Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ketika Kotoran Sapi Mengubah Mukti Sari Menjadi Desa Energi Berdikari

Hary B Koriun • Jumat, 31 Oktober 2025 | 16:36 WIB
Ketua Kelompok Tani Bhina Mukti Sari, Sudarman (kiri) didamping Officer CID Zona Rokan South PT Pertamina Hulu Rokan, Lidia Sari, menjelaskan tentang cara kerja reaktor biogas di Desa Mukti Sari.
Ketua Kelompok Tani Bhina Mukti Sari, Sudarman (kiri) didamping Officer CID Zona Rokan South PT Pertamina Hulu Rokan, Lidia Sari, menjelaskan tentang cara kerja reaktor biogas di Desa Mukti Sari.

Desa Mukti Sari menjadi contoh bagaimana limbah kotoran hewan, manusia, dan limbah pasar diubah menjadi energi biogas. Tidak hanya menghasilkan energi hijau yang digunakan untuk memasak, tetapi juga pupuk organik ramah lingkungan yang menjadi penyumbang pendapatan asli desa (PAD).

Laporan HARY B KORIUN, Tapung

PAGI baru beranjak siang, tapi terik terasa memanggang, ketika lelaki itu, Ngadeni, bercerita tentang awal-awal dia dan keluarganya sampai di lokasi transmigrasi Desa Mukti Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau. Dia lupa tanggal, bulan, dan hari apa ketika sampai. Yang dia ingat hanya tahunnya: 1990. Namun dia ingat persis, dia masih sangat muda ketika itu, belum 30 tahun. Dia mengaku bersyukur ketika sampai, sawit yang ditanam oleh bapak angkat, PTPN V, sudah tumbuh menghampar hijau di atas dua hektare tanah yang menjadi jatah per kepala keluarga (KK) para transmigran.

Saat itu, kata lelaki yang lahir di Ponorogo, Jawa Timur (Jatim) itu, sawit-sawit itu belum dibagi kepada para transmigran. Hanya saja, mereka sudah tahu bakal mendapatkan dua hektare kebun plasma itu nanti jika saatnya dibagikan. Semua masih atas nama kelompok tani. Dia dan para transmigran lainnya, mendapatkan tanah untuk pekarangan berukuran 100 x 25 meter. Itu yang pasti ketika itu. Di atasnya sudah ada rumah sederhana sekitar 6 x 6 yang terbuat dari kayu dengan atap seng.

“Itu sudah cukup bagi kami ketika itu. Yang penting saya dan keluarga sudah dapat jaminan bahwa kami akan memiliki tanah yang luas, yang sudah ada kebun sawit di atasnya,” ujar lelaki yang mengaku kini sudah berumur 60 tahun lebih itu dengan logat khas  Jawa Timuran yang medhok, Selasa (21/10/2025).

 Baca Juga: Bahas Penegakan Hukum dan Pengawasan Keuangan Negara, Kejaksaan Tinggi Riau Datangi BPKP

Kebahagiaan itu bertambah ketika tak lama kemudian, sekitar dua tahun setelah itu, sawit-sawit itu sudah mulai berbuah pasir. Lalu, buah-buah dari pohon sawit itu benar-benar sudah layak menjadi buah yang bisa dijual ke pabrik. Meski hasilnya dibagi rata karena masih dikelola oleh kelompok tani, Ngadeni dan penduduk lainnya sudah sangat bersyukur. Secara ekonomi mereka tidak kesulitan lagi seperti ketika baru awal datang yang mengandalkan jatah semua bahan makanan dari pemerintah.

Ngadeni dan penduduk lainnya di Desa Mukti Sari kini sudah menikmati hasil kebun sawit itu secara penuh. Setelah replanting --saat biaya penanaman dan lainnya yang sebelumnya ditanggung PTPN V sudah lunas dibayar secara cicil dari hasil yang didapat secara bertahun-tahun-- kebun itu kini sudah menjadi kepemilikan pribadi per KK. Karena proses memanen hanya sebulan dua kali, banyak waktu luang yang dimilikinya. Itulah yang dimanfaatkannya untuk berternak sapi. Awalnya dia hanya memiliki satu ekor, kemudian beranak-pinak.

Bersama warga lainnya, didirikanlah kelompok tani (poktan) khusus para peternak sapi dan pengelolaan biogas di Mukti Sari, yakni Poktan Bhina Mukti Sari. Pada perkembangannya, kemudian berdiri lagi Poktan Biotama Agung Lestari yang khusus untuk produksi pupuk organik. Dari sini, cerita tentang energi baru terbarukan biogas yang dikelola masyarakat Mukti Sari dikenal luas masyarakat dan banyak dijadikan percontohan. Tidak hanya di Kampar dan Riau, tetapi sampai ke provinsi tetangga, juga Jawa.

***

SUDARMAN dan Hasan Mahyin bukanlah lulusan universitas. Keduanya hanyalah penduduk desa biasa yang kesehariannya mendodos sawit di ladangnya, seperti masyarakat lainnya di Desa Mukti Sari. Namun, saat ini, sambil tetap mendodos sawit dua kali sebulan, dua lelaki paruh baya itu menjadi penanggung jawab program energi terbarukan yang dikembangkan di desa mereka. Sudarman memimpin Poktan Bhina Mukti Sari, pengelola reaktor biogas; dan Mahyin adalah Ketua Poktan Biotama Agung Lestari yang khusus mengelola dan memproduksi pupuk yang bahan bakunya adalah bioslurry, limbah akhir dari kotoran yang sebelumnya digunakan sebagai bahan baku biogas.

Jelas Sudarman, dunia energi terbarukan seperti biogas ini baginya adalah hal yang baru. Awalnya, ketika program ini dikenalkan oleh PT PHR kepada masyarakat Muktisari, dia benar-benar tak tahu apa-apa. Baik proses awalnya maupun teknologinya. Yang dia tahu, ketika itu, hanya membesarkan sapi-sapi miliknya: ngarit mencari rumput, membersihkan kandang, dan kegiatan lainnya yang tak jauh dari urusan pembesaran sapi tersebut. Namun, ketika para pendamping dari YRE yang dijadikan mitra oleh PHR untuk program ini, dia mulai ikut belajar. Selain belajar langsung di desa dengan pendampingan dari YRE, dia juga beberapa kali mengikuti pelatihan di tempat lain.

Dari sana, Sudarman kemudian secara serius terlibat langsung dalam semua persiapan program biogas ini. Mulai dari pembuatan reaktor hingga memahami bagaimana gas itu sampai di dapur setiap rumah masyarakat yang ikut program ini. Dia terlibat langsung dalam pembangunan reaktor, dari yang mulanya hanya 8 unit reaktor pada 2022, menjadi 20 reaktor hingga saat ini.

Awalnya, kata Sudarman –juga seperti disampaikan Kades Waryono-- susah sekali meyakinkan para pemilik sapi untuk masuk ke kelompok tani. Syaratnya memang harus punya sapi atau limbah tahu dan limbah lainnya yang bisa diolah. Banyak dan macam-macam alasan mereka. Ada yang takut nanti masakan mereka berbau kotoran, terjangkit penyakit, dan lainnya.

“Namun pelan tapi pasti, akhirnya banyak yang masuk dan merasakan manfaatnya. Hingga kini, kami memanfaatkan kotoran 30-40 sapi. Jumlahnya akan berkurang kalau pas Idul Adha karena dijual untuk kurban. Namun setelah itu terus bertambah lagi sapinya seiring kelahiran baru,” ujar Sudarman.

Begitu juga dengan Mahyin. Lelaki berusia 41 tahun itu awalnya juga tak tahu apa-apa dengan teknologi biogas ini. Bersama Sudarman dan penduduk lainnya, lama-lama dia memahami setelah ikut pelatihan dan terlibat langsung dalam perencanaan hingga praktik pembangunannya. Juga, awalnya dia berpikir, setelah menghasilkan biogas, limbah-limbah berupa bioslurry dibuang begitu saja, tak bisa dimanfaatkan lagi. Ternyata, limbah dari limbah biogas itu masih bisa dikelola menjadi pupuk dengan nilai ekonomis tinggi.

Untuk mengelola limbah biogas menjadi pupuk ini, dia dan masyarakat Muktisari juga dilatih secara intens oleh pendamping dari YRE. Mulai dari campuran apa saja untuk produk pupuk cair maupun kompos padatnya. Termasuk bagaimana proses pembuatannya. Ketekunan dalam mengikuti pelatihan dan praktik langsung, membuat Mahyin akhirnya paham. Dia sekarang malah sering menjadi pembicara atau intrukstur, baik untuk mereka yang baru belajar, maupun kepada para tamu dari daerah lain yang datang dan ingin tahu proses pembuatan pupuk tersebut.

Awalnya, pupuk-pupuk tersebut dipakai oleh masyarakat Muktisari dan desa sekitarnya yang ingin menanam sayur-sayuran seperti kangkung, terong, cabai, pepaya, melon, dan lainnya. Tapi belakangan juga menjadi pupuk organik yang bisa dipakai sebagai pupuk sawit. Karena permintaan terus meningkat, akhirnya dia dan seluruh masyarakat yang terlibat dalam kelompok tani khusus pupuk ini menjadi bersemangat. Apalagi banyak pembeli yang datang dari berbagai daerah.

“Awalnya kami pakai sendiri pupuknya. Tapi kemudian banyak yang datang dari Duri, Minas, Kandis dan daerah lainnya di Riau. Lalu datang para pembeli dari Sumbar. Seiring waktu, informasi tentang pengembangan biogas kami dan produk pupuk juga sampai ke beberapa provinsi di Jawa. Mereka banyak yang pesan dan kami mengirimkannya,” jelas lelaki kelahiran Kediri (Jatim) ini.

Dengan harga per karung (50 kg) Rp150 ribu untuk pupuk padat dan Rp25 ribu untuk satu liter pupuk cair, Poktan Biotama Agung Lestari menjadi salah satu entitas penyumbang pendapatan asli desa (PAD) yang lumayan signifikan. Hasil penjualan itu masuk ke PAD Muktisari dan dikelola oleh kelompok tani yang akhirnya juga ikut  menyejahterakan anggotanya karena mereka juga akan mendapatkan sisa hasil usaha (SHU).

“Pembuatan pupuk ini menjadi salah satu lapangan kerja tersendiri bagi masyarakat, anggota atau tidak di kelompok tani, terutama anak-anak muda. Nyaris tidak ada pengangguran di desa kami,” kata lelaki murah senyum itu.

***

Baca Juga: Pekanbaru Hadapi Pengurangan TKD Rp400 Miliar dari Pusat, Wako Agung: Kami Masih Berjuang agar Tidak Sebesar Itu 

“RAIHAN, Mas. Raihan Nur Triansyah,” kata lelaki muda itu ketika Riau Pos salah mengeja namanya, saat ngobrol sambil makan siang nasi kotak di tenda depan rumah Ketua Poktan Bhina Mukti Sari, Darmansyah, pada siang yang panas itu. “Pasti teringat nama grup musik nasyid asal Malaysia itu ya?” lanjut Community Involvement and Development (CID) Officer Zona Rokan South PT PHR itu sambil tersenyum.

Mewakili Manager CID PT PHR, Iwan  Ridwan Faizal, Raihan menjelaskan, pembangunan reaktor biogas di Desa Muktisari ini adalah bentuk dari tanggung jawab sosial PT PHR kepada masyarakat di daerah wilayah operasional. Kebetulan Desa Mukti Sari memiliki sumber daya yang memungkinkan untuk membangun teknologi itu, terutama limbah ternak sapi. Potensi ini sebelumnya disurvei oleh tim dari PHR dan mitra, yakni YRE, untuk memastikan bahan bakunya mencukupi demi keberlanjutan program.

“Mendorong penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan adalah komitmen kami,” jelas alumni Sekolah Kedinasan Kementerian Sosial di Bandung ini.

Didampingi Officer CID Zona Rokan South, Lidia Sari, Raihan menjelaskan, ada empat keuntungan yang didapatkan dari program ini. Yang pertama adalah ramah lingkungan (nature). Besaran energi yang dihasilkan setara 197.478.8 kWh. Kemudian, reduksi emisi mencapai 50 ton CO2ek/tahun dari 20 biodigester reaktor biogas. Dan, limbah kotoran terkelola mencapai 685 ton dari 2022  hingga September 2025.

Yang kedua adalah kesejahteraan (wellbeing). Program ini meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui akses energi terbarukan yang dikembangkan dan dampak dari perubahan perilaku  (behaviour change) masyarakat. Kemudian, energi terbarukan (EBT) yang dihasilkan menggantikan kayu bakar dan gas tabung yang sebelumnya dipakai masyarakat. Lalu, memberi akses pelatihan berbasis gender (GALS) dan literasi keuangan kepada 43 perempuan penduduk desa sebagai  penerima manfaat.

Yang ketiga, di bidang ekonomi, terjadi penghematan pembelian tabung gas mencapai Rp75.000/rumah tangga per bulan. Kemudian, penghematan pembelian pupuk mencapai Rp222.177 per pengguna per bulan. Secara riil,  total omzet penjualan pupuk mencapai Rp74 juta, sejak produksi pada November 2023  hingga April 2025.

Yang terakhir, keuntungan yang didapat adalah bidang sosial kemasyarakatan.  Yakni, akses kebutuhan dasar (memasak) terpenuhi melalui biogas bagi bagi lebih 100 orang; tercipta kelompok Tani Biotama Agung Lestari sebagai penerima manfaat dan sarana pengembangan diri; terciptanya ekosistem desa dengan circular economy yang memanfaatkan limbah yang selama ini terbuang dan termanfaatkan dengan baik dan efektif; dan terbitnya Peraturan Desa tentang DEB.

“Semua itu adalah keuntungan riil yang didapat masyarakat yang terlibat dalam program ini,” kata Raihan.

Dalam waktu dekat, kata Raihan, pihaknya akan mendorong pendirian koperasi agar masyarakat semakin mandiri dalam pengelolaan biogas dan semua rangkaian sistem ekonomi yang telah dibangun, termasuk memberdayakan para perempuan di sana. Secara bertahap juga, PHR akan mengurangi intervensinya dalam program DEB di Mukti Sari.

Hal ini sesuai harapan Kades Waryono agar program ini terus berkelanjutan, menjangkau, dan melibatkan masyarakat lebih banyak dan luas lagi. Juga anak-anak muda yang mungkin saat ini masih merasa kurang nyaman mengelola kotoran. Waryono juga ingin di daerah lain dikembangkan energi biogas ini agar ketahanan energi masyarakat tak tergantung dengan pemerintah lagi.

Saat ini, penduduk Desa Mukti Sari berjumlah 5.380 jiwa dengan 727 kepala keluarga (KK). Kata Waryono, seluruh penduduk mendapatkan dampak tidak langsung dari program biogas dan produksi pupuk, baik mereka yang terlibat langsung di kelompok tani maupun yang tidak. Namun, penduduk yang terlibat dalam beberapa kelompok tani yang didirikan, seperti Ngadeni, atau Sudarman dan Mahyin yang menjadi pengelola, juga yang lainnya, sangat paham dengan program ini karena merasakan langsung dampak dan manfaatnya bagi dia dan keluarganya. Dari kotoran sapi itu, kini mereka menikmati gas ramah lingkungan dan pupuk organik yang menyumbang PAD desa, yang akhirnya bisa menyejahterakan masyarakat.

“Sejak Mukti Sari menjadi Desa Energi Berdikari Berbasis Biogas ini, tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat hingga 30 persen,” kata Waryono saat istirahat di rumah pengolahan pupuk, tak jauh dari Hasan Mahyin yang sedang mengolah kotoran sapi dengan skop di tangannya. Tak jauh dari sana, Ngadeni, salah seorang pelaku dan saksi mata saat penduduk transmigrasi dari Jawa tiba di Desa Mukti Sari, tersenyum. Senyum yang penuh arti, salah satunya menjelaskan rasa syukurnya bisa hidup bahagia di desa yang kini menjadi sorotan karena inovasi energi ramah lingkungan memanfaatkan limbah kotoran hewan ternak itu.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Edwar Yaman
#Desa Energi Berdikari #kotoran sapi #Mukti Sari