Warung barang harian yang berada di persimpangan Jalan Lintas Timur dan Jalan Sultan Syarif Hasyim (Simpang Kualo, red) Kecamatan Pangkalankerinci, Kabupaten Pelalawan, tampak sangat sunyi, Senin (15/6). Hiruk pikuk anak-anak yang setiap malamnya menggema, kini sudah tak terdengar lagi.
Laporan MUHAMMAD AMIN, Pangkalankerinci
Rumah kontrakan itu milik warga bernama Ratna atau biasa dipanggil Irat. Bangunan dengan material kayu papan berlantai semen yang berdiri kokoh di tengah ibu kota Pelalawan ini, sebelumnya menjadi camp lima kakak beradik dari pasangan (pasutri) yakni warga asal Ujung Tanjung Kabupaten Rokan Hilir (Rohil).
Namun, pasutri tersebut diduga kuat melakukan eksploitasi anak dengan menyuruh tiga anaknya yang masih berumur 11 tahun, 9 tahun, dan 9 tahun untuk mengemis, dengan cara menjadi pengamen dan manusia silver.
Praktik eksploitasi anak itu akhirnya terbongkar setelah ketiga korban mendatangi Polsek Pangkalankerinci atas bantuan warga pada Jumat (12/6) malam. Ketiga anak itu mengaku takut pulang ke rumah karena tidak berhasil memenuhi target setoran pendapatan (uang, red) harian yang ditetapkan oleh orang tuanya sebesar Rp250 ribu.
Atas laporan tersebut, Kepolisian Daerah (Polda) Riau melalui Ditreskrimum bersama Polres Pelalawan dan Polsek Pangkalankerinci langsung bergerak turun kelokasi dan mengamankan pasutri tersebut. Ditemui di kediamannya, Ratna, pemilik kontrakan camp tempat para anak-anak tersebut mengaku terkejut.
Pasalnya, sejauh pengetahuannya, pelaku tidak pernah terlihat melakukan kekerasan terhadap lima anaknya. “Ya, saya kaget juga mendengar dan melihat berita di media bahwa keduanya melakukan kekerasan terhadap anaknya jika tidak mencapai target setoran pendapatan dari mengemis, mengamen, dan menjadi manusia silver,” terang Ratna kepada Riau Pos di warung barang harian miliknya, Senin (15/6).
Wanita paruh baya.yang mengenakan hijab berwarna hitam ini pun menuturkan awal mula dirinya bertemu dengan pasutri bersama lima anaknya tersebut. “Jadi, saya ini kan berdagang buah di Pasar Baru Pangkalankerinci. Sekitar satu bulan lalu, tepatnya awal Mei, saya melihat ada tiga orang anak yang satu di antaranya badannya dicat warna putih, tengah tidur-tiduran di pasar itu,” bebernya.
Wanita yang akrab disapa Bu Irat ini, akhirnya merasa iba melihat nasib anak-anak tersebut. Sehingga ia pun bertanya kepada mereka. “Mana orang tua kalian, kok tidur di pasar. Apa tak punya tempat tinggal kalian ya,” paparnya.
Setelah mendengar hal yang ditanyakan Irat, anak-anak itu mengaku memang tidak memiliki tempat tinggal. Bahkan, sehari-harinya, mereka tidur di pasar beralaskan kardus yang didapatkan di pasar tersebut. Sedangkan orang tua mereka (pelaku, red), sehari-hari berjualan tisu dan korek kuping di Pasar Baru. Kadang keduanya juga berkeliling ke sejumlah pasar kaget di Pangkalankerinci.
Irat pun meminta anak-anak itu segera memanggil orang tua mereka menemuinya. Tak lama berselang, pasutri tersebut akhirnya menemui Irat. “Pak, bu, kasihan anak-anak ini harus tidur di pasar. Kalau mau, tinggal di rumah saya saja di Simpang Kualo. Tak usah takut bayar uang kontrakan. Cukup kasih saja saya uang sebesar Rp15 ribu per hari untuk bayar lampu (listrik, red),” ujar Ratna.
Pasutri ini akhirnya menyetujui tawaran Ratna dan bersama 5 anaknya tinggal di rumah kontrakan yang juga menjadi warung barang harian. Meski hidup seadanya, mereka tetap bahagia bisa berkumpul. Canda tawa anak-anak mereka, menambah kehangatan di warung itu. Pasutri itu pun akhirnya melarang anak mereka untuk mengemis, mengamen dan jadi manusia silver.
Hanya saja, seiring waktu berjalan atau setelah sepekan tinggal di rumah itu, kebutuhan hidup semakin meningkat. Sang istri diketahui tengah mengandung anak keenam. Penghasilan dari dagangan suaminya, tidak mampu mencukupi biaya hidup.
Pasalnya, sebagian besar uang penghasilan jualan dipergunakan untuk membeli susu agar kandungan SM tumbuh sehat. “Karena terdesak kebutuhan ekonomi, keduanya terpaksa meminta tiga anaknya kembali turun melakoni pekerjaan sebelumnya untuk mendapat penghasilan guna membantu ekenomi keluarga.
“Begitulah cerita hidup pasutri dan anak mereka tinggal di warung saya. Setahu saya, saat di rumah, keduanya tidak pernah melakukan kekerasan kepada anak mereka. Entahlah kalau di luar rumah. Sehingga sekitar satu bulan berlalu, muncul berita keduanya melakukan eskploitasi anak hingga melakukan kekerasan,” sebutnya.
Ditambahkan Ratna, Jumat (12/6) malam lalu, pelaku diamankan oleh pihak kepolisian. Namun, Sabtu (13/6) lalu, kedua pelaku pamit ke SP 5 Desa Makmur, Pangkalankerinci untuk berjualan. Namun, setelah hari itu, pasutri ini tidak lagi kembali ke warung miliknya hingga Senin (15/6).
Padahal, barang-barang mereka berupa tak ransel untuk menyimpan pakaian, masih ada di warung tersebut. “Kalau anak-anak mereka masih di warung. Bahkan, pagi tadi, Pak Bupati Pelalawan H Zukri bersama Kapolres Pelalawan datang untuk membawa tiga anak tersebut. Informasinya, mereka akan disekolahkan di Pondok di Kecamatan Ukui oleh Pemkab Pelalawan melalui Baznas,’’ ujarnya.
“Ini menjadi harapan terbaik bagi anak-anak. Karena mereka sejauh ini tidak pernah mengenyam pendidikan alias buta baca dan tulis. Saya berharap dengan adanya pendidikan, ketiga anak ini kedepannya akan menjadi kebanggaan kedua orang tua mereka. Yakni mendapat pekerjaan yang layak setelah proses sekolah mereka selesai nantinya,” tutur Ratna.
Di tempat terpisah Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bencana (DP3AP2KB) Pelalawan Erwan membenarkan informasi pendidikan ketiga anak tersebut. “Benar, ketiga anak itu akan kita sekolahkan di Ponpes Kecamatan Ukui. Biaya pendidikannya akan ditanggung oleh Baznas Pelalawan,” jelas Erwan.
Dikatakannya bahwa, pasca munculnya temuan kasus tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan telah melakukan koordinasi dengan Unit PPA Polres Pelalawan dan juga Polsek Pangkalankerinci. Pihaknya melakukan pendampingan terhadap anak.
“Jadi, pasca kejadian itu, kami langsung melakukan pendampingan terhadap anak. Kami bawa mereka ke psikolog UIR untuk memantau kejiwaan mereka. Alhamdulillah, sejauh ini kondisi psikologis anak itu masih baik atau tidak ada trauma,’’ ujarnya.
“Bahkan, anak-anak ini juga kita hibur dengan membelanjakan mereka pakaian yang layak, makan dan minum hingga pangkas rambut agar penampilan mereka lebih baik. Intinya, Pemkab Pelalawan sangat peduli terhadap nasib anak,” tambahnya.
Meski demikian, sambung Erwan, pihaknya juga mengimbau agar jika ada temuan kejadian ini, bisa lapor ke DP3AP2KB, Unit PPA Polres Pelalawan ataupun Polsek terdekat. “Kita juga tentunya akan terus sosialisasikan agar tidak lagi terjadi kekerasan terhadap anak dan perempuan di Pelalawan,” paparnya.
Sementara itu, Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara, SIK menambahkan, dari hasil koordinasi dan kesepakatan pihaknya dengan UPTD PPA Kabupaten dan Dinas Sosial, pasutri pelaku akan dipulangkan ke kampung halamannya di Ujung Tanjung, Rokan Hilir dengan bantuan dari Baznas.
Adapun pertimbangannya dikatakan Hasyim, pelaku sedang dalam kondisi hamil muda. Mereka juga memiliki tanggungan 5 orang anak yang masih kecil. “Jadi, pelaku SM dan MM kita pulangkan ke kampung halamannya di Rohil,” jelas Kapolres Pelalawan.
Sebelumnya, praktik eksploitasi anak itu terbongkar setelah ketiga korban mendatangi Polsek Pangkalankerinci dengan bantuan warga pada Jumat (12/6/2026) malam. Praktik tersebut diduga sudah berlangsung selama sekitar tujuh bulan sejak keluarga itu pindah ke Pangkalankerinci.
Para korban bahkan harus berada di jalanan sejak pukul 15.00 WIB hingga sekitar pukul 22.00 WIB setiap hari. Waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, belajar dan bermain justru dihabiskan untuk mencari uang bagi orang dewasa yang seharusnya melindungi mereka.(das)
Editor : Arif Oktafian