Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ikhtiar PT RAPP melalui RER Menjaga Semenanjung Kampar: Warisan untuk Kehidupan

Gema Setara • Jumat, 9 Mei 2025 | 19:35 WIB

 

PT  Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) melakukan komitmen satu banding satu dalam pengelolaan Hutan Tanaman Industri (HTI).
PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) melakukan komitmen satu banding satu dalam pengelolaan Hutan Tanaman Industri (HTI).
 


“Kalau tidak ada laut hampalah perut, bila tidak ada hutan binasalah badan”, “kalau binasa hutan yang lebat, rusak lembaga, hilanglah adat”. Ungkapan ini jelas menunjukkan besarnya hubungan antara orang Melayu dengan alam sekitarnya. Semenanjung Kampar, di sinilah segelintir hutan yang masih tersisa dan dipertahankan melalui kolaborasi perusahaan dan masyarakat. Ikhtiar ini dilakukan PT Riau Andalan Pulp and Paper melalui Restorasi Ekosistem Riau (RER). Ini sejalan dengan visi APRIL 2030 untuk memberikan dampak positif pada iklim, alam dan masyarakat dengan tetap menjadi perusahaan yang terus tumbuh dan senantiasa memperhatikan aspek keberlanjutan. Dari hutan yang sejompot (sedikit, red) inilah kehidupan alam, manusia, flora dan fauna diwariskan.

Laporan GEMA SETARA, Pekanbaru

SIANG menjelang petang yang membahang, matahari mulai mengarak rebah ke ufuk barat. Saat itu, kami hendak menuju ke Tasik Serkap di Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan. Rombongan ini terdiri dari sejumlah wartawan lokal dan nasional, serta pendamping dari humas PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Turut serta juga tim dari Restorasi Ekosistem Riau (RER).

Bersama legamnya air sungai, perjalanan yang memakan waktu hampir lima jam dengan menggunakan spead boat itu terasa tak melelahkan. “Nyanyian” satwa-satwa khas hutan endemik kawasan itu sahut menyahut mengiringi perjalanan kami. Panas? Pastinya, namun seiring melajunya spead boat hawa panas itu tersapu angin, tubuh kami pun terasa segar kembali.

Perlahan  spead boat yang kami tumpangi bergerak meninggalkan pangkalan.  Suaranya terus menderu membahana di kawasan hutan. Awalnya sungai yang dilewati lumayan luas sekitar lima sampai delapan meter, namun semakin jauh kami masuk ke dalam kawasan hutan sungai yang dilewati menyempit. Alur sungai ditutupi pohon-pohon rasau dan bakung.

Petugas yang membawa spead boat harus berhati-hati karena alur sungai yang dilewati terkadang berbelok-belok, sementara badan sungai sangat kecil sekali sekitar dua meter saja, kalau dihadapan ada speed boat atau pompong nelayan yang lewat, salah satunya terpaksa harus mengalah dan harus menepi terlebih dahulu, jika tidak demikian kecelakaan bisa saja terjadi.

Sekali-kali kami harus menunduk guna mengelak daun rasau  tajam yang menjuntai dari pohonnya dan sekali-kali pula kami harus mengelak dari tunggul pohon yang masih tercacak di dalam badan sungai. Tak jarang daun rasau yang tajam berhasil menyayat bagian tubuh kami, kondisi ini memang tidak terelakkan lagi karena badan sungai yang sangat sempit.

Walau demikian, kami tetap gembira, karena perjalanan yang demikian sangat menantang dan memacu adrenalin. Perjalanan terus dilanjutkan, deru mesin spead boat terus menderu. Sejumlah satwa-satwa hutan seperti monyet bergelayutan dan sekali-sekali mereka melompat dari satu pohon ke pohon lainnya.

Burung raja udang tak henti-hantinya terbang dari atas spead boat  yang kami tumpangi, dan dibeberapa pohon kayu yang tinggi juga terlihat burung rangkong sedang beristirahat.  Di beberapa titik, kami menemukan rumah-rumah nelayan.

Kamipun berhenti, melihat aktivitas para nelayan itu. Ada yang sedang menjemur ikan, ada yang sedang memperbaiki alat tangkap tradisionalnya, ada yang sedang menyalai ikan, ada pula yang sedang duduk-duduk santai.

“Beginilah aktivitas kami. Kalau tak pergi menangkap ikan, pastilah akan menyalai ikan, memperbaiki alat tangkap atau pun duduk berbual dengan nelayan-nelayan lainnya. Seperti itulah kami menghabiskan hari, sepekan atau sebulan sekali kami pulang ke kampung untuk menjual hasil tangkapan ikan,” ujar salah seorang nelayan saat kami temui saat itu.

Tasik Serkap sendiri merupakan surganya beragam jenis ikan konsumsi. Bahkan di kawasan itu ada ikan khas yang tidak akan ditemukan di daerah lainnya di Indonesia. Nelayan setempat menyebutnya dengan ikan merah. Banyaknya ikan di daerah itu karena hutan dan sungainya masih terjaga dengan baik.

Perjalanan kami ke Tasik Serkap ketika itu, selain melihat aktivitas para nelayan binaan PT RAPP juga akan melihat kawasan yang sengaja tidak dijamah bahkan sengaja di pelihara oleh perusahaan. Kawasan Tasik Serkap sendiri masuk dalam kawasan Semenanjung Kampar di mana kawasan ini memiliki kedalaman gambut yang cukup dalam dan lebih dikenal dengan kawasan kubah gambut. Kawasan ini dikelola Restorasi Ekosistem Riau (RER).

Semenanjung Kampar di Provinsi Riau terletak di Pesisir Timur Pulau Sumatra. Area ini adalah sebuah ekosistem rawa gambut yang unik, dengan keanekaragaman hayati tropis yang berada di atas lapisan rawa gambut yang tebal.

Sayangnya, kawasan hutan tersebut telah terdegradasi selama bertahun-tahun akibat perambahan dan kegiatan ilegal lainnya yang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Degradasi juga menyebabkan hilangnya spesies dan pengeringan rawa gambut, yang meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan.

Pada   2013 lalu, Grup APRIL mengumumkan dukungan sebagai sponsor dana sebesar 17 juta dolar AS untuk membantu menjalankan program restorasi ekosistem multi-tahun atau Restorasi Ekosistem Riau (RER).

 

Perjalanan menyusuri sungai menuju ke Tasik Serkap, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan.  Tasik Serkap salah satu areal hutan yang dikelola Restorasi Ekosistem Riau.
Perjalanan menyusuri sungai menuju ke Tasik Serkap, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan. Tasik Serkap salah satu areal hutan yang dikelola Restorasi Ekosistem Riau.

Sekilas RER

Program  RER berawal pada  2012 setelah Grup APRIL menerima izin restorasi ekosistem pertama dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia. Kini, RER memiliki lima izin restorasi ekosistem yang meliputi wilayah seluas 150.693 hektare di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang di Provinsi Riau, Sumatera, Indonesia.

Izin selama 60 tahun yang diberikan  pemerintah bertujuan untuk melindungi dan memulihkan produktivitas hutan yang terdegradasi dan keseimbangan ekosistemnya. RER bertekad mencapai tujuan tersebut dengan melindungi kubah gambut dan keanekaragaman hayatinya, memulihkan hutan yang terdegradasi dan aspek hidrologinya,serta menciptakan lapangan kerja yang berperan penting bagi penduduk lokal dalam upaya pelestarian sumber daya hutan.

Selain itu, program ini juga bertujuan untuk menghasilkan manfaat ekosistem penting lainnya seperti air bersih, penyimpanan karbon, pengelolaan perikanan, dan penyediaan hasil hutan bukan kayu yang berkelanjutan.

“Program RER dimulai dengan perlindungan dan pemulihan 20.000 hektare hutan gambut di Semenanjung Kampar pada tahun 2013. Pada COP21 di Paris tahun 2015, Grup APRIL meningkatkan cakupan program ini menjadi lebih dari 150.000 hektare dan berkomitmen menyediakan pendanaan sebesar  100 juta dolar AS untuk program perlindungan dan pemulihan jangka panjang dalam sepuluh tahun pertama,” kata Communication Manager RER Junior Norris Marpaung.

Dikatakannya, pada  2020, Grup APRIL meningkatkan dampak upaya konservasinya dengan mengaitkan komitmen ini dengan pasokan serat perusahaan. Mereka berkomitmen menginvestasikan 1 dolar AS untuk setiap ton kayu dari hutan tanaman industrinya yang dikirim ke pabrik.

“Hingga saat ini, skema pendanaan baru ini telah menyalurkan sekitar  50 juta dolar AS untuk program konservasi.  Saat ini, RER merupakan salah satu program restorasi lahan gambut terbesar yang dibiayai oleh sektor swasta di Asia Tenggara,” ungkapnya.

Mengapa RER Penting?

Mengapa RER ini penting? Menurut Norris Marpaung lagi karena, pertama Semenanjung Kampar merupakan hutan hujan lahan gambut utuh terakhir dan terbesar di Sumatra, kedua Menyimpan karbon dalam jumlah besar, ketiga memiliki ekosistem yang mendukung masyarakat lokal (air bersih, pengendali debit air/banjir, ikan, madu dan sebagainya.

Keempat, menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat dan komoditas untuk pasar lokal, nasional dan global, kelima keanekaragaman hayati yang unik  dan Semenanjung Kampar ditetapkan sebagai Bird Life International (2003) Important Bird Area (IBA),  IUCN (2006) Key Biodiversity Area (KBA), WCS, WWF (2007) Tiger Conservation Landscape Class II (habitat for 50 tigers).

Dalam menjalankan programnya, tambah Norris Marpaung RER memiliki tiga fokus, pertama keanekaragaman hayati.  “Penyusunan strategi pengelolaan Semenanjung Kampar dan Pulau Padang secara berkelanjutan memerlukan adanya pengukuran yang terperinci serta pemahaman atas keanekaragaman hayati yang terdapat pada lokasi tersebut,” ujarnya.

RER, lanjut dia,  berkolaborasi dengan beberapa pihak untuk semakin memahami kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki, salah satunya dengan FFI yang sejak 2015,  dalam melakukan survei keanekaragaman hayati di RER.

“Hingga Desember 2024, teridentifikasi 896 jenis spesies hidup di RER, dengan 14 dalam kategori kritis, 26 dalam kategori terancam dan 40 rentan berdasarkan IUCN Red List,” ujarnya lagi.

Selain itu, RER juga berkolaborasi dengan para peneliti, seperti dengan Dr Rory Dow dalam penelitian Odonata, Dr David Lee dalam penelitian mengenai beruang madu dan beberapa peneliti lainnya baik dari dalam maupun luar negeri.

Area Gambut Terbesar di Asia Tenggara

Kedua iklim. Semenanjung Kampar merupakan salah satu area gambut terbesar di Asia Tenggara, dengan keanekaragaman hayati yang kaya serta stok karbon yang tinggi. Di hutan rawa gambut tropis, tidak terdapat penyebab alami kebakaran.

Kebakaran biasanya terjadi akibat penebangan pohon dan pembukaan lahan, yang mengakibatkan vegetasi menjadi cukup kering untuk terbakar.

“RER mengadopsi pendekatan berbasis masyarakat untuk melakukan pencegahan kebakaran yang disusun dan diterapkan secara sukses oleh APRIL sebagai bagian dari Program Desa Bebas Api. Upaya ini didukung dengan kemampuan pemadaman api secara cepat apabila terjadi kebakaran dalam kawasan RER.  Sampai saat ini tidak tercatat adanya titik panas atau kebakaran di dalam area RER Semenanjung Kampar sejak tahun 2015,” ungkapnya.

Catatan yang baik ini diperoleh berkat gabungan beberapa faktor, termasuk penempatan secara aktif petugas penjaga keamanan di tiap titik akses masuk ke dalam kawasan RER, patroli harian untuk meredam penggunaan api untuk melakukan pembukaan lahan, implementasi program Desa Bebas Api oleh APRIL kepada masyarakat yang memiliki keterikatan dengan RER, serta kesepakatan antara RER dan para nelayan di Sungai Serkap untuk melarang penggunaan api.

Baca Juga: 10.743 Pelajar SD di Inhil Ikut Ujian, Disdik Pastikan UAS Berjalan Lancar

“Sebelum tahun 2013, area RER mengalami pembalakan liar dan penebangan kayu komersial selama puluhan tahun yang mengakibatkan hilangnya pohon-pohon besar. Untuk memudahkan akses mereka, para penebang kayu ilegal membuat jaringan kanal drainase dengan panjang beberapa kilometer dari pinggiran sungai hingga ke lokasi-lokasi yang terletak jauh di dalam hutan. Kanal-kanal drainase berukuran antara 1-9 meter dan dengan kedalaman 0,5-1,5 meter,” ujarnya.

Dari kanal besar ini, dibentuk jaringan rel pengangkut untuk memindahkan gelondongan kayu dari dalam hutan ke arah kanal, dan gelondongan kayu tersebut kemudian dipindahkan dengan cara diapungkan di sungai.

Begitu penebangan kayu berhenti, kanal tetap beroperasi dan mengakibatkan gambut menjadi kering akibat air yang terus mengalir keluar dari gambut, mengubah sifat kelembapan tanah, membuatnya kering hingga merusak hutan.

Untuk itu, salah satu tujuan RER ialah memulihkan hidrologi hutan gambut dengan menutup kanal-kanal drainase dan mengembalikan ketinggian muka air hingga mendekati fluktuasi musiman alami. Dengan memulihkan ketinggian muka air, hutan gambut dapat tumbuh kembali, subsidensi dapat diminimalkan, kebakaran akan dapat lebih mudah dicegah, dan potensi emisi karbon dari gambut yang kering atau terbakar akan dapat dikurangi atau dihilangkan.

“RER berencana menutup seluruh kanal sepanjang sepanjang 201 Km dalam waktu sepuluh tahun sejak tahun 2016. Sampai dengan tahun 2024, kami telah berhasil menutup 28 kanal, dengan panjang total mencapai 140 kilometer menggunakan 80 dam,” tambahnya.

SDA Tak Terbatas

Ketiga masyarakat. Partisipasi masyarakat dan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan merupakan aspek yang sangat penting dalam konservasi lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati di Semenanjung Kampar dan Pulau Padang.

“Lebih dari 55.000 orang (Badan Pusat Statistik, 2024) tinggal di tepi sungai dan garis pantai di luar konsesi restorasi RER, sehingga partisipasi dan pemahaman masyarakat setempat menjadi penting bagi keberhasilan misi RER,” ujarnya menambahkan.

Dikatakannya lagi, terletak di pesisir timur Sumatra, program RER di Semenanjung Kampar secara langsung menjangkau sekitar 17.300 penduduk (BPS, 2024) di tujuh desa. Masyarakat ini bergantung pada lingkungan, mengandalkan perpaduan kegiatan pertanian dan sumber daya alam untuk mata pencaharian mereka.

Kegiatan ekonomi mereka (masyarakat, red) bergantung pada produktivitas lahan, sungai, dan harga komoditas. Hasil panen pangan meliputi padi, jagung, pinang, cabai, dan sayuran lainnya. Kegiatan perkebunan merupakan penghasil pendapatan yang signifikan melalui panen kelapa sawit dan karet.

“Sejak awal  2000-an, panen sarang burung walet (Aerodramus fuciphagus) telah muncul sebagai sumber pendapatan baru, dengan masyarakat setempat membangun banyak rumah burung bertingkat untuk memanen sarang yang berharga. Selain itu, hutan rawa gambut di wilayah ini menyediakan hasil hutan bukan kayu yang penting seperti ikan, madu hutan, dan tanaman obat, yang semakin mendukung perekonomian lokal,” tuturnya.

Terletak di lepas pantai timur Sumatra, 34.000 orang (BPS, 2024) tinggal di 20 desa, di Pulau Padang. Di sini program RER secara langsung menjangkau sekitar 12.500 penduduk di tujuh desa. Pulau ini merupakan rumah bagi keanekaragaman budaya yang kaya, dengan masyarakat adat Akit, serta masyarakat Melayu, Banjar, Jawa, Batak, dan Bugis.

Selama beberapa dekade, sumber mata pencaharian utama di Pulau Padang adalah perkebunan karet, sagu, kelapa, dan penebangan kayu, yang semuanya telah menjadi bagian integral dari perekonomian pulau sejak tahun 1960-an. Pertanian dan perikanan terus menjadi sumber pendapatan bagi penduduk pulau.

“Secara historis, masyarakat Semenanjung Kampar dan Pulau Padang memandang hutan rawa gambut sebagai sumber daya alam yang tak terbatas dan terbuka, tersedia bagi semua untuk kayu, perikanan, dan perburuan untuk mendukung mata pencaharian masyarakat,” tambahnya.

Namun, saat ini, seiring dengan berkembangnya ekonomi berbasis perkebunan sejak tahun 1980-an, mata pencaharian telah beralih ke pengembangan tanaman komersial untuk membeli barang dan jasa, dengan sedikit ketergantungan pada sumber daya hutan, kecuali untuk perikanan air tawar dan pasokan kayu. 

Melalui kolaborasi  dengan masyarakat ini, RER berupaya untuk mempromosikan praktik berkelanjutan yang menyelaraskan kesejahteraan ekonomi dengan konservasi blok-blok terakhir hutan rawa gambut yang sedang diupayakan perlindungan dan pemulihannya oleh RER,” ungkapnya.

“Dengan meningkatkan mata pencaharian lokal dan mengurangi ketergantungan masyarakat pada ekstraksi sumber daya yang tidak berkelanjutan, kami bertujuan untuk menciptakan model pengelolaan hutan yang mendukung baik masyarakat maupun lingkungan,” tutupnya.***

Editor : Edwar Yaman
#Ikhtiar PT RAPP #Menjaga Semenanjung Kampar #APRIL 2030 #semenanjung kampar #Anugerah Jurnalistik APRIL APR #Anugerah Jurnalistik APRIL APR AJAA 2025 #Warisan untuk Kehidupan #restorasi ekosistem riau #pt rapp #RER #iklim