Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Lembaran Duka dari Galodo di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam; Tragedi yang Mengoyak Tanah dan Ingatan

Afiat Ananda • Jumat, 5 Desember 2025 | 15:44 WIB
Satu unit mobil warga dibawa air bah yang melanda Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Sabtu (29/11/2025).
Satu unit mobil warga dibawa air bah yang melanda Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Sabtu (29/11/2025).

Sabtu (29/11), Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat berubah menjadi sebuah lembah sunyi yang ‘’dihiasi’’ aroma tanah basah dan isak tangis tertahan. Sesekali terdengar gemerisik sekop menggali tanah liat yang masih lembap oleh banjir bandang.

Laporan AFIAT ANANDA, Agam

Sisa reruntuhan bangunan berserakan di kiri kanan jalan saat Riau Pos baru saja menginjakan tanah Palembayan, Selasa (2/12). Di kecamatan itu baru saja terjadi tragedi yang merenyuhkan hati. Air bah dari hulu Gunung Danau, meluap dan meluluhlantakkan banyak perkampungan di Palembayan pada Kamis (27/11) petang.

Secara administrasi, Palembayan terdiri dari 9 nagari. Lebih dari setengahnya, yakni Nagari Ampek Koto, Nagari Baringin, Nagari Salareh Aia, Nagari Salareh Aia Barat, Nagari Salareh Aia Timur, Nagari Salareh Aia Utara, dan Nagari Sipinang disapu bersih oleh galodo. Rumah-rumah rata dengan tanah. Ada pula yang terkubur oleh lumpur yang dibawa air ke hilir sungai.

Hari itu, beberapa alat berat milik pemerintah sudah mulai berdatangan. Beberapa petugas, TNI-Polri terlihat hilir mudik di sekitar lokasi. Sirene ambulans meraung-raung membawa 11 jenazah yang berhasil dievakuasi ke RSUD Lubuk Basung. Empat hari pascamusibah, sudah 102 jenazah korban yang berhasil dievakuasi.

“Dari 102 jenazah yang dievakuasi, sebanyak 97 jenazah berhasil diidentifikasi. Sedangkan lima jenazah lainnya masih belum teridentifikasi,” ungkap Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Anom Karibianto yang berada di lokasi untuk melaksanakan tugas Bawah Kendali Operasi (BKO) pada siang itu.

Warga Nagari Salareh Aia bernama Izul menceritakan, peristiwa mencekam ini terjadi pada Kamis (27/11) petang sekitar pukul 17.30 WIB. Saat itu hujan deras tidak berhenti sejak hampir dua pekan lamanya. “Yang terlama itu dua hari terakhir sebelum banjir. Itu cuman reda beberapa menit, lalu kembali deras,” sebut Izul.

Petang itu, lanjut dia bercerita, warga meneriakkan bahwa ada air bah dari hulu dekat Koto Alam. Namun sejumlah warga banyak yang tidak percaya. Namun beberapa menit kemudian, suara gemuruh menyerupai helikopter terdengar dari arah sungai. “Suaranya seperti helikopter. Kemudian air bah menghempas permukiman. Bunyinya seperti bom meledak,” ungkap Izul.

Sontak suasana langsung berubah mencekam. Ia berupaya menyelematkan beberapa keluarganya. Seperti istri, mertua, dan beberapa saudara iparnya. Sedangkan bibi dari keluarga istrinya, tidak berhasil selamat. “Banyak warga yang terjepit dalam rumah yang roboh. Makanya tidak bisa keluar. Kondisinya saat itu kami hanya bisa menyelamatkan diri masing-masing dan orang-orang terdekat,” sambungnya.

Dari yang ia lihat, air bah menghempas rumah warga dan melambung melebihi tinggi pohon kelapa. Banyak permukiman yang rata dan terseret arus air bah. Bahkan hingga kini, masih banyak kampung-kampung yang terkubur. “Masih banyak yang belum ditemukan. Saudara dari istri saya saja ada yang punah satu keturunan. Sangat berat memang,” tuturnya.

Warga yang selamat berdiam di posko pengungsian. Ada juga yang menumpang ke rumah karib kerabatnya di daerah sekitar yang tidak terkena dampak. Namun masih banyak yang belum ditemukan dan tidak ada kabar sama sekali.

Di Nagari Sipinang, beberapa jorong masih terisolasi. Ini karena longsor yang terjadi di bukit pertengahan kampung menutup akses semua jalan utama. Ada sekitar 2 ribuan warga yang menghuni kampung tersebut. Sejak Sabtu (29/11), tim gabungan Brimob Polda Riau dan Polda Sumbar berupaya menembus isolasi.

Tiga hari setelahnya, yakni pada Rabu (3/12), 11 titik longsor menuju perkampungan warga berhasil ditembus. Senyum sumringah masyarakat terlihat dari balik timbunan tanah. Sontak ribuan masyarakat berbondong-bondong ke titik longsor terakhir tersebut.

Warga tersebur berasal dari empat jorong. Yakni Jorong Gumarang I, Jorong Gumarang II, Jorong Silungkang, dan Jorong Tantaman. Setelah jalan yang tertimbun longsor berhasil ditembus, tim gabungan Brimob langsung memberikan bantuan kepada masyarakat. “Sebelumnya kami tidak tersentuh. Sudah hampir seminggu sejak kejadian. Listrik padam, air bersih tidak ada. Tidak ada makanan,” ujar Vivi, salah seorang warga di lokasi.

Tim membagikan beberapa kebutuhan untuk masyarakat. Tumpukan logistik diangkut dengan menggunakan sepeda motor yang ditambahkan dua keranjang. Ada susu untuk anak-anak dan balita, ada biskuit, ada popok bayi, ada mi instan, ada beras hingga susu kental manis. Jumlahnya cukup untuk seribuan warga.

Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Anom Karibianto yang berada di lokasi mengatakan, ada 11 titik longsor di jalan yang menghubungkan kampung di Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. “11 titik ini berhasil kami tembus dalam dua hari menggunakan ekskavator,” ungkapnya.

Jalur tersebut merupakan jalur vital yang menghubungkan Kecamatan Palembayan ke Nagari Silungkang, hingga ke Kota Bukittinggi. Di jalur ini terdapat beberapa desa yang pada saat bencana terjadi, warga tidak bisa beraktivitas. “Sehingga warga kesulitan untuk mendapat akses bantuan. Alhamdulillah sudah tertembus beberapa jorong. Kami akan masih lanjut sampai semua titik benar-benar bisa dilewati,” ujarnya.

Bayi Fathan Selamat
Peristiwa banjir bandang yang terjadi di Kecamatan Palembayan, memang menyisakan banyak cerita pilu. Salah satunya dialami oleh bayi laki-laki umur tiga bulan bernama Fathan. Warga Desa Sungai Selaras Air Timur ini kehilangan seluruh keluarganya.Fathan selamat tersangkut di sebuah pohon setelah rumahnya disapu bersih oleh banjir bandang pada Kamis (27/11) petang.

Wali Nagari Selaras Air Timur Ahmad Fauzi mengungkapkan, seluruh anggota keluarga Fathan tidak ada yang selamat. “Anak kita ini tinggal di rumah bersama ibu, ayah, nenek, om, tante, dan kakaknya. Tidak ada yang selamat kecuali Fathan yang pada malam itu ditemukan tersangkut di pohon,” ungkap Wali Nagari, Rabu (3/12).

Lebih jauh disampaikan dia, ayah Fathan sempat dilarikan ke RSUD Lubuk Basung. Namun nyawanya tak tertolong dan menghembuskan nafas terakhir pada Jumat (28/11). Paman Fathan juga sempat dilarikan ke RS. “Paman sempat dibawa ke rumah sakit. Berbarengan dengan Fathan. Namun almarhum tak tertolong,” paparnya.

Lebih jauh diceritakan Wali Nagari, Fathan dan keluarga memang tinggal di pinggir sungai. Dekat dari jembatan yang menghubungkan Desa Selaras Air Timur dengan Desa Seberang Air. Di sana ada sekitar lima hingga enam rumah. Saat banjir bandang, semua rumah tersebut habis tersapu.

“Memang warga di sini banyak yang tinggal di pinggir sungai. Karena dari cerita nenek moyang kami, bahkan di dalam Tambo (cerita turun temurun, red) kami, tidak pernah ada air sungai meluap sampai sebesar ini. Makanya banyak warga yang biasa saja tinggal di pinggir sungai,” tambahnya.

Hingga kini, lanjut Wali Nagari, masih banyak warganya yang belum ditemukan. Bahkan laporan dari warganya, masih ada warga lain yang tertimbun. Namun karena keterbatasan alat berat, proses evakuasi masih belum bisa dilakukan. “Dengan jumlah alat berat yang ada saat ini, memang belum cukup. Kami berharap ada bantuan tambahan alat berat,” harapnya.

Alih Fungsi Lahan
Dalam Tambo (cerita turun menurun) warga Palembayan, belum ada sejarahnya air bah sebesar saat ini. Maka dari itu banyak warga memilih tinggal di tepian sungai. Entah karena murkanya alam, sungai yang dulunya menjadi sumber penghidupan warga, seketika berubah menjadi pencabut kehidupan.

Wali Nagari Selaras Air Timur, Ahmad Fauzi mengatakan, hulu sungai berada di bukit yang memunggungi Danau Maninjau. Di sana terdapat telaga yang serupa danau kecil. Oleh warga diberi nama Bukit Danau.

Di bibir bukit danau inilah, hutan yang dulunya lebat dengan pohon penyangga, beralih fungsi menjadi ladang sawit. “Memang banyak pokok-pokok sawit disana. Kami tidak tau apakah ini ada kaitannya,” ungkap Ahmad Fauzi.

Kata dia, sungai yang membelah Palembayan, sebelumnya hanya memiliki lebar sekitar 100 meter saja. Setelah banjir bandang, lebarnya mencapai 1.000 meter. Batu-batu besar turun dari bukit. Ada ratusan rumah di pinggiran sungai yang tersapu habis. Ia sendiri tidak menyangka peristiwa pilu ini benar-benar terjadi.

“Sama sekali tidak menyangka. Memang pada kejadian, saya sedang berada di kampung seberang bersama Bapak Kapolsek. Saat kejadian, saya langsung datang dan melihat semuanya sudah rata dengan tanah,” ujarnya.

Kuburan Massal
Suasana duka pekat menyelimuti Kampung Tengah, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Rabu (3/12) petang. Sepetak lahan kini berubah menjadi tempat peristirahatan terakhir para korban banjir bandang dan longsor dahsyat. Warga bergotong-royong melakukan pemakaman massal untuk puluhan jenazah yang terus ditemukan dari balik tumpukan material bencana.

Ium, salah seorang warga Kampung Tengah, mengungkapkan hingga kini, setidaknya ada 33 jenazah telah dimakamkan secara massal di lokasi tersebut. Banyak di antaranya harus dikebumikan dalam satu liang lahat karena kondisi tubuh yang sudah tidak memungkinkan untuk dimakamkan satu per satu. “Ada yang satu lubang itu berisi 20 jenazah. Ada yang belasan, ada juga tiga. Daripada membusuk, kami kuburkan cepat,” ujar Ium.(das)

Editor : Arif Oktafian
#bencana #agam #sumbar #Galodo #Palembayan