Hiruk-pikuk Kota Pekanbaru yang berangsur tumbuh menjadi metropolitan seolah mereda ketika langkah kaki ini membawa menepi ke Jalan Perdagangan, Kecamatan Senapelan. Bagi para pelancong yang baru saja mendarat di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, hanya perlu waktu sekitar 20 hingga 30 menit berkendara membelah kota untuk tiba di kawasan bersejarah ini.
Laporan SOLEH SAPUTRA, Pekanbaru
Tepat di tepian Sungai Siak yang mengalir tenang, tempat angin berhembus membawa nuansa masa lalu yang kental, kita bisa menemukan detak jantung kebudayaan Melayu Riau yang masih berdentang di dalam sebuah bangunan kayu yang bersahaja: Rumah Tenun Kampung Bandar. Tempat ini bukan sekadar destinasi wisata biasa, melainkan sebuah ruang sakral tempat sehelai benang bertransformasi menjadi identitas bangsa yang bernilai tinggi.
Dari luar, bangunan ini langsung memikat mata dengan profil panggungnya yang megah namun bersahaja. Ia adalah sebuah rumah kayu meranti dan kapur tua yang telah berdiri tangguh sejak tahun 1887. Dibangun oleh H Yahya, seorang saudagar karet terkemuka pada masanya, rumah ini telah menyaksikan berbagai babak krusial sejarah Indonesia.
Meski beberapa tiang penyangga dan papan lantainya pernah mengalami renovasi minor untuk mencegah pelapukan, keaslian arsitektur Melayu-nya tetap utuh terjaga. Kini, rumah bersejarah ini bertransformasi menjadi benteng utama pelestarian seni tenun, yang geliatnya digerakkan secara swadaya oleh komunitas lokal.
Baca Juga: Bingung Daftar Online, Orang Tua Datangi Sekolah, Pendaftaran SPMB SD Negeri Dimulai
Untuk memasuki ruang utama, kita harus menaiki anak tangga beton yang kokoh dan dingin. Undakan semen yang kaku ini seolah bertindak sebagai portal transisi yang kontras, menjembatani langkah kaki dari kasarnya peradaban modern di luar menuju kehangatan memori yang tersimpan rapat di dalam pelukan rumah panggung kayu ini.
Begitu melangkah melewati ambang pintu dan menapakkan kaki di lantai dalam ruangan, mata langsung dimanjakan oleh hamparan kain-kain songket dan tenun dengan beraneka macam model dan warna. Ruangan tersebut didominasi oleh pendaran warna kuning keemasan dan cokelat, warna kebesaran adat Melayu yang melambangkan kejayaan, kemakmuran, serta kedekatan emosional dengan bumi.
Baca Juga: Bertarung Nyawa Demi sang Istri, Warga Inhil Duel dengan Buaya
Menelisik lebih dalam mengenai materialnya, kain-kain songket yang dipajang di sini menyimpan cerita tentang perubahan zaman dan ekonomi global. Koleksi tenunan zaman dulu yang tersimpan rapi di sudut ruangan dijahit menggunakan benang yang diimpor langsung dari India.
Benang India ini dikenal memiliki karakteristik yang terbilang cukup tebal, kokoh, namun tidak begitu berkilau, memberikan kesan klasik yang berwibawa. Namun, seiring berjalannya waktu, harga impor yang semakin hari kian melonjak akibat dampak inflasi memaksa para penenun memutar otak.
Mereka akhirnya memutuskan untuk sepenuhnya beralih menggunakan bahan benang lokal. Keputusan ini melahirkan perbedaan estetika yang menarik: benang lokal memiliki helaian yang tidak begitu tebal, tetapi warnanya jauh lebih terang, hidup, dan memancarkan kilau yang begitu memikat saat terpapar cahaya. Maka dari itu, proses penjahitannya dilapisi oleh dua benang sekaligus.
Bukan hanya material yang berevolusi, melainkan juga instrumen pengerjaannya. Jauh sebelum Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dikenal di kawasan ini, orang-orang zaman dulu menenun secara murni manual tanpa menggunakan alat bantu mekanis sama sekali, sebuah proses yang menguras energi dan waktu yang luar biasa.(bersambung)
Tulisan ini kontribusi dari Ajeng Revina Putri, Mahasiswi Politeknik Caltex Riau.
Editor : Arif Oktafian