Satu Warsa Teknologi CEOR di Lapangan Minas: Ikhtiar di Sumur Uzur

Gema Setara • Dipublikasikan Jumat, 30 Oktober 2026 | 19:09 WIB
Analyst Laboratorium EOR Minas M Hatta Nasution saat menunjukkan bahan-bahan surfaktan yang digunakan dalam teknologi CEOR di Laboratorium EOR Minas, baru-baru ini.(Gema Setara/Riaupos.co)
Analyst Laboratorium EOR Minas M Hatta Nasution saat menunjukkan bahan-bahan surfaktan yang digunakan dalam teknologi CEOR di Laboratorium EOR Minas, baru-baru ini.(Gema Setara/Riaupos.co)

 Proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Lapangan Minas Area A setahun lalu mulai dicanangkan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Ini proyek mercusuar yang digadang-gadang akan bisa meningkatkan produksi minyak mencapai 12 sampai 16  persen dari Original Oil in Place (OOIP). Proyek ini teramat penting bagi PHR, terutama karena semakin  uzurnya sumur-sumur minyak yang ada dan secara otomatis  produksi minyak turut serta menurun. Ini ikhtiar, kelak di sumur uzur itu ada harapan dan kedaulatan energi.

Laporan GEMA SETARA, Pekanbaru

LAPANGAN minyak Minas di Kabupaten Siak, Riau telah berproduksi sejak 1952.  Lapangan  ini merupakan kategori lapangan mature namun masih memiliki potensi cadangan besar di bawah permukaan.  Lapangan ini merupakan salah satu aset paling penting dalam sejarah industri hulu migas Indonesia, yang selama puluhan tahun telah berkontribusi nyata terhadap pemenuhan kebutuhan energi nasional.

Lapangan Minas, dikenal sebagai penghasil Sumatra Light Crude memiliki luas wilayah 204,37 Km persegi, dengan 1.243 sumur aktif dan rata-rata produksi harian 29 ribu barel minyak per hari (bph). Seluruh hasil produksi Zona Rokan dialirkan melalui jaringan pipa ke Hydrocarbon Transportation (HCT) Crude Oil Terminal Operation Center di Dumai, sebelum didistribusikan ke kilang Pertamina.

Jenis minyak yang ada di zona Rokan masing-masing minyak berat dari Lapangan Duri. Luas lapangan ini mencapai 67,28 Km persegi ditemukan pada Maret 1941 dan produksi pertama tercapai pada Februari 1954. Jumlah  sumur di lapangan ini sebanyak 10,724 dengan jumlah sumur aktif sebanyak 8.741 sumur. Sedangkan total produksinya mencapai 2,7 miliar barel dengan produksi puncak 296.000 barel per hari pada tahun 1995 dengan teknologi yang digunakan  injeksi uap (steamflood).

Baca Juga: Harapan Baru Warga Binaan, Lapas Bengkalis Gelar Pendidikan Kesetaraan 

Kemudian, minyak ringan dari Lapangan Minas. Luas lapangan ini mencapai  204,37 Km persegi dan ditemukan pada Desember 1944 dan produksi pertama tercata pada April 1952. Jumlah sumur yang terdapat di lapangan ini mencapai  1.982 dengan jumlah sumur aktif sebanyak 1.243 sumur dengan  total produksi 4,8 miliar barel dengan produksi puncak 418.900 barel per hari (Mei 1973). Lapangan ini menggunakan teknologi injeksi air (waterflood)

Enhanced Oil Recocery adalah proses perolehan minyak yang tersisa di dalam reservoir yang tidak bisa diproduksikan secara primary dan secondary recovery dan kemungkinan jumlahnya masih sangat banyak. Sementara itu, metode Enhanced Oil Recocery dengan bahan kimia (alkali, surfaktan, polimer). Injeksi kimia pada pengursan minyak tahap lanjut dikenal juga dengan Chemical Enhanced Oil Recocery (CEOR) pada sumur-sumur mature di lapangan Minas guna meningkatkan produksi.

Secara global, teknologi CEOR telah diterapkan oleh perusahaan-perusahaan energi terkemuka dunia. Keberhasilan CEOR, khususnya pada lapangan mature, membuktikan bahwa inovasi teknologi mampu memperpanjang umur lapangan, meningkatkan recovery factor, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

CEOR dilaksanakan bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan teknis, melainkan manifestasi nyata komitmen negara dalam melaksanakan Asta Cita dan kemandirian energi dalam mengejar target 1 juta barel di tahun 2030.

Baca Juga: Besok PSPS Pekanbaru Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Bidik Kemenangan Beruntun Minta Pemain Tetap Fokus

Kombinasi Tiga Bahan Kimia

Sr Engineer Reservoir  PT PHR Zulhendra mengatakan, pada proyek CEOR  menggunakan bahan kimia yang merupakan kombinasi dari tiga bahan kimia yaitu alkali, surfaktan dan polimer (ASP) yang diinjeksikan ke dalam reservoir untuk menyapu minyak keluar dari pori-pori batuan.

Dia mengatakan, penerapan CEOR di Minas Area A dengan skala komersial menjadikan PHR sebagai pelopor teknologi CEOR di Indonesia. Keberhasilan proyek ini tidak berhenti di satu area saja, namun akan membuka peluang pengembangan CEOR di area lain di Wilayah Kerja Rokan, seperti Minas Area B, C, dan D, Balam South, Balam, Bangko, hingga Petani.

Dari sisi produksi, proyek CEOR ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sekitar 70 ribu barel minyak per hari (bph) pada tahun 2030, dan mencapai puncak produksi hingga 200 ribu barel minyak per hari (bph) pada tahun 2036.

Capaian ini tentu akan memberikan dampak signifikan, tidak hanya bagi kinerja Pertamina dan PHR, tetapi juga bagi ketahanan energi nasional, penerimaan negara, serta penguatan kapasitas teknologi dalam negeri.

Teknologi  CEOR di Lapangan Minas merupakan proyek injeksi kimia skala komersial pertama di Indonesia yang dioperasikan oleh PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Wilayah Kerja Rokan, Riau.  “Teknologi yang kami gunakan metode   ASP yang diinjeksikan ke dalam reservoir untuk melepaskan sisa minyak yang terperangkap dalam pori-pori batuan,” kata Zulhendra.

Sementara potensi cadangan di lapangan Minas yang ditemukan sebelum kemerdekaan memiliki cadangan awal sekitar 9 miliar barel, dan saat ini masih menyimpan sisa cadangan sekitar 4 miliar barel. “Yang pasti dari kegiatan ini akan  mampu meningkatkan recovery factor hingga 12-16 persen,” paparnya.

Baca Juga: Perkuat Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana, PLN UP3 Rengat Gelar Simulasi Tanggap Darurat

Menurutnya, tambahan produksi pada tahap awal ditargetkan sekitar 2.800 barel minyak per hari (bph), serta diproyeksikan berkontribusi hingga 70 ribu bph pada tahun 2030 dan mencapai puncak produksi hingga 150.000-200.000 bph pada tahun 2036.

“Dengan memanfaatkan bahan kimia khusus, CEOR menjadi harapan baru bagi upaya peningkatan produksi migas nasional. Langkah ini sekaligus mendukung target pemerintah untuk menjaga ketahanan energi di tengah tantangan pengelolaan lapangan tua,” ujarnya lagi.

Sebagai pelopor dalam penerapan teknologi CEOR skala komersial di Indonesia, PHR menggunakan bahan kimia yang merupakan kombinasi dari tiga bahan kimia yaitu alkali, surfaktan, dan polimer yang diinjeksikan ke dalam reservoir untuk menyapu minyak keluar dari pori-pori batuan.

Surfaktan sebagai bahan utama ini berperan untuk melepaskan ikatan minyak dari reservoir dengan menurunkan tegangan antar muka antara minyak dan air, polimer berfungsi sebagai penyapu minyak yang telah terlepas dari reservoir, sedangkan alkali akan membantu mengurangi penyerapan surfaktan dan polimer oleh batuan reservoir, sehingga sisa minyak yang terperangkap lebih mudah mengalir. Dengan penerapan metode ini, produksi minyak diharapkan dapat meningkat secara signifikan.

Yang menarik, bahan kimia utama racikan surfaktan yang digunakan PHR merupakan inovasi perwira Pertamina sendiri di Laboratorium PHR, berbasis petroleum sulfonate dan bersinergi dengan PT Pertamina Lubricant (PTPL) sebagai mitra teknis dalam pengadaan bahan baku, proses blending, quality assurance/control, hingga pengiriman ke lokasi proyek. Bahan surfaktan ini telah diuji coba di laboratorium dan di lapangan.

Uji coba lapangan dilakukan pada Proyek Surfactant Extended Stimulation (SES) di Lapangan Balam South Kabupaten Rokan Hilir, Riau, yang telah sukses diinjeksikan pada bulan Juli 2025 dengan peningkatkan produksi yang signifikan.

Baca Juga: Pastikan Penyaluran Beras SPHP Berjalan, Bulog Rengat Lakukan Monitoring 

 Capaian ini tentu akan memberikan dampak signifikan, tidak hanya bagi kinerja Pertamina dan PHR, tetapi juga bagi ketahanan energi nasional, penerimaan negara, serta penguatan kapasitas teknologi dalam negeri.

Menjawab seberapa besar kontribusi yang bisa diberikan proyek ini dalam mencapai target 1 juta barel pada 2030 mendtang, dia menyebutkan kalau untuk lapangan A plus B, kontribusinya tidak terlalu besar diperkirakan hanya 50 ribu barel, namun jika digabung dengan lapangan A, B, C dan D, kontribusi yang bisa diberikan cukup besar. “Kami perkirakan kontribusi yang bisa diberikan dari lapangan baik A, B, C dan D  untuk peningkatan produksi 1 juta barel bisa mencapai 2-3 ribu barel per hari,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, dari satu tahun uji coba proyek ini berjalan sesuai dengan harapan yang diperkirakan.  “Sejauh ini  kita masih on track untuk melakukan optimasi-optimasi proyek ini. Kami yakin, proyek ini sesuai dengan harapan yang ingin kita capai. Kalau proyek di lapangan ini berhasil maka proyek serupa akan dilakukan pada lapangan lainnya,” ujarnya.

Hasil Pengembangan Perwira PHR

Formulasi yang diterapkan pada proyek CEOR ini sendiri dikembangkan dan diteliti di Laboratorium EOR Minas. Di labor ini perwira-perwira PHR bertungkus lumus meneliti sehingga menghasilkan formulasi yang tepat untuk proyek CEOR di lapangan Minas.

Dari penelitian yang dilakukan oleh perwira PHR ditemukanlah formulasi surfactant PHR-24. Untuk formulasi surfactant PHR-24 ini sendiri sudah mendapatkan Paten IDS000013668.

Analyst Laboratorium EOR Minas M Hatta Nasution mengungkapkan,  Surfaktan PHR-24 merupakan hasil pengembangan para perwira PHR yang telah melalui proses riset dan optimasi formula sebagai solusi CEOR yang efisien dan adaptif terhadap kondisi reservoir lokal.

“Formula ini menjadi bagian dari intellectual property milik PHR, sementara PTPL turut berperan sebagai mitra teknis dalam mengeksekusi proses blending, Quality Assurance/Quality Control (QA/QC), netralisasi, hingga distribusi slug surfaktan ke lokasi proyek,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, surfaktan PHR-24 adalah hasil inovasi internal PHR yang diharapkan dapat menjadi referensi penerapan CEOR di lokasi-lokasi lain. “Ini langkah penting dalam mendorong inovasi berbasis kemampuan dalam negeri untuk peningkatan produksi migas nasional,” jelasnya.

Proyek SSF ini diharapkan akan memberikan kontribusi signifikan berupa tambahan cadangan minyak di PT Pertamina Hulu Rokan dan lebih dari sekadar angka produksi, inisiatif ini juga mendukung penguatan ketahanan energi nasional melalui pengembangan formulasi dan pemanfaatan teknologi blending yang sepenuhnya berasal dari dalam negeri.

Dia menyebutkan, di labor ini  ada lima peranan  utamanya yaitu pertama optimasi formulasi,  kedua quality assurance (penjaminan mutu) dan quality control (pengendalian mutu) bahan kimia injeksi, ketiga quality assurance dan quality control operational  injeksi, keempat surveillance after injection dan kelima surveillance interwell tracer.

“Selama ini kami telah melakukan 70 kali kombinasi percobaan dan lebih dari 200 kali percobaan kita lakukan. Setelah itu baru kita mendapatkan  surfaktan formulasi yang cocok untuk lapangan minas, area A. Kenapa saya sebut area A?  Bisa jadi untuk area lain surfaktannya akan sedikit berbeda atau  perlu ada kombinasi-kombinasi lain,” tuturnya.***

 

Editor : Edwar Yaman
lapangan minas Teknolog CEOR Sumur Uzur PHR