Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Jejak Konservasi dan Kisah para Mahout yang Mengabdikan Hidupnya di UKG; Mahout dan Gajah, Ikatan yang Tak Terpisahkan (2-Habis)

M Ali Nurman • Rabu, 18 Maret 2026 | 10:57 WIB

Anak gajah bernama April yang lahir di tahun 2023 di Unit Konservasi Gajah, Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan berinteraksi dengan mahout, baru-baru ini.
Anak gajah bernama April yang lahir di tahun 2023 di Unit Konservasi Gajah, Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan berinteraksi dengan mahout, baru-baru ini.

Nun jauh di kawasan hutan hijau di Estate Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau, harmoni tercipta. Di Unit Konservasi Gajah (UKG), sebuah fasilitas konservasi yang dibangun melalui kerja sama PT Riau Andalan Pulp and Paper dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, terjalin relasi antara gajah dan mahoutnya dalam kedekatan yang jarang terlihat di tempat lain untuk merawat dan melestarikan gajah Sumatera.

Laporan M ALI NURMAN, Ukui

Unit konservasi ini menjadi salah satu benteng penting bagi keberlangsungan hidup gajah Sumatera, satwa yang kini statusnya semakin terancam akibat hilangnya habitat dan konflik dengan manusia. Gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu subspesies gajah Asia yang kini berstatus Critically Endangered atau terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).

UKG berada di tengah lanskap hutan dan perkebunan yang luas. Di sekitarnya terdapat kawasan vegetasi alami, sungai kecil, dan jalur hutan yang menjadi bagian dari habitat berbagai satwa liar. Di dalam kawasan UKG sendiri berdiri bangunan shelter semi-terbuka dengan atap seng dan tiang-tiang besi yang kokoh. Di bawah bangunan itulah gajah-gajah binaan biasanya beristirahat, sementara para petugas melakukan pemeriksaan kesehatan dan perawatan harian.

Di sekelilingnya, hamparan rumput dan vegetasi liar tumbuh subur. Area ini sengaja dipertahankan alami agar mendekati habitat asli gajah. Namun di balik suasana yang terlihat tenang itu, aktivitas konservasi berlangsung setiap hari. Para petugas bekerja sejak pagi hingga sore untuk memastikan gajah-gajah yang mereka rawat tetap sehat dan dapat hidup dengan baik.

Di antara para penjaga itu, ada sosok-sosok yang memiliki hubungan paling dekat dengan gajah, yaitu para mahout. Di Unit Konservasi Gajah Ukui, setiap dua ekor gajah biasanya ditangani oleh tiga orang mahout. Jika salah satu mahout tidak bertugas, dua lainnya akan berbagi tanggung jawab.

Namun hubungan antara mahout dan gajah tidak bisa sembarangan dipertukarkan. Diperlukan waktu sekitar enam bulan bagi seorang mahout untuk membangun kedekatan dengan gajah yang dirawatnya. “Antara mahout dan gajah ada feel-nya. Jadi tidak bisa sembarangan ditukar,” kata Environmental Officer RAPP, Joko Prasetyo pada Riau Pos pekan lalu.

Karena itu, proses perekrutan mahout juga tidak mudah. Sebagian besar berasal dari mantan mahout atau anak-anak karyawan yang kemudian dilatih secara khusus selama berbulan-bulan. Selain keterampilan teknis, seorang mahout juga harus memiliki mental yang kuat. Apalagi saat musim kawin, ketika gajah jantan menjadi lebih agresif. Mahout harus mampu membaca karakter gajah yang mereka rawat.

Porada Harahap adalah salah satu mahout senior di Ukui. Ia sudah menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama gajah. Menurut Padada, menjadi mahout bukanlah pekerjaan mudah. “Kalau lagi mengangon, hujan ya kita kehujanan. Panas ya kepanasan,” katanya.

Aktivitas mengangon berarti membawa gajah berjalan di kawasan hutan untuk mencari makan dan air. Pekerjaan itu dilakukan setiap hari, dalam kondisi cuaca apa pun. Namun semua itu tidak membuatnya menyerah. Justru kebahagiaan terbesar datang ketika melihat gajah-gajah yang dirawatnya sehat dan berkembang. “Kalau ada gajah lahir itu rasanya senang sekali,” ujarnya.

Bagi Porada, merawat gajah bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hati. “Gajah itu punya perasaan juga. Jadi kita harus sabar dan pendekatan pakai hati,” katanya.

Salah satu momen paling menegangkan di UKG Ukui terjadi saat kelahiran seekor anak gajah bernama April pada 2023. April adalah anak dari Carmen, induk gajah yang saat itu masih muda, berusia sekitar 17 tahun.

Ketika April lahir, tim konservasi menghadapi situasi yang tidak mudah. Sang induk tidak mau menyusui anaknya. Para mahout mencoba berbagai cara untuk menyelamatkan bayi gajah itu. “Mungkin karena ibunya saat itu masih muda juga, 17 tahun,” kenangnya.

Akhirnya mereka memutuskan mengikat keempat kaki induknya agar tidak bergerak. Tujuannya agar anak gajah dapat mendekat dan menyusu. Namun upaya itu tidak langsung berhasil. Baru setelah mahout memancing induknya dengan makanan, momen yang ditunggu akhirnya terjadi. Saat Carmen sibuk mengambil makanan, April perlahan mendekat dan mulai menyusu.

Kejadian itu menjadi salah satu kisah yang selalu dikenang oleh para mahout. Hadirnya UKG memiliki sejarah yang panjang. Pada awalnya, program ini dikenal sebagai Elephant Flying Squad, sebuah unit yang dibentuk untuk membantu mengatasi konflik antara manusia dan gajah liar di wilayah Riau.

Elephant Flying Squad merupakan tim patroli konservasi yang menggunakan gajah terlatih untuk menggiring gajah liar kembali ke habitatnya serta mengurangi konflik antara gajah dan manusia di sekitar kawasan hutan. Program tersebut dimulai ketika pemerintah menyerahkan empat ekor gajah kepada perusahaan pada tahun 1994. “Awalnya ada empat gajah yang diberikan pemerintah. Waktu itu ditempatkan di Estate Langgam,” kata Environmental Officer RAPP, Joko Prasetyo.

Empat gajah tersebut memiliki nama yang masih diingat hingga sekarang: Ade yang lahir pada 1977, Mira dan Meri yang lahir pada 1979, serta Ika yang lahir pada 1978. Pada 2005, program ini mulai memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk BKSDA dan pengelola Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), salah satu habitat penting gajah di Riau.

Setahun kemudian, pada 2006, seluruh kegiatan konservasi dipindahkan ke Estate Ukui di Kabupaten Pelalawan. Sejak saat itu, kawasan ini berkembang menjadi Unit Konservasi Gajah yang tidak hanya menangani konflik satwa liar, tetapi juga merawat dan melestarikan gajah-gajah yang berada di bawah perlindungan manusia.

Seiring waktu, jumlah gajah di Unit Konservasi Gajah Ukui bertambah. Beberapa di antaranya lahir di kawasan ini sendiri. Saat ini, total terdapat tujuh ekor gajah yang dirawat. Selain empat gajah awal, ada Carmen yang lahir pada 2009, Raja Arman yang lahir pada 2011, serta seekor anak gajah bernama April yang lahir pada 2023. Menariknya, beberapa kelahiran tersebut merupakan hasil perkawinan dengan gajah liar yang datang dari hutan.

Fenomena ini menandakan bahwa kawasan sekitar Ukui masih menjadi jalur perlintasan alami gajah. “Beberapa gajah kita ini hasil perkawinan dengan gajah liar. Itu terjadi karena gajah liar datang ke sini, terutama saat musim kawin,” jelas Joko.

Selain merawat gajah binaan, tim UKG juga memiliki tugas penting menjaga habitat alami gajah liar. Salah satu cara yang dilakukan adalah mempertahankan kawasan green belt. Askep Forest Protection RAPP Ukui, Angga Devila Yoelanda menjelaskan bahwa green belt adalah kawasan lembahan yang tetap dibiarkan alami. “Vegetasi hutan, sumber air, dan tanaman liar di kawasan tersebut tidak diganggu,” jelasnya.

Kondisi ini menjadikan green belt sebagai jalur perlintasan alami gajah liar. Di wilayah konsesi perusahaan, luas kawasan lindung yang dipertahankan mencapai sekitar 3.500 hektare, atau sekitar 10 persen dari total area konsesi. Kawasan ini membentuk koridor panjang yang memungkinkan gajah bergerak bebas dari satu lokasi ke lokasi lain.

Dalam pendekatan konservasi modern, kawasan seperti ini juga berfungsi sebagai wildlife corridor, yaitu jalur alami yang memungkinkan satwa liar bergerak dari satu habitat ke habitat lainnya tanpa terhalang aktivitas manusia. Keberadaan kawasan lindung tersebut memungkinkan aktivitas manusia dan jalur perlintasan gajah tetap berjalan berdampingan, sebuah pendekatan yang dikenal sebagai koeksistensi antara manusia dan satwa liar.

Ancaman terhadap gajah tidak hanya datang dari hilangnya habitat, tetapi juga dari jerat pemburu dan racun. Karena itu, tim UKG rutin melakukan patroli hutan. Mereka menyisir kawasan untuk menemukan jerat yang dipasang pemburu.

Patroli ini biasanya dilakukan dua kali dalam sebulan, tetapi bisa dilakukan lebih sering jika ada laporan dari masyarakat. Selain itu, tim juga mencari kemungkinan adanya racun yang sengaja dipasang untuk membunuh satwa liar. Jika ditemukan indikasi tersebut, laporan segera disampaikan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau untuk ditindaklanjuti.

Kerja sama dengan lembaga konservasi tersebut juga terus diperkuat, terutama dalam aspek medis, pengawasan, dan pengelolaan habitat. Dalam pendekatan konservasi modern, perlindungan satwa liar seperti gajah Sumatera juga dikenal sebagai bagian dari landscape conservation, yaitu upaya menjaga ekosistem secara utuh di dalam dan di sekitar kawasan produksi.

Di tengah ancaman terhadap satwa liar, Unit Konservasi Gajah Ukui menjadi bukti bahwa konservasi dapat berjalan melalui kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Perlindungan gajah Sumatera tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dipelu kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan, masyarakat sekitar, hingga para penjaga hutan seperti para mahout di Ukui.

Di sana, di antara rimbunnya pepohonan dan jalur jelajah gajah, para mahout terus menjalani rutinitas mereka setiap hari. Mereka berjalan bersama gajah, memandikan, memberi makan, dan menjaga mereka. Hujan dan panas adalah bagian dari pekerjaan. “Bagi Unit Konservasi Gajah Ukui, keberadaan gajah-gajah ini bukan hanya soal menjaga satwa liar, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem yang menjadi rumah bersama bagi manusia dan alam,” ujarnya.(das)

Editor : Arif Oktafian
#ukg #mahout #gajah #konservasi #pelalawan