81 Tahun Indonesia Merdeka, Dusun Mungkal Siak Masih Terisolir Tanpa Listrik dan Air Bersih

Monang Lubis • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 08:59 WIB
Rumah warga yang dibangun secara swadaya di Dusun III Mungkal, Desa Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Jumat (14/8/2026).(Kepala Desa Penyengat untuk Riau Pos)
Rumah warga yang dibangun secara swadaya di Dusun III Mungkal, Desa Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Jumat (14/8/2026).(Kepala Desa Penyengat untuk Riau Pos)

 

Ratusan warga di Dusun III Mungkal, Desa Penyengat, Kabupaten Siak masih terisolir. Tak ada jaringan listrik, apalagi internet. Hal yang membuat makin miris adalah tidak tersedianya air bersih.

Laporan MONANG LUBIS, Siak Sri Indrapura

Warga Dusun III Mungkal mandi dan mencuci menggunakan air gambut. Mereka tidak ada pilihan dan hal itu dilakukan sampai kini. Padahal dusun itu termasuk dusun tua. Sebelumnya masyarakat Suku Akit ini hidup di tepi laut.

Sehari-hari mereka bekerja sebagai nelayan dan membuat sagu. Hasilnya dijual kepada pengepul yang datang. Harganya murah, tak sebanding dengan proses yang harus dilalui dan tenaga yang dikeluarkan.

Kesadaran untuk membangun kehidupan yang lebih baik agar anak anak dapat mengenyam pendidikan dengan bersekolah muncul. Mereka pindah lebih ke darat. Berkebun, mengelola lahan, menanam nanas, dan tanaman kehidupan lainnya untuk keperluan sehari-hari.

Rumah di tepi laut dengan rumah di lahan gambut berbeda. Penghulu/Kepala Desa Penyengat Abok Agustinus mengatakan, rumah yang dihuni tetap berbentuk rumah panggung, tapi lebih rendah, dan kebanyakan masyarakat membangun rumahnya dengan sangat sederhana, terbuat dari papan.

Baca Juga: Simbol Kerja Keras, Dibeli Dua Bulan sebelum Akad Nikah

“Ada ruang tamu, kamar tidur, dan dapur. Lantai dialas karpet plastik, demikian rumah warga di Dusun III Mungkal,” terang Kades Abok. Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya bervariasi. Ada yang berdekatan, ada yang jauh. Dusun ini masuk dalam kawasan habitat harimau dan hewan buas itu sering terlihat melintas.

Tapi warga tahu dan menjunjung tinggi adat dan menjaga alam sehingga dapat hidup berdampingan dengan hewan buas dilindungi itu. “Warga tidak berburu karena hewan buruan berupa babi dan lainnya itu menjadi bagian raja hutan itu,” jelas Abok.

Ya, 120 KK (kepala kelurga) ini hidup dengan menjaga alam dan merawat pesisir dengan mangrove. Mereka sadar, di sana tempat hidup biota laut dan bernilai ekonomis masyarakat pesisir. “Mereka penjaga pesisir, mereka pahlawan lingkungan,” kata Abok.

Meski mereka hidup seadanya, di tengah kemajuan zaman, mereka juga menyambut era digital. Setiap orang sudah punya ponsel, hanya saja jaringan belum sampai.  Tapi, ada cara agar bisa berkomunikasi dengan dunia luar. Yakni menggantungkan ponsel di tiang, lalu jaringannya terkoneksi dengan ponsel yang ada di sekitarnya. 

“Realita ini tentu saja membuat batin saya menangis, karena saya belum bisa menghadirkan jaringan internet ke dusun ini,” ujarnya. Abok mengatakan sudah berusaha agar listrik bisa masuk, disusul jaringan internet. Namun, sampai kini, belum berhasil.

Bahkan Abok mengaku lebih mudah berkomunikasi dengan warga Desa Teluk Lanus yang posisinya berada di ujung. Di desa tersebut, diesel PLN dan tower jaringan telekomunikasi ada di sana. “Dusun III Mungkal ini dekat dari ibu kota kecamatan, hanya 1,5 jam dari Desa Penyengat dengan jalur laut. Namun belum tersentuh listrik, air bersih, dan internet,” ulangnya.

Abok mengatakan warga Mungkal III juga memiliki hak yang sama dengan masyarakat lainnya, yakni menikmati hak dasarnya sebagai rakyat Indonesia. “Kami memiliki program membangun rumah layak huni bagi warga yang benar-benar tidak mampu, terutama janda dengan dana swadaya,” terangnya.

Di sini, rumah papan dalam dua hari selesai dibangun oleh 30 sampai 40 warga. Dan langsung bisa dihuni oleh penerima manfaat. Semangat kebersamaan dan gotong royong masih menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari di Desa Penyengat dan semangat itu sampai ke dusun dusun.

“Tahun ini, masih ada dua rumah layak huni yang akan dibangun, sebagian sudah dilengkapi oleh pemilik rumah, kami tinggal menambah kekurangan serta menyiapkan tim untuk mendirikan bangunan,” ungkapnya. Rumah layak huni dibangun dengan material papan, model dan warna yang sama yaitu biru.

Baca Juga: Makin Sepi Pembeli, Pedagang TPS Pasar Wisata Pasar Bawah Harap Revitalisasi Segera Selesai

Seorang janda Manik (63) mengaku senang karena mendapatkan rumah layak huni dari swadaya perangkat desa dan warga. Rumah Manik yang sudah usang dan rapuh, dibangun dengan swadaya dan kini Manik merasa nyaman mendapat hunian baru. “Kami saling mendukung dan bersatu dalam kondisi apapun. Saya benar-benar nyaman berada di sini, meski tanpa listrik,” ujarnya.

Manik tinggal bersama anaknya yang bekerja di perusahaan. Listrik menggunakan mesin genset. Satu malam 3 liter BBM habis untuk mesin genset. Artinya untuk listrik saja sebulan Rp900 ribu. “Kami menggunakan listrik dari senja sampai pukul 21.00 WIB atau pukul 22.00 WIB,” terang Manik.

Terkait listrik, juga menyebabkan chromebook yang berjumlah 10 unit, laptop 11, dan satu unit papan tulis digital tak bisa digunakan di SMP Mungkal ini. Demikian dikatakan Guru Informatika Sugianto. Padahal semuanya dapat menunjang pembelajaran 40 pelajar SMP dari kelas 7sampai kelas 9.

SMP di sini dibagi tiga kelas. Kelas 7 sebanyak 13 siswa, kelas 8 sebanyak 19, dan kelas 9 sebanyak 8 siswa.  “Saat ujian akhir lalu, kami tetap di sini, termasuk saat dilakukan asesmen tes kemampuan akademik (TKA). Kami mencari titik tertentu, lalu tarik ponsel lekatkan di tiang sehingga jaringannya bisa digunakan,” ungkap Sugianto.

Dilema yang dihadapi, kadang jaringannya lambat, tak bergerak, dan membuat debar jantung semakin kuat karena berpacu dengan waktu. “Kami bisa menghubungi, tapi kami tak bisa dihubungi,” jelas Sugianto.

Untuk membawa siswa ke Desa Penyengat memakan waktu dan memerlukan biaya. Sementara anggaran dari sekolah terbatas dan penghasilan orang tua mereka belum mencukupi. Sedangkan murid SD berjumlah 109. “Semua serba terbatas, termasuk tenaga pengajar. Semangat pelajar ini yang membuat kami tetap yakin lahirnya generasi terbaik dari dusun ini, yang membangun kehidupan masyarakatnya menjadi lebih baik,” ucap Sugianto.

Tinggal di wilayah seperti ini, ekonomi memang sulit, apapun yang diusahakan hasilnya benar benar membuat patah semangat. Diceritakan RT 04 Dusun III Mungkal Kibok. Dia pernah berkebun nanas, namun hanya dapat capeknya, bahkan untuk bayar pupuk saja tidak cukup. 

Karena biaya untuk panen, mengumpulkan, angkut ke pelabuhan, dari pelabuhan angkut ke kapal pengepul, semua dihitung. “Saya hanya dapat Rp500 per buah, setelah dipotong semuanya dari harga Rp2.000 sampai Rp2.500 per buah harga di kebun,” terangnya.

Kini Kibok memilih bekerja di perusahaan dengan upah termasuk lembur Rp5 juta lebih. Di waktu senggangnya dia berkebun, menanam cabai dan sayuran untuk kebutuhan harian.  Sesekali ke laut menangkap ikan. “Saya juga sudah mulai berkebun kelapa sawit. Mudah-mudahan tahun depan sudah bisa dipanen,” ucapnya.

Seorang pengusaha dari Desa Penyengat bernama Akiong membuat pondok air galon dan kemasan isi ulang. Warga pun tak lagi minum air gambut, tapi air kemasan isi ulang dengan harga terjangkau. Ke depan jika kehidupan warga semakin membaik, di masing-masing rumah bisa membuat sumur bor. 

Ya, meski lahan gambut, di kawasan ini airnya bening, bisa dimanfaatkan warga dengan membuat sumur bor sehingga warga tak lagi mandi dan menyuci dengan air gambut.

Sebelumnya Bupati Afni turun langsung ke  di SDN 24 Tanjung Pal, Dusun Mungkal, Desa/Kampung Penyengat, Kecamatan Sungai Apit. Untuk bisa sampai ke sana, Afni melintasi selat menggunakan perahu bermesin. Sebab belum ada jalur darat. 

Begitu memakan waktu dan menguras energi, namun Bupati Afni begitu gembira bercengkerama dengan murid di sana. “Saya tak hanya ikut menari, tapi saya juga bercengkerama dengan mereka. Saya ingin mereka tetap terus menjaga semangat dengan terus belajar dan mencintai ilmu pengetahuan,” ujarnya.

“Ada keharuan saat saya menyerahkan seragam gratis. Binar kegembiraan terpancar di mata anak-anak yang menjadi harapan saya dengan ketekunan meraih cita-cita,” ujarnya. Afni tak menampik perlu peningkatan fasilitas belajar mengajar di sana. ‘’Tahap awal seragam gratis, selanjutnya pembenahan akan dilakukan, termasuk jaringan listrik, internet, dan air bersih,’’ ujarnya.(das)

Editor : Arif Oktafian
potret kemerdekaan tanpa jaringan internet desa terisolir siak