Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

M Arief Hidayat Annas, Siswa MAN 2 Pekanbaru Diterima 13 Kampus Dunia, Andalkan Riset, Berani Mencoba,  dan Siapkan Solusi

Joko Susilo • Rabu, 8 April 2026 | 10:24 WIB
Siswa MAN 2 Pekanbaru M Arief Hidayat Annas membaca buku saat ditemui Riau Pos, Selasa (7/4/2026). (MHD AKHWAN/RIAUPOS)
Siswa MAN 2 Pekanbaru M Arief Hidayat Annas membaca buku saat ditemui Riau Pos, Selasa (7/4/2026). (MHD AKHWAN/RIAUPOS)

 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - SERAGAM sekolahnya masih rapi melekat. Wajahnya te­nang, nyaris tanpa beban, seperti siswa lain yang baru saja mengikuti ujian di kelas. Siang itu, Selasa (7/4), M Arief Hidayat Annas berdiri dengan penampilan sederhana di lingkungan MAN 2 Pekanbaru. Ia menyalami satu per satu dengan sopan, didampingi gurunya.

Tak ada yang mencolok dari penampilannya. Namun, dari siswa berusia 17 tahun ini, sebuah cerita besar diam-diam sedang ditulis. Namanya mendadak ramai diperbincangkan. Siswa Kelas XII Jurusan Sosial dan Humaniora ini berhasil diterima 13 perguruan tinggi luar negeri. Sebuah capaian yang bagi banyak orang awam terdengar wah. Karena kuliah di luar negeri identik dengan biaya mahal, jauh dan nyaris mustahil.

Namun bagi Arief, semua itu dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana, rasa ingin tahu. Ia tidak datang dari latar belakang kehidupan yang penuh kemewahan. Anak kelima dari keluarga sederhana ini justru tumbuh dengan kesadaran bahwa mimpi besar harus diperjuangkan dengan cara yang realistis. 

Orang tuanya telah pensiun. Hal ini membuatnya semakin memahami bahwa kuliah ke luar negeri bukan sekadar soal diterima, tetapi juga tentang bagaimana bisa bertahan secara finansial. “Kalau pakai biaya sendiri, tentu akan sulit,” ujarnya saat ditemui Riau Pos, kemarin.

Karena itu, sejak awal ia tidak hanya mengejar kampus, tetapi juga peluang beasiswa. Salah satunya adalah Beasiswa Indonesia Bangkit dari Kementerian Agama RI, yang kini masih ditunggu hasilnya. Di saat yang sama, ia tetap menyiapkan rencana cadangan mengikuti SNBT dengan pilihan Jurusan Hukum di Universitas Indonesia (UI). Langkahnya terukur. Tidak gegabah, tetapi juga tidak ragu.

Baca Juga: Antara Bahagia dan Haru Menggantikan sang Ayah

Berhasil menembus 13 universitas luar negeri, sebuah capaian yang tidak datang dari proses instan, melainkan dari ketekunan riset dan keberanian mencoba. Ia memperkenalkan dirinya dengan sederhana. Namun di balik itu, tersimpan perjalanan panjang yang ia jalani sejak awal masa sekolah menengah atas.

Dirinya mengaku, proses mendaftar ke berbagai universitas luar negeri sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan banyak orang. Kuncinya, menurut dia, ada pada ketelitian memahami sistem pendaftaran masing-masing negara. “Prosesnya sebenarnya cukup mudah, tapi kita harus benar-benar meneliti masing-masing pendaftaran di berbagai universitas di setiap negara,” ujarnya.

Ia mencontohkan, di Belanda pendaftaran dilakukan melalui platform seperti Studielink sebelum dilanjutkan ke universitas tujuan. Sementara di Australia dan Selandia Baru, pendaftaran umumnya dilakukan langsung melalui situs resmi masing-masing kampus.

Dari situ, Arif menilai kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu bekal utama. Selain itu, kesiapan dokumen juga menjadi hal penting agar proses pendaftaran berjalan lancar. Sejak kelas 10, Arif sudah menargetkan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke luar negeri. 

Awalnya, ia membidik kampus-kampus di Inggris, seperti King’s College London dan SOAS University of London. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai menyesuaikan strategi. “Setelah kelas XI, saya sadar kalau ke UK itu persyaratannya lebih kompleks, seperti A-Level dan IELTS dengan skor tinggi,” katanya.

Kesadaran itu membuatnya mengalihkan fokus ke negara yang lebih dekat dengan Indonesia, seperti Australia, Selandia Baru, Malaysia, dan Belanda. Langkah tersebut terbukti efektif, dengan belasan kampus yang akhirnya memberikan peluang kepadanya.

Baca Juga: Kisah Kader Posyandu Kelurahan Air Jamban, Kecamatan Mandau, Menjadi Penggerak Dapur Sehat Lawan Stunting

Meski demikian, perjalanan Arif tidak lepas dari berbagai kendala. Salah satu yang paling umum adalah anggapan bahwa pendaftaran ke luar negeri harus selalu diawali dengan sertifikat IELTS. Menurut Arief, persepsi itu tidak sepenuhnya benar. 

Ia menjelaskan, banyak universitas yang memberikan kesempatan melalui conditional letter, di mana calon mahasiswa tetap bisa mendaftar terlebih dahulu, kemudian melengkapi skor bahasa Inggris setelahnya. “Awalnya saya juga berpikir harus ada IELTS dulu baru bisa daftar. Tapi setelah riset, ternyata bisa daftar dulu, nanti kita penuhi syaratnya,” jelasnya.

Saat ini, Arief sendiri masih dalam tahap persiapan untuk mengikuti tes kemampuan bahasa Inggris. Ia berencana mengambil Duolingo English Test dalam waktu dekat, sembari tetap mencoba jalur seleksi nasional melalui SNBT.

Selain persoalan teknis, tantangan lain yang ia rasakan adalah memahami perbedaan persyaratan antarnegara dan universitas. Setiap kampus memiliki ketentuan yang berbeda, sehingga membutuhkan ketelitian dan waktu untuk mempelajarinya satu per satu.

Di balik pencapaiannya, Arief tidak menyebut sosok publik figur tertentu sebagai sumber inspirasi. Ia justru menempatkan orang tua sebagai motivasi utama. “Saya ingin membanggakan orang tua dan melakukan sesuatu yang mungkin belum pernah mereka lakukan,” tuturnya.

Keinginan itu mendorongnya untuk melangkah lebih jauh, tidak hanya terpaku pada pilihan perguruan tinggi dalam negeri, tetapi juga membuka peluang di tingkat internasional. Ke depan, Arief menargetkan untuk mendapatkan beasiswa penuh atau fully funded scholarship. 

Salah satu yang tengah ia jalani adalah proses asesmen beasiswa di Malaysia. Selain itu, ia juga bersiap mengikuti program Beasiswa Indonesia Bangkit dari Kementerian Agama. Bagi adik kelasnya, Arief memiliki pesan sederhana yang dipegang selama ini, yakni berani mencoba. “Motivasinya cuma dua kata, try everything. Coba saja dulu, jangan terlalu dipikirkan hambatannya. Nanti sambil jalan kita cari solusinya,” katanya.

Di tengah kesibukan siswa kelas akhir yang umumnya dipenuhi kecemasan menentukan masa depan, M Arief Hidayat Annas justru melangkah dengan pasti. Siswa kelas XII.5 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pekanbaru ini berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan lolos di 13 perguruan tinggi luar negeri.

Lahir di Pekanbaru, 3 Juli 2008, Arief membuktikan bahwa mimpi besar dapat dicapai dengan kerja keras dan konsistensi. Deretan kampus yang menerimanya bukanlah nama biasa. Mulai RMIT University (Bachelor of Urban Planning), Western Sydney University (Bachelor of Planning), Bond University (Bachelor of International Relations/Business), hingga Wageningen University & Research (Bachelor of Tourism).

Selain itu, Arief juga dinyatakan diterima di Deakin University (Bachelor of Laws), University of Canterbury (Bachelor of Science in Geology), Swinburne University of Technology (Bachelor of Laws/Bachelor of Business), University of Wollongong Australia (Bachelor of Business/Bachelor of Laws), University of Southern Queensland (Bachelor of Aviation), Auckland University of Technology (Bachelor of Business), Victoria University of Wellington (Bachelor of Laws), Management and Science University (Bachelor in Economic and Finance), serta Charles Darwin University (Bachelor of Science).

Baca Juga: Lebih Modern dan Ramah Pengguna 

Pilihan yang beragam ini menggambarkan luasnya minat dan kesiapan Arief menghadapi dunia global yang dinamis. Keberhasilan tersebut pun mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Provinsi Riau, Muliardi. 

Ia menilai capaian ini menjadi bukti bahwa madrasah mampu bersaing di tingkat internasional. “Capaian ini juga tidak terlepas dari kerja keras, disiplin, serta dukungan dari orang tua dan para guru di MAN 2 Pekanbaru,” ujarnya.

Menurutnya, prestasi seperti ini diharapkan dapat menjadi pemicu bagi siswa lain untuk terus berkembang, tidak hanya dalam akademik tetapi juga dalam menghadapi tantangan era digital. “Siswa harus siap menghadapi tantangan digitalisasi dan mampu berkompetisi di masa depan sebagai calon pemimpin,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Kepala MAN 2 Pekanbaru, Ghafardi. Ia menegaskan bahwa prestasi Arief menjadi gambaran nyata bahwa madrasah bukan hanya unggul dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu mencetak generasi berkelas dunia. “Prestasi ini menunjukkan bahwa siswa madrasah mampu bersaing di tingkat global,” ungkapnya.

Di balik capaian tersebut, Arief dikenal sebagai sosok yang tekun dan memiliki semangat belajar tinggi. Dukungan keluarga, terutama kedua orang tuanya Nasrul dan Asmawati turut menjadi fondasi kuat dalam perjalanannya.

Kini, langkah Arief seolah membuka jalan baru bagi siswa madrasah lainnya. Bahwa dari ruang kelas sederhana, mimpi bisa melintasi batas negara.

MAN 2 Pekanbaru pun terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan, membuka peluang lebih luas bagi para siswa untuk menatap masa depan hingga ke panggung internasional.

Tak hanya Arief, sejumlah siswa dan siswi MAN 2 Kota Pekanbaru juga menorehkan prestasi gemilang dengan berhasil diterima di berbagai universitas luar negeri. Kualitas pendidikan madrasah ini terbukti mampu mengantarkan para siswanya bersaing di tingkat global.

Salah satunya, Cheryl Amanda, yang berhasil lolos di tujuh universitas luar negeri terkemuka seperti Wageningen dan Monash University, dengan fokus studi di bidang Data Science dan Food Technology. Tak hanya itu, Cheryl juga merupakan alumni program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat, yang semakin memperkaya pengalaman akademiknya.

Prestasi serupa juga diraih oleh Muhammad Adli Arfa. Ia diterima di empat universitas kelas dunia yang tersebar di Hongkong, Jepang, Malaysia, dan Inggris, menunjukkan daya saing tinggi siswa MAN 2 Pekanbaru di tingkat global.

Sementara itu, Azka Rifinadda Aurelli turut mengukir pencapaian dengan diterima di tiga universitas bisnis ternama di Australia dan Selandia Baru.

Atas capaian tersebut, ketiganya mengaku bersyukur dan bangga. “Kami bersyukur bisa mencapai prestasi tersebut, bangga dan senang atas capaian ini. Terima kasih MAN 2 Pekanbaru dan para guru yang sudah membina dan mendidik kami,” ujar Cheryl diamini Arfa, dan Azka.

Capaian ini menjadi bukti bahwa MAN 2 Kota Pekanbaru mampu mencetak generasi unggul yang siap bersaing di dunia internasional, sekaligus menjadi inspirasi bagi siswa lainnya untuk terus berprestasi.(das)

Laporan JOKO SUSILO

Editor : Arif Oktafian
#siswa #kampus dunia #man 2 pekanbaru #prestasi