bisa terus berjalan dan Trimba bisa terus dikembangkan untuk menghijaukan kampung mereka.***

 

 

Editor : RP Edwar Yaman
#inovasi #pertamina #mangrove #abrasi