SIAK (RIAUPOS.CO) - Mengajar di wilayah terpencil bukan impian. Berhadapan dengan hewan buas, jalanan licin yang menyebabkan terjatuh berkali-kali harus dilalui setiap hari sebagai upaya untuk mencerdaskan anak bangsa.
Siti Rohani SPd (27) yang mengajar di SMPN 7 Sungai Mandau dan Yanti SPd (40) di SD 06 Tasik Betung, Kecamatan Sungai Mandau, mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan. Setiap hari keduanya pergi dan pulang menempuh jarak 40-50 kilometer (km) dari Kampung Olak, Kecamatan Sungai Mandau.
Ya, kedua sekolah yang siswanya belum mendapatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini berada di dalam satu kompleks dan tak jauh dari kawasan habitat gajah dan harimau. Yakni Cagar Biosfer Giam Siak Kecil.
Diceritakan Siti, saat pergi habis subuh, keduanya barengan, namun saat pulang, Yanti lebih dulu sebab anak SD pulang lebih awal. Dikatakan Siti, pulang belakangan sendirian, banyak juga suka dukanya. Jalanan sepi. “Kami harus melewati jalanan Hutan Tanaman Industri (HTI), semak belukar dan kebun warga, tak jarang sampai rumah malam hari,” cerita Siti.
Jika hari panas, jalanan berdebu dan berbatu, membuat sakit pinggang dan perut. Sebaliknya ketika hujan, jalanan berlumpur. Seharusnya perjalanan 1,5 jam sampai, kini bisa 2 jam atau bahkan lebih. “Tak jarang motor tak terkendali, lalu terjatuh,” sebutnya.
Bahkan karena lumpur, motor tak mau jalan. Ban harus dibersihkan dulu dari lumpur agar kembali normal. Tak terbayang jika motor tiba-tiba rusak, ingin menangis rasanya karena harus mendorong sangat jauh. Tidak ada rumah penduduk, Syukur-syukur ada warga yang melintas. “Jika seperti itu, bayangan saya bukan motornya yang rusak, tapi kasihan anak-anak menunggu lama karena saya terlambat,” ujarnya.
Siti hanyalah guru honor dan bertitel Sarjana Pendidikan (SPd) dengan gaji Rp350 ribu setiap bulannya. Sudah 3 tahun menjalani profesinya sebagai guru, semakin ke sini dia semakin mencintai anak-anak yang setiap pagi menunggunya untuk belajar.
Penuh perjuangan untuk bisa sampai ke sekolah. Dan Siti tak pernah memperlihatkan rasa khawatirnya atas pengalaman buruk di jalanan menuju sekolah maupun saat pulang mengajar. “Saya tidak pernah memperlihatkan rasa lelah maupun khawatir di hadapan para siswa,” ujar Siti.
Baca Juga: Bupati Afni Perjuangkan Hak Masyarakat Kandis dan Minas, Temui Menteri ATR/BPN dan Dirjen Migas
Terlebih ketika musim muncul hewan buas seperti harimau dan gajah. Situasi itu benar-benar sangat tidak nyaman, selalu waswas. Namun apapun ceritanya, sebut Siti, dirinya harus sampai ke sekolah dan pulang dengan selamat. “Saya pernah melihat kedua hewan buas itu (gajah dan harimau), ), namun saya tidak menyerah, saya tetap pergi mengajar setiap hari,” ungkap Siti.
Gaji habis untuk minyak, tapi melihat siswa bersemangat, Siti tak pernah ingin bolos meski kadang hujan turun pada pagi hari. “Harapan saya, semoga saya bisa jadi perantara siswa untuk mencapai cita-citanya, meskipun tinggal di pelosok, tetapi mereka harus bisa meraih cita-cita,’’ ujarnya.
‘’Karena ilmu yang kami beri kepada mereka, kelak bisa membawa mereka menjadi orang yang sukses, meskipun mereka tinggal sangat jauh dari kota,” ucap Siti. Semangat anak-anak dalam belajar itulah yang membuat Siti, tetap menjaga semangatnya sampai di sekolah mengajarkan ilmu pengetahuan tanpa rasa lelah.
Meski pulang lebih dulu dibanding Siti, Ibu Guru Yanti pernah sampai rumah malam hari karena jalanan licin dan sulit dilalui. Bahkan, ia pernah jatuh dari motor sampai empat kali. “Saya menangis di jalan, selain sakit semua badan, saya merasa khawatir berada di jalan sendirian,” cerita Yanti.
Syukurnya, Yanti sudah sertifikasi, meski dia tak dapat lagi honor BOSP, tapi dia dapat gaji dari sertifikasinya. “Anak saya empat, satu kuliah, satu SMA, dan dua masih kecil-kecil,” jelas Yanti.
Sejak 2008, Yanti sudah menjadi guru TK Kasih Bunda Kampung Olak. Baru 2023 dia mengajar SD. Meski mengajar di tempat yang jauh dan tantangannya begitu besar, namun dia begitu bersemangat. “Mengajar di daerah terpencil bagi saya suatu perjuangan dan pengabdian,” ucap Yanti.
Melihat anak-anak bersemangat, hilang lelah di perjalanan. Ketekunan dan kesungguhan mereka menjadi motivasi untuk tidak pernah bolos mengajar, seberat apapun rintangan di perjalanan tetap dilalui sampai saat ini.
Baca Juga: LAM Siak Ajukan RJ ke Polres Terkait Tewasnya Siswa saat Sains Show
Kepala SMPN 7 Sungai Mandau Syafrul Nizam SPd mengakui kegigihan Siti dan Yanti. Semangat keduanya mencerdaskan anak bangsa sebagai generasi penerus patut menjadi teladan. Tantangan di jalan dan harus berangkat subuh, tak menyurutkan keduanya untuk terus hadir memberikan teladan di tengah anak-anak yang menunggu.
Jika dahulu Raden Ajeng (RA) Kartini berjuang dengan pena untuk mendobrak kegelapan, hari ini semangat yang sama mengalir dalam nadi guru tersebut. Ibu guru adalah Kartini masa kini yang tidak gentar oleh keadaan. Meski jalan menuju sekolah ini jauh, licin, dan penuh lumpur, tetap melangkah.
Syafrul menagatakanh, dua ibu guru membuktikan bahwa niat suci mencerdaskan anak bangsa jauh lebih kuat daripada rintangan fisik yang mengadang. “Mungkin dunia hanya melihat upah yang minim, tapi bagi kami dan bagi anak-anak didik kami, dedikasi ibu guru adalah kemewahan yang tak ternilai harganya,” ucapnya.
Setiap percikan air hujan dan lumpur di pakaian dua guru tersebut adalah saksi bisu bahwa pendidikan adalah harga mati yang layak diperjuangkan. ‘’Terima kasih telah menjadi pelita yang tak pernah padam. Ibu guru adalah sosok hebat yang mengajar bukan hanya dengan ilmu, tapi dengan seluruh jiwa dan raga,’’ ujarnya.
Dikatakan Syafrul, kawan-kawan lain yakni guru dan tenaga pendidik, sebelum diangkat PPPK atau sudah mendapat honorium layak dari pemda, sebagian besar juga mengalami pengalaman seperti ini, demi mengajar di Desa Tasik Betung. Bahkan ada yang sudah mengabdi puluhan tahun.
“Kami yang di daerah terpencil ini sangat ingin diperhatikan keadaan pendidikan kami. Baik itu sarana dan prasarana, juga kesejahteraan guru, khususnya bagi yang belum mendapatkan gaji yang layak,” harap Syafrul.(das)
Laporan MONANG LUBIS, Siak Sriindrapura
Editor : Arif Oktafian