Sejarah Rantau Kuantan tak lepas dari kegiatan tahunan pacu jalur. Sekarang, tradisi budaya ini sudah dikenal luas masyarakat. Bahkan, mendunia. Keberhasilan itu bukanlah pekerjaan yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Tetapi pacu jalur di Rantau Kuantan memiliki sejarah yang panjang di negeri ini.
Laporan DESRIANDI CANDRA, Telukkuantan
DAYUNGAN serentak anak pacuan, peluit dan instruksi sang Timbo Ruang, kelincahan tari togak-luan anak si Tukang Tari, maupun aksi si Tukang Onjai di bagian belakang jalur membelah Sungai Kuantan dengan cepat. Itulah pacu jalur. Jalur tidak akan pernah meraih juara, kalau satu sama lainnya tidak kompak dan saling mendukung.
Pacu jalur menggambarkan falsafah kehidupan penuh muatan nilai-nilai luhur masyarakat dan menjadi spirit dalam membangun tatanan kehidupannya. Di sana menggambarkan semangat kebersamaan, kegotong royongan, persatuan dan silaturahmi yang kokoh, kesamaan visi dan misi. Mulai dari proses pembuatan jalur sampai dengan pelaksanaan pacu jalur.
Tahun ini, pacu jalur akan dihelat selama lima hari. Ini merupakan helat yang ke-122 tahun sejak diperlombakan pada tahun 1903 dalam kisah masyarakat adat Rantau Kuantan. Pemkab bersama panitia pacu jalur menyiapkan diri seelok mungkin. Sebab semua mata dunia kini tertuju pada tradisi turun temurun dari nenek moyang masyarakat adat Rantau Kuantan. Ini menyusul viralnya pacu jalur ke berbagai belahan dunia.
Momentum ini tentu saja akan dimanfaatkan Pemkab Kuansing sebagai ajang promosi. Apalagi, sekarang Kabupaten Kuansing sedang berjuang agar tradisi dan budaya pacu jalur bisa masuk UNESCO, organisasi milik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mengurusi soal pendidikan, keilmuan maupun kebudayaan.
Sebelum pacu jalur dikenal sebagai sebuah tradisi dan budaya yang dipertontonkan dalam rangkaian festival yang disiapkan semeriah mungkin, dalam sejarah Rantau Kuantan (Kuansjng), awalnya jalur hanya sebagai sarana transportasi rakyat.
“Pacu jalur yang kita saksikan ini punya sejarah panjang, sudah 122 tahun. Dan awalnya sebuah alat transportasi utama bagi masyarakat atau desa di Rantau Kuantan,” kata Datuk Paduko Rajo Ir Emil Harda MM MBA, salah seorang orang adat di Kenegerian TelukKuantan, kepada Riau Pos, Senin (14/7).
Menurut Emil Harda, wilayah Kabupaten Kuantan dulu dikenal dengan sebutan Rantau Kuantan dan Antau Singingi. Dilintasi dua sungai besar, yakni Sungai Kuantan dan Sungai Singingi. Kedua sungai ini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Rantau Kuantan dan Antau Singingi. Seperti minum, mandi dan lainnya.
Selain itu, kedua sungai ini berfungsi sebagai sarana transportasi untuk menghubungkan satu kampung (desa) atau banjar yang satu ke yang lainnya. Dari rangkuman sejarah yang dihimpun dari berbagai sumber, budayawan Kuansing, maupun pelaku sejarah yang masih ada yang ia temui, pada abad ke 17 masehi, sarana transportasi darat belumlah berkembang seperti sekarang ini.
Maka perahu menjadi transportasi utama masyarakat banjar (desa) di Rantau Kuantan terutama bagi mereka yang tinggal di sepanjang Sungai Batang Kuantan. Mulai dari Kecamatan Hulu Kuantan di bagian hulu sampai ke Cerenti di bagian hilirnya.
Ketika itu, perahu yang digunakan belumlah sepanjang jalur sekarang ini. Tapi perahu kenek (kecil) dengan panjang 2 meter sampai 2,5 meter dan lebar 60 cm dengan muatan satu orang. Perahu ini biasa digunakan orang untuk pergi ke ladang menyadap karet atau getah. Selain itu digunakan untuk memancing, menambai (menangkap ikan semacam jaring berukuran kecil) atau mengguntang (alat penangkap ikan dengan pancing yang dikaitkan dengan apung-apung).
Dalam perkembangannya, masyarakat Rantau Kuantan membuat perahu yang lebih besar, yang dapat memuat empat orang. Jenis perahu ini bisa digunakan untuk menangkap ikan, mengangkut padi dan hasil tanaman lainnya. Kemudian dalam perkembangannya, dibuatlah perahu tambang untuk mengangkut orang yang dikenakan ongkos atau biaya sebagai alat transportasi umum yang bisa memuat delapan sampai 15 orang. Digunakan sebagai sarana transportasi dari desa satu ke desa lainnya yang letaknya saling berseberangan di tepi sungai.
Setelah itu, masyarakat Rantau Kuantan membuat perahu yang lebih besar yang panjangnya mencapai 15-20 meter dan lebar 1 meter sampai 1,5 meter. Perahu ini memiliki daya angkut sampai satu ton yang dipergunakan untuk mengangkut hasil bumi seperti karet, kelapa, tebu, padi, dan barang dagangan lainnya seperti beras, gula, dan tepung.
Perahu ini yang kemudian menjadi cikal bakal perahu yang lebih besar yang sekarang dikenal dengan nama jalur. Dalam Wikipedia, Jalur diartikan sebuah perahu panjang yang terbuat dari kayu atau pohon dengan panjang 25-40 meter dan lebar 1,5 meter.
Jalur mulai populer di tengah masyarakat Rantau Kuantan sejak abad ke 19 masehi atau sekitar 1900-an. Dari segi bentuk dan ukuran, jalur ini lebih halus, ramping dan lebih panjang dari perahu godang (perahu besar) yang dibuat sebelumnya.
Perahu tradisional masyarakat Rantau Kuantan yang sekarang disebut jalur dilengkapi dengan haluan dan kemudi yang panjang serta selembayung yang berukir untuk memberi keindahan pada jalur. Selain sebagai mahkota pada jalur, selembayung berfungsi sebagai tempat pegangan bagi tukang onjai (pembuat irama untuk menggerakkan jalur).
Dalam perkembangan masa selanjutnya, menurut tokoh adat Kenegerian Telukkuantan Datuk Paduko Rajo Emil Harda, perahu besar atau jalur berinovasi. Muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah. Ada berupa kepala ular, harimau, siposan rimbo, singa, kalajengking, dan lainnya. Baik di bagian lambung maupun selembayung. Bahkan ada pula yang menambahkan dengan perlengkapan payung, tali temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri).
Perubahan itu, menandai fungsi jalur menjadi tidak sekadar alat transportasi. Namun juga menunjukkan identitas sosial. “Karena hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk yang bisa menaiki jalur berhias itu,” papar Emil Harda
Kapan awal mula pacu jalur? Dijelaskan Emil, berangkat dari kemeriahan antarkampung, maka mulai diadakan lomba pacu jalur sekitar 1900-an. Ketika itu, untuk para juara lomba tidak ada peres (hasil/hadiah) yang diperebutkan.
Yang ada hanya acara makan bersama warga sekampung. Dengan menu makanan tradisional seperti konji barayak, godok timbual, lopek jantan, dan batino sakombuik godang, paniaran manso, dan lidah kambing.
Beberapa kampung atau desa ada juga yang menyediakan hadiah berupa marewa (bendera kain warna warni berbentuk segitiga) dengan renda di bagian tepinya. Itu diberikan kepada peraih juara I sampai juara IV. Yang membedakan hanya pada ukuran kainnya. Marewa kini lazim disebut tonggol juara.
Biasanya lomba pacu jalur diadakan pada acara-acara kebesaran Islam. Itu menandakan pacu jalur sudah ada sebelum masa penjajahan. Pada zaman penjajahan Belanda menduduki Kota Telukkuantan, Rantau Kuantan pada 1903 memanfaatkan tradisi dan kebudayaan pacu jalur ini untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina setiap tanggal 31 Agustus.
Karena pacu jalur dilaksanakan hanya sekali dalam satu tahun, maka kedatangan festival ini dipandang masyarakat Rantau Kuantan sebagai datangnya tahun baru (tambaro) dan dilaksanakan di Telukkuantan. Mereka yang menang, juara I sampai IV diberi hadiah.
Usai penjajahan Belanda dan Jepang, ketika ekonomi masyarakat Rantau Kuantan mulai membaik, harga karet dan komoditi pertanian lainnya membaik, maka tradisi dan budaya pacu jalur tidak lagi digelar untuk memeriahkan hari lahir Ratu Wilhelmina, tetapi untuk menyambut dan menyemarakkan kemerdekaan RI. Biasanya dilaksanakan 23-26 Agustus setiap tahun.
Hadiahnya pun berubah. Bila dulu di zaman Belanda hadiah besar yang menjadi kebanggaan adalah bendera besar yang disebut marewa atau tonggol juara sekarang, maka sekarang hadiah yang diperebutkan berupa hewan ternak kerbau, sapi dan kambing ditambah piala bergilir, dan piala tetap.
Pacu jalur yang mengiringi hari kemerdekaan itu merupakan hari terbesar bagi masyarakat Rantau Kuantan. Dalam setiap perayaan itu sebanyak 20-30 jalur berpacu. Bahkan pernah hampir 40 jalur pada tahun 1958, 1959 dan 1960. Telukkuantan dan Baserah adalah dua kecamatan yang selalu menyelenggarakan pacu jalur tiap kemerdekaan RI.
Maka pada saat itu populer dengan istilah, “pacu godang di Toluak dan pacu Kenek di Basora” (Pacu jalur tradisional skala besar di Telukkuantan dan skala kecil di Baserah). Sebagai orang adat dan budaya, Emil Harda berharap kearifan lokal dalam pacu jalur tetap dijaga.
Seperti mewajibkan setiap jalur yang diperlombakan ada si Tukang Tari, Tukang Timbo Ruang, dan Tukang Onjai. Melibatkan orang-orang adat sehingga nilai-nilai dari tradisi pacu jalur tidak lari dari maknanya.
Emil Harda Datuk Paduko Rajo dan mantan Sekretaris Limbago Adat Nogori (LAN) Kabupaten Kuansing turut senang dan berbangga, pacu jalur berada di puncak ketenaran. Bahkan menjadi tranding topik pertama dunia melalui viralnya Aura Faming Challenge Rayyan Arkan Dikha.
Sebagai pemangku adat dan pernah menjadi penasihat ahli Bupati Kuantan Singingi bidang adat dan budaya, dirinya berharap agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi terkait sejarah dan segala hal yang terkait dengan pacu jalur.
Karena banyak yang berkomentar dan menguraikan tentang hal tersebut, kata Emil, tahun 2023 lalu, dia bersama Datuk Panglimo Dalam, Bupati Kuantan Singingi Suhardiman Amby telah menerbitkan buku yang menguraikan secara lengkap tentang pacu jalur tradisional tersebut dengan judul “Pacu Jalur Tradisional Kabupaten Kuantan Singingi Melintasi Masa”.
Perubahan sejarah panjang tradisi pacu jalur, dari awalnya hanya sebagai sarana transportasi rakyat Rantau Kuantan tempo dulu, mengangkut hasil pertanian, penyeberangan antarkampung atau banjar, menurut Suhardiman Amby sekarang sudah berubah.
Pacu jalur kini masuk dalam Top Ten Kharisma Even Nusantara (KEN) pariwisata Indonesia. Diakui sebagai sebuah warisan budaya tak benda (WBTB), meraih pengakuan dari MURI Indonesia. Terbarukan dalam hampir satu bulan ini, pacu jalur viral di belahan dunia.
Sebagai anak negeri, ini merupakan hasil perjalanan panjang anak negeri yang dibawa dari para leluhur dulu secara turun temurun. “Karena itu, atas nama pribadi dan pemerintah daerah mengapresiasi semua kerja keras masyarakat Kuansing, termasuk kalangan jurnalis, media massa maupun konten-konten kreator. Tanpa kebersamaan, pacu jalur tak akan bisa menembus belahan dunia. Sekarang tugas kita mendaftarkannya ke UNESCO,” ujar Suhardiman Amby.
UNESCO adalah Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), badan khusus yang didedikasikan untuk membangun perdamaian melalui kerja sama internasional dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya.(das)
Editor : Arif Oktafian