Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Jejak Sejarah Masjid Agung Al-Huda Indragiri Hilir; Lebih Seabad Berdiri, Jadi Saksi Perjalanan Kota Tembilahan

Redaksi • Senin, 9 Maret 2026 | 20:06 WIB

Masjid Agung Al-Huda di Jalan Sudirman Tembilahan berdiri megah. Foto diambil, Ahad (8/3/2026).
Masjid Agung Al-Huda di Jalan Sudirman Tembilahan berdiri megah. Foto diambil, Ahad (8/3/2026).

Masjid Agung Al-Huda Tembilahan bukan sekadar tempat ibadah bagi masyarakat Kota Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Masjid yang berdiri di tepian Sungai Indragiri ini menyimpan cerita tentang bagaimana peradaban kota pesisir itu tumbuh dari jalur sungai.

Laporan ALI NURMAN, Tembilahan

SEKITAR awal 1900-an, ketika Tembilahan masih berupa kawasan permukiman kecil di tepian sungai, masyarakat membangun masjid sederhana dari kayu beratap sirap. Lokasinya sengaja dipilih di tepi sungai karena pada masa itu sungai merupakan “jalan raya” utama.

Perahu-perahu pedagang, nelayan, hingga pelancong dari berbagai daerah hilir mudik melintasi Sungai Indragiri. Bagi para pelintas sungai, masjid ini menjadi tempat singgah. Banyak di antara mereka yang menambatkan perahu di tepi sungai hanya untuk menunaikan salat. 

Masjid Al-Huda tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi titik pertemuan masyarakat pesisir, pedagang, dan ulama yang datang berdakwah. Seiring waktu, kawasan di sekitar masjid berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat.

Permukiman tumbuh, perdagangan semakin ramai, dan Tembilahan perlahan berkembang menjadi kota. Dalam perjalanan panjang tersebut, Masjid Al-Huda tetap berdiri sebagai saksi bisu perubahan zaman. Meski bangunannya kini telah mengalami beberapa kali renovasi, jejak sejarahnya tetap terasa.

Masjid ini masih menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat, mulai dari salat berjemaah, pengajian, hingga peringatan hari besar Islam. Lebih dari seabad berdiri, Masjid Al-Huda tidak hanya menjadi simbol religius masyarakat Tembilahan, tetapi juga menjadi penanda bagaimana sebuah kota di pesisir Indragiri tumbuh dari kehidupan yang berpusat di tepian sungai.

Menurut tokoh masyarakat Inhil, Dr Ali Azhar, masjid Al Huda tidak hanya dipandang sebagai bangunan tempat ibadah semata, tetapi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

Ia menjelaskan, sejak dahulu masjid ini menjadi pusat aktivitas umat. Selain sebagai tempat melaksanakan salat berjemaah, masjid juga menjadi ruang berkumpulnya masyarakat untuk mempererat silaturahmi dan membicarakan berbagai persoalan kehidupan. Di masa lalu, banyak keputusan penting di tengah masyarakat bahkan kerap lahir dari musyawarah yang dilakukan di masjid.

Dijelaskan salah satu cucu Syekh Abdurrahman Siddiq atau Tuan Guru Sapat ini, fungsi lain yang tidak kalah penting adalah sebagai pusat pendidikan. Di masjid, generasi muda belajar membaca Al-Qur’an, memahami hadis, hingga mempelajari nilai-nilai keislaman yang menjadi pedoman hidup masyarakat.

Dari masjid pula lahir banyak tokoh agama dan ulama yang kemudian berperan dalam membimbing masyarakat. “Masjid tua itu bukan sekadar tempat salat. Ia menjadi pusat pembinaan umat. Di sana ada ibadah, pendidikan, dan juga kehidupan sosial masyarakat,” ujarnya.

Lebih jauh ia menambahkan, keberadaan masjid tua juga memiliki nilai sejarah yang sangat kuat. Bangunan-bangunan tersebut menjadi saksi perjalanan masyarakat dari masa ke masa. Karena itu, menurutnya, masjid tua perlu dijaga dan dirawat sebagai bagian dari warisan sejarah dan identitas daerah.

“Masjid tua mencerminkan sejarah dan budaya masyarakat kita. Di situlah kita bisa melihat bagaimana kehidupan umat Islam berkembang dari generasi ke generasi,” tambahnya.(*2)

Editor : Arif Oktafian
#Al huda #indragiri hilir #masjid agung #kota tembilahan