Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Kesaksian Warga yang Terdampak Galodo di Palembayan, Sumatera Barat; "Kami Mengira Sudah Mulai Kiamat"

Redaksi • Senin, 5 Januari 2026 | 11:28 WIB
Wali Nagari Salareh Aia Timur A Fauzi (kiri) berada di lokasi bekas rumahnya yang disapu galodo saat menemani Ketua Masjid Masyithah Pekanbaru Drs H Novri Wahyudi MSi saat meninjau lokasi bencana, Sabtu (3/1/2026).
Wali Nagari Salareh Aia Timur A Fauzi (kiri) berada di lokasi bekas rumahnya yang disapu galodo saat menemani Ketua Masjid Masyithah Pekanbaru Drs H Novri Wahyudi MSi saat meninjau lokasi bencana, Sabtu (3/1/2026).

Sabtu (3/1), rombongan Gerakan Masjid Peduli Bencana (GMPB) yang diinisiasi jemaah Masjid Masyithah Pekanbaru tiba di lokasi bencana, Nagari Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam Sumatera Barat.

Laporan ABDUL KADIR BEY, Palembayan

SIANG itu, hari ke-36, sejak galodo (banjir bandang) melanda Palembayan, 27 November lalu. Salah seorang warga yang menjadi saksi mata, Roni mengira hari itu sudah kiamat.

‘’Kejadian sekitar pukul 17.15 WIB (pukul 5 sore, red), posisi hujan. Hujan berkepanjangan lebih kurang 15 hari. Yang kami nampak kejadian itu, bukan lagi galodo, puting beliung seperti pengetahuan selama ini. Kami mengira sudah mulai kiamat. Tapi Allah SWT berkata lain, rupanya masih galodo belum kiamat,’’ ujarnya.

Roni menceritakan luapan air Sungai Tananggang, Salareh Aia Timur sampai ke pucuk kayu. ‘’Tinggi air penglihatan kami lebih kurang 100 meter (m),’’ kata Roni.

Ledakan air pertama inilah yang banyak memakan korban. Kejadian berlangsung sekitar 15 menit dalam tiga gelombang besar. Air turun seperti gunung bercampur material padat. Semua yang kena langsung hanyut apalagi ada dorongan material. Setelah itu air turun seperti biasa.

Rumah di sekitar sungai hancur semua, malam itu warga bersama-sama mencari korban. Ada yang bisa dievakuasi langsung dilarikan ke rumah sakit, namun sebagian warga meninggal di lokasi.

Saat meninjau lokasi bencana siang itu, rombongan jemaah masjid menyaksikan air sungai surut, kondisi tanah lunak masih dipenuhi lumpur. Bahkan ada yang terperosok lumpur. Sejumlah ruas jalan menuju Nagari Salareh Aia Timur hancur, sebagian aspal jalan ambruk dan tampak sisa-sisa batang kayu. Namun akses jalan bisa dilalui.

Dampak Bencana
Wali Nagari Salareh Aia Timur, A Fauzi (30) mengatakan, jumlah korban jiwa di wilayahnya mencapai 105 orang dan 19 orang masih belum ditemukan. Sekitar 200 rumah habis disapu galodo.

Warga yang terdampak bencana mencapai 2 ribu orang. Kebanyakan mereka mengungsi secara mandiri. ‘’Ada yang menumpang di tempat keluarga dan rumah tua berdunsanak, sebagian mengungsi di fasilitas umum seperti musala, masjid dan tenda-tenda pengungsian,’’ ungkap Fauzi.

Rumah wali nagari adalah salah satu korban galodo, namun keluarganya selamat karena tidak berada di rumah saat kejadian. ‘’Rumah disapu galodo, alhamdulillah istri selamat,’’ ujarnya.

Pemulihan Jangka Panjang
Untuk kondisi hari ini, masa pemulihan, bahan pokok seperti beras dan minyak goreng masih dibutuhkan warga. Masyarakat di desa ini lebih kurang 5 ribu jiwa. ‘’Walaupun separuhnya yang terkena langsung bencana, pada umumnya keseluruhan warga terdampak karena penghasilannya dari sawah dan kebun yang ada di pinggir sungai. Walaupun rumahnya tidak rusak, tapi mata pencahariannya rusak karena galodo. Pemulihan ini sangat lama jadi kita perlu untuk bekal masyarakat supaya mereka tenang,’’ ujar Wali Nagari.

Fauzi mengucapkan terima kasih atas uluran tangan jemaah Masjid Masyithah yang mengantarkan langsung bantuan sekaligus melihat kondisi masyarakat. ‘’Mudah-mudahan dengan ujian dan cobaan yang kami rasakan, bisa kita ambil ikhtibar hikmah di mana pun kita berada,’’ harapnya.

Ketua Masjid Masyithah, Drs H Novri Wahyudi MSi menyerahkan bantuan 750 kilogram (kg) beras, minyak goreng, barang pecah belah, perlengkapan mandi, sepatu booth (47 pasang) untuk kegiatan masa pemulihan, perlengkapan salat berupa kain sarung, mukena dan Al-Qur’an.

Selain itu juga ada air mineral, madu, roti, jajanan anak-anak, obat-obatan dan vitamin. Rombongan juga membawa ikan asin 12 kg dan jengkol 75 kg. Penyerahan bantuan diadakan di Surau Tuanku Ibadat. Semua barang bantuan jemaah dibawa langsung dengan empat unit mobil.

‘’Misi kita misi kemanusiaan. Kita terinspirasi rumah ibadah selalu terjaga dalam setiap bencana. Karena itu kita mulai gerakan ini dari masjid. Terima kasih kepada semua donatur,’’ ujar Novri.(c)

Editor : Arif Oktafian
#sumatera barat #Galodo #kiamat #Palembayan