Selasa (25/11) malam, sekitar pukul 21.00 WIB menjadi detik-detik yang tak akan pernah dilupakan Lilis Susi Liana. Air bah dari Sungai Meureudu dalam waktu singkat merendam rumahnya di Desa Beurawang, Kecamatan Meureudu, hingga ketinggian lebih dari empat meter. Desa tersebut menjadi salah satu wilayah terparah terdampak banjir bandang.
Laporan Firhan, Meureudu
Seusai menunaikan Salat Isya di rumahnya, Lilis menidurkan bayinya yang masih berusia 17 bulan. Tak lama berselang, adiknya membangunkannya dengan panik. Air banjir tiba-tiba naik begitu cepat, nyaris tanpa memberi waktu untuk menyelamatkan barang-barang berharga.
“Saya enggak sempat ambil apa-apa. Airnya terlalu cepat naik,” ujar Lilis saat ditemui Rakyat Aceh (RPG) di lokasi pengungsian Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Ahad (30/11).
Dalam kondisi panik, Lilis hanya memikirkan keselamatan anak-anaknya. Ia harus menyelamatkan empat orang anak seorang diri. Saat kejadian, suaminya tidak berada di rumah karena sedang bekerja di Lueng Putu dan tidak mengetahui situasi keluarganya yang terjebak banjir. “Yang penting nyawa anak dulu yang saya selamatkan,” katanya.
Lilis bersama anak-anaknya kemudian mengungsi ke sebuah rumah panggung tradisional Aceh yang letaknya lebih tinggi. Namun tempat itu pun tidak sepenuhnya aman. Air masih masuk hingga setinggi mata kaki. Lebih memilukan lagi, di rumah tersebut tidak ada persediaan makanan.
Kondisi itu memaksa Lilis dan anak-anaknya bertahan tanpa makan selama dua hari tiga malam. Puasa yang mereka jalani bukan karena niat ibadah, melainkan karena keadaan yang memaksa. “Kami puasa 2 hari 3 malam. Bayi ini juga ikut puasa, padahal umurnya masih 17 bulan,” tutur Lilis dengan suara bergetar.
Bagi Lilis, menahan lapar masih bisa ia lakukan. Namun melihat bayinya ikut menahan haus dan lapar menjadi penderitaan tersendiri. Asi pun tak lagi keluar karena tubuhnya tidak mendapat asupan makanan. “Itu yang buat saya sedih. Air hujan saya tampung untuk kasih dia minum,” ujarnya sambil meneteskan air mata.
Saat arus banjir semakin deras, Lilis meminta keponakannya mengumandangkan azan. Di tengah kepanikan dan gelapnya malam, azan menjadi doa dan harapan agar mereka tidak hanyut. “Kami azan sampai empat kali. Saya berdoa jangan hanyut di sini. Kasihan bayi ini, dia enggak berdosa,” katanya.
Air sempat surut, namun kembali meninggi. Warga berupaya meminta pertolongan tim SAR untuk evakuasi. Namun derasnya arus membuat tim penyelamat tidak berani masuk ke lokasi tempat Lilis dan beberapa warga lain terjebak.
Malam itu, listrik padam. Bersama warga lainnya, Lilis berinisiatif menggunakan tali dan kayu sebagai pegangan untuk keluar sedikit demi sedikit menuju jalan besar. Bayinya ia gendong di atas kepala saat menyeberangi arus banjir yang deras. “Saya gendong dia di atas kepala sambil nyebrang,” ucapnya.
Lilis baru kembali bertemu dengan suaminya setelah tiba di posko pengungsian. Kini di pengungsian yang serba terbatas, perhatian Lilis kini tertuju sepenuhnya pada kondisi kesehatan bayinya. Anak keempatnya yang baru berusia 17 bulan itu diketahui mengalami gizi buruk dan membutuhkan asupan nutrisi yang cukup serta penanganan khusus.
Kondisi tersebut membuat Lilis semakin khawatir, mengingat lingkungan pengungsian yang serba terbatas, baik dari sisi fasilitas kesehatan maupun ketersediaan makanan bergizi. “Anak ini tidak sama dengan bayi-bayi yang lain. Dia memang gizi buruk,” kata Lilis yang saat itu didampingi saudarinya seorang petugas kesehatan.
Ia mengaku sangat membutuhkan bantuan susu dan makanan tambahan seperti roti untuk menunjang pertumbuhan anaknya. Kondisi gizi buruk pada balita, terlebih di tengah situasi darurat bencana, berisiko memperburuk daya tahan tubuh anak.
Minimnya asupan gizi selama banjir, ditambah puasa paksa selama dua hari tiga malam, membuat kondisi sang bayi semakin rentan terhadap penyakit. Kondisinya berat badannya tidak ideal dan kepalanya agak membesar. Lilis berharap ada perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait untuk memastikan kebutuhan gizi anaknya terpenuhi secara berkelanjutan.
Ia juga mengaku kesulitan memberikan ASI karena kondisi fisiknya yang lemah akibat kekurangan makanan. Sementara itu, akses terhadap susu formula dan makanan pendamping ASI di pengungsian masih sangat terbatas. “Yang saya harapkan sekarang cuma kesehatan anak saya. Saya takut kalau tidak cepat ditangani, kondisinya semakin parah,” ujarnya.
Dalam situasi bencana seperti ini, Lilis menilai balita dengan kondisi gizi buruk seharusnya mendapat prioritas penanganan, mulai dari pemeriksaan kesehatan rutin, pemberian makanan tambahan, hingga pendampingan medis.
Ia berharap pemerintah daerah, dinas kesehatan, serta lembaga kemanusiaan dapat memberi perhatian lebih terhadap anak-anak rentan di pengungsian, agar mereka tidak menjadi korban lanjutan dari bencana yang telah merenggut rasa aman dan kesehatan mereka. “Saya butuh susu dan roti. Anak ini gizi buruk,” katanya.
Banjir memang pernah terjadi di Desa Beurawang sebelumnya, namun menurut Lilis, tidak pernah separah kali ini. Rumahnya yang berada di dataran rendah dekat sungai, dengan kondisi bangunan yang sudah rapuh, kini semakin tidak layak huni.(smg/adz/rpg)
Editor : Arif Oktafian