Disfungsi Ereksi Kini Bisa Sembuh Tanpa Obat
Redaksi • Senin, 28 Oktober 2013 | 05:07 WIB
SAMPAI saat ini Disfungsi Ereksi (DE) bisa dikatakan merupakan salah satu masalah paling menakutkan bagi kaum pria. Hal itu karena DE dapat menyebabkan ketidakharmonisan hubungan dengan pasangan, bahkan dalam jangka panjang juga disebut dapat menurunkan kualitas hidup penderita DE.
DE merupakan salah satu ketidakmampuan pria untuk melakukan ereksi atau menjaga ereksi tetap terjadi pada waktu melakukan penetrasi hubungan intim.
Berdasarkan sebuah studi yang dilakukan di Boston, Amerika Serikat (AS), didapatkan data adanya kasus baru DE sebanyak 24 orang per 1.000 pria. Dengan angka itu, diperkirakan pada akhir tahun 2025, sebanyak 322 juta pria di dunia akan menderita DE.
“Penyebab DE di antaranya adalah diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit jantung. Jadi sebaiknya penderita penyakit tersebut segera melakukan kontrol ke urolog, untuk memeriksakan ada atau tidaknya gangguan ini,” kata dr Ponco Birowo SpU PhD, dalam acara diskusi tentang pengobatan disfungsi ereksi yang diadakan RS Asri, di Jakarta, Kamis (5/9).
Ditambahkan Ponco, saran itu disampaikan karena bila DE dideteksi lebih dini, maka terapinya relatif lebih mudah. “Beberapa terapi pengobatan untuk masalah DE, antara lain seperti terapi obat minum dan non-obat minum seperti alat pompa vakum, obat suntik, dan operasi,” terangnya.
Kabar baiknya, menurut Ponco lagi, kini pasien DE mempunyai harapan tambahan untuk sembuh tanpa minum obat, dengan terapi baru yang disebut Low-Intensity Extracorporeal ShockWave Therapy (LI-ESWT). Berbeda dengan terapi lainnya, LI-ESWT atau terapi kejut (penembakan) dengan gelombang intensitas rendah, menurutnya dapat mengembalikan kemampuan ereksi spontan tanpa operasi atau non-invasif. Terapi ini juga tidak menimbulkan nyeri, serta pasien mempunyai harapan tidak perlu lagi mengonsumsi obat apabila akan melakukan hubungan seksual.
“Pada tahun 2010, suatu studi ESWT dilakukan pada bidang urologi, dengan sampel penelitian pria yang merespons dengan baik obat-obatan oral (PDE-5i). Setelah obat disetop selama sebulan, lalu mulai dilakukan penembakan ESWT pada penis sebanyak 12 kali. Hasilnya, sekitar 70 persen dari sampel merespon dengan baik terapi ini, dan 50 persen dapat kembali (mengalami) ereksi spontan tanpa obat,” papar DR dr Nur Rasyid SpU, urolog senior dari RS Asri dan FKUI RSCM.
Cara Kerja LI-ESWT
Dipaparkan Rasyid, dalam penerapan terapi ini, alat gelombang kejut tersebut ditempel pada penis di bagian puncak, tengah dan pangkal. Lalu ditembakkan dengan menggunakan gelombang intensitas rendah. “Teknik ini dapat memperbaiki aliran darah ke penis,” terangnya.
Rasyid menambahkan, penembakan ESWT pada penis dilakukan sebanyak 12 kali selama 9 minggu. Rincian jadwalnya adalah: penembakan 2 kali seminggu pada 3 minggu pertama, istirahat selama 3 minggu, lalu kembali dilakukan penembakan selama 3 minggu.
Dikatakan Rasyid lagi, terapi ini tidak menimbulkan efek samping. Sementara, hasil dari penggunaan LI-ESWT sendiri menurutnya, dapat diukur dari Erection Hardness atau kekerasan ereksi untuk penetrasi.
“Skor 1 dan 2 artinya belum mampu mencapai ereksi yang cukup kuat untuk penetrasi, sementara skor 3 dan 4 artinya sudah mampu mencapai ereksi yang cukup kuat untuk penetrasi,” jelasnya.(adie/nyata/jpnn)
Editor : RP Redaksi