Kopi Liberika Meranti, Harta Aromatik Tanah Gambut Diproyeksikan Jadi Kopi Unggulan Masa Depan

Siti Azura • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 13:24 WIB
Kopi Liberika Meranti dari  tanah gambut 
diproyeksikan jadi kopi unggulan masa depan. (nternet)
Kopi Liberika Meranti dari tanah gambut diproyeksikan jadi kopi unggulan masa depan. (nternet)

 

Dengan penuh bersemangat, Nyoto menceritakan kisahnya dan kopi Liberika Meranti kebanggaannya. Penampilannya sederhana. Tapi ilmu dan pengalamannya tentang kopi Liberika Meranti jangan ditanya. Mulai dari proses penanaman, panen, pengolahan semua dikuasainya. Hal itu pula yang akhirnya mengantarkannya ke berbagai kota dan negara untuk mengikuti pameran kopi. Hingga usianya yang sudah menginjak 63 tahun, ia masih menggantungkan nasib keluarganya pada kopi yang menjadi harta aromatik tanah gambut Kepulauan Meranti yang diproyeksikan jadi kopi unggulan masa depan tersebut.

Laporan: SITI AZURA, Pekanbaru

Ya, kopi Liberika nyatanya bukan sekadar tanaman kopi. Varietas satu ini menjadi harta dan potensi daerah yang aromanya sudah tercium di mana-mana. Nyoto dan petani kopi lainnya punya andil besar dalam mewujudkan hal tersebut. Meskipun tak mudah dan tersandung-sandung dalam prosesnya, namun tak menyurutkan langkah mereka untuk mengais rezeki dari secangkir kopi Liberika.

Nyoto bercerita, banyak yang mencemooh di awal ia menanam kopi di tanah gambut di Desa Kebaburapat, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kepulauan Meranti. "Saya sempat dibilang nggak sehat karena menanam kopi di tanah gambut. Cuma 1 hingga 3 meter di atas permukaan laut. Anehnya Liberika Meranti bisa tumbuh di dataran rendah. Banyak orang tidak yakin. Tapi nyatanya seperti itu,'' ungkap pelopor petani kopi Liberika Meranti ini.

 Baca Juga: Takut pada Kecoak hingga Menjadi buku: Cara Bu Leli Menumbuhkan Literasi Anak lewat AI

Namun, cemoohan itu dibalas dengan keberhasilan. Kopi Liberika yang ditanam ternyata memiliki cita rasa nikmat yang berbeda dari kopi jenis robusta dan arabika. Itu yang akhirnya membuat kopi Liberika Meranti ini diburu dan digadang-gadang jadi kopi masa depan.

"Kopi Liberika ini beda rasanya. Kopinya juga tidak mudah terkena penyakit dan buahnya banyak," lanjut ayah dari 3 orang anak ini.

Dari pengalamannya, jika dirawat dengan baik, 1 pohon kopi Liberika bisa menghasilkan 15 hingga 20 kg buah kopi basah atau ceri per tahun. Dalam 1 tahun, kebun kopi Liberikanya bisa 2 kali panen.

"Memanen 1 tahun musimnya cuma 2 kali. Waktunya tergantung kondisi cuaca. Bisa maju bisa mundur," sambungnya.

 Baca Juga: PNM Tebar Syukur, Salurkan Hewan Kurban ke Warga Desa

Harga jualnya juga tergantung hasil olahan. Jika dijual dalam kondisi mentah atau ceri yang belum tersentuh proses apapun, harganya berkisar Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per kilogram. Namun, jika dijual dalam bentuk biji, harganya bisa mencapai hingga Rp90 ribu per kilogram.

Menurut Nyoto penghasilan dari bertani kopi Liberika Meranti cukup menjanjikan. Apalagi saat ini peminatnya sudah banyak. Namun, yang terbanyak masih dari negeri jiran Malaysia.

Permintaan dari Malaysia bisa mencapai 15 ton per musim. "Kalau di Malaysia nama kopi Liberika Meranti sudah dikenal. Awalnya orang Malaysia beli hanya untuk konsumsi pribadi saja. Tapi, lama-lama untuk dijual karena peminatnya banyak," ungkap pria yang menjadi Kakek dari 4 orang cucu ini.

Untuk pasar luar negeri seperti Malaysia, Nyoto tak mengalami kendala pemasaran sama sekali. Ia dan petani di sana sudah punya pelanggan masing-masing.

 Baca Juga: Selama Mei Kuansing Nihil Hot Spot, Intensitas Hujan Sudah Berkurang, Musim Panas Segera Datang

Namun, untuk memasarkan di wilayah Indonesia, pihaknya mengaku masih mengalami keterbatasan. Meski begitu, perhatian dari berbagai pihak dinilainya cukup membantunya dalam mengenalkan kopi Liberika Meranti ke masyarakat luas.

"Saya pernah membawa kopi Luwak Liberika Meranti mewakili Indonesia di China tahun 2013 lalu. Itu pengalaman yang luar biasa karena bisa mengenalkan hasil tani kita ke mancanegara. Bahkan, di Cina banyak yang penasaran dan tertarik dengan kopi kami," kenangnya.

Hingga kini, Nyoto bersama kopi hasil kebunnya sudah melanglang buana kemana-mana. Banyak pihak yang menggandengnya seperti Bank Indonesia yang aktif melibatkan Nyoto dalam pameran-pameran dan expo di berbagai daerah. "Alhamdulillah pemerintah mendukung. Saya juga sering diajak Bank Indonesia pameran mempromosikan kopi Liberika Meranti. Kemarin ke Kalimantan. Semua difasilitasi Bank Indonesia," ujarnya.

Ia pun berharap harta aromatik ini bisa terus menjadi pundi-pundi pemasukannya sekaligus menjadi cara mengharumkan nama daerah Kabupaten Kepualan Meranti.

"Saya yakin kopi Liberika Meranti bisa bersaing. Kopi ini unik, tahan banting, rasanya beda, banyak keunggulannya," harapnya.

Rasa dan Karakter Unik, Berpotensi Gantikan Popularitas Arabika dan Robusta

Keyakinan Nyoto akan potensi yang dimiliki kopi Liberika Meranti bukan sekadar isapan jempol. Faktanya kopi ini memang banyak memiliki keunggulan yang membuatnya mampu bersaing di tengah trend kopi modern yang menjamur saat ini.

Hal itu juga diakui oleh pakar kopi yang merupakan Founder Erbercoffee, Umar Coffeeroastery dan Q-Arabica Grader, Abdurrahman Farhumi. Ia menjelaskan bahwa Liberika memiliki perbedaan dan cita rasa khas yang membuatnya unik.

Riau Pos sendiri berkesampatan mencicipi kopi Liberika Meranti yang disandingkan dengan kopi Liberika lainnya. Dari aroma, kopi Liberika Meranti tercium aroma smokey berpadu dengan woody dan buah-buahan khas tropis.

Saat dicicip, ada rasa manis alami seperti nangka yang bertahan di lidah memberikan aftertaste manis yang membekas cukup lama.

"Dari segi ukuran, biji kopi Liberika jauh lebih besar dari kopi lainnya. Jika tumbuh liar di alam, tinggi pohon kopi Liberika ini bisa mencapai 15 meter," ungkapnya yang merupakan Judge Indonesia Coffee Event League 2023 and Malaysia National Coffee Championship 2026 ini.

Kopi Liberika juga dikatakannya punya kadar air yang  tinggi karena kulit buahnya cukup tebal dan punya nutrisi yang sangat cukup untuk proses pembesaran buahnya.

Selain itu, kopi Liberika juga suitable untuk ditanam di wilayah Indonesia. Terutama di lahan dataran rendah yang stigmanya tidak cocok untuk ditanami kopi.

"Kopi Liberika ini punya toleransi terhadap keasaman tanah. Di Indonesia ini banyak lahan gambut yang tidak termanfaatkan, yang kini bisa dijadikan untuk kebun kopi Liberika," paparnya.

Abdurrahman menyampaikan fakta bahwa kopi Liberika ini menjadi salah satu cara pencegahan degradasi lahan gambut dan memberikan dampak ekonomi positif hingga saat ini.

Kopi Liberika ini punya rendemen yang lebih rendah dibanding kopi lainya hanya 12 persen. Rendemen sendiri ialah apabila kopi ingin diolah menjadi green bean, dari buah 10 kg hanya bisa menghasilkan 1 kg green bean saja. Sedangkan kopi lain, dari 7 kg buah, bisa menghasilkan 1 kg green bean.

"Namun dengan rendemen yang cukup rendah, kopi Liberika bisa tumbuh sepanjang tahun. Itu menjadi nilai plusnya" sambungnya lagi.

 

Itulah sebabnya produk kopi Liberika ini dikatakannya diproyeksikan menjadi produk kopi unggulan di masa depan. Karena salah satunya bisa berbuah sepanjang tahun.

 

Kadar kafein paling rendah dari spesies kopi lainnya. Komposisi kimianya, kopi Liberika punya kandungan fat 12 persen dan sukrosa hampir setara dengan arabika.

"Kenapa ini penting bagi industri dan kualitas kopi, karena kandungan fat dan sukrosa pada kopi berguna untuk membentuk kualitas rasa," terangnya lagi.

Beberapa tahun lalu, hanya diproses secara natural, yakni dipanen, dipetik, lalu dijemur, ditunggu hingga kering sampai kadar air tersisa 12 persen. Namun, saat ini sudah banyak dilakukan inovasi untuk meningkatkan kualitasnya. Salah satunya dengan memperbaiki proses pasca panen yang lebih baik.

 Baca Juga: Naik, Harga Kelapa Sawit Mitra Plasma Pekan Ini Jadi Rp3.932 per Kg

Pada saat ini, Riau menjadi salah satu penghasil kopi Liberika terbesar di Indonesia. Estimasi produksi di tahun 2025 ada di angka 3900-4200 ton per tahun. Disusul dengan Kalimantan, Jawa dan lainnya.

"Daerah lain kini juga sedang sangat giat mengembangkan kopi Liberika. Riau juga ikut berkompetisi di dalamnya," sambungnya.

Pertanyaannya, kopi dengan produksi sebanyak itu perginya kemana? Karena tak bisa dipungkiri bahwa saat ini masih banyak masyarakat kita yang kurang familiar dengan kopi Liberika. Justru yang sering terdengar adalah kopi arabika dan juga robusta.

"Pada saat ini, kopi Liberika ini marketnya adalah di Kopitiam yang populer di Malaysia dan Vietnam," jelasnya lagi.

Semua hasil produksi Liberika Meranti nyatanya masih kurang untuk dipasok ke Malaysia. Malaysia sendiri saat ini sueah mulai membudidayakan kopi Liberika untuk memenuhi kebutuhan mereka.

"Prospek ke depan kopi Liberika ini sangat cerah, sangat baik dan diproyeksikan menjadi spesies kopi yang menggantikan kopi arabica dan juga robusta," ujarnya.

Hal tersebut karena pada saat ini isu global warming sudah mempengaruhi kapasitas produksi kopi arabika dan robusta di Indonesia. Sehingga kopi Liberika dengan daya tahan yang lebih kuat dari 2 spesies lainnya didukung dengan kemudahan lokasi tanam dianggap ideal diangkat sebagai komoditi ke depannya," harapnya.

Sama halnya dengan Nyoto, pria berkacamata ini juga optimis bahwa kopi Liberika Meranti adalah harta tanah gambut yang menjanjikan. Sebagai pakar sekaligus pecinta kopi, ia yakin 

"Semoga kita bisa memproduksi lebih banyak lagi kopi Liberika Meranti yang berkualitas. Petani bisa sejahtera dan perekonomian masyarakat sekitarnya bisa ikut meningkat," tutupnya.(azr)

Editor : Edwar Yaman
Kopi Unggulan Masa Depan Kopi Liberika Meranti