Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dear Pencinta Burung! Jaga Original Lovebird dengan Cegah Kawin Campur

Redaksi • Selasa, 19 Maret 2024 | 05:30 WIB
Burung Lovebird
Burung Lovebird

JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Perkawinan burung beda spesies bisa merusak gen pada keturunan. Kukuh Dafi Abianto menyampaikan pentingnya mempertahankan galur murni supaya burung berkualitas.

Salah satu kriteria penilaian dalam kontes kecantikan (beauty contest) lovebird adalah keaslian gen di spesies burung. Orisinalitas itu tampak pada tubuh burung, mulai dari postur, warna, hingga lekuk bagian badan.

Lovebird memiliki sembilan spesies asli. Setiap spesies menyandang ciri khas yang paten. Pada burung hasil perkawinan beda spesies (kawin campur), karakteristik itu sudah berubah lantaran gennya teracak (hybrid).

Kukuh mencontohkan spesies Agroponis personatus (kepala hitam, dada kuning, sayap hijau). Kalau gen burung sudah rusak, pada warna kuning di dada biasanya muncul warna merah. Kelir hitam di kepala pun kadang bercampur abu-abu.

“Itu disebut bocor. Sudah muncul warna lain yang menabrak garis warna aslinya (marking),’’ jelas ketua juri beauty contest Komunitas Lovebird Indonesia (KLI) itu ketika berbincang dengan Jawa Pos.

Pemilik Toko Bagong di Klayatan, Kecamatan Sukun, Kota Malang, itu melanjutkan, pada perkawinan antarspesies dalam kelompok eye-ring (cincin mata) seperti fischeri, personatus, lilianae, atau nigrigenis, impak perubahan gen tidak terlalu gawat. Keturunan hanya mengalami perubahan ciri-ciri fisik. Misalnya, warna bocor atau postur (size) tak lagi proporsional.

Namun, pada perkawinan spesies roseicollis (nonklep) dengan kelompok eye-ring, buntutnya sangat riskan. Keturunan mereka akan mandul.

“Sebab, perbedaan roseicollis dengan eye-ring sudah terlalu jauh,’’ jelas pria kelahiran Malang, 37 tahun lalu, itu.

Ketua komunitas Beauty Contest Lovebird Malang (BCLM) tersebut menyayangkan masih banyaknya pembudi daya lovebird yang mengabaikan keotentikan spesies burung.

Mereka secara serampangan mengawinkan lovebird berlainan spesies untuk memburu varian yang lebih unik seperti aqua, biola, euwing, atau par blue.

Menurut Kukuh, upaya mutasi warna itu sebenarnya bagus karena bertujuan mengembangkan variasi keturunan lovebird.

Namun, ada proses non-instan yang mesti ditelateni, yaitu transmutasi (pemurnian gen burung hybrid).

“Jadi, anak lovebird yang hybrid itu dikawinkan lagi dengan induknya yang memiliki spesies orisinal. Nanti anaknya dikawinkan lagi dengan induk yang sama. Begitu seterusnya hingga sekitar 10 keturunan. Baru gennya bisa kembali murni,’’ jelasnya.

Alumnus Sastra Inggris Universitas Kanjuruhan itu membantah harga lovebird saat ini anjlok. Dia menegaskan, dalam ajang beauty contest, harga lovebird masih stabil tinggi.

Salah satu koleksi Kukuh yang berjenis lilianae bisa laku hingga Rp12 juta per ekor. Adapun yang personatus, yang paling jelek saja masih Rp500 ribu.

’’Di pasar burung mungkin hanya Rp30 ribu,’’ ujarnya, lantas terbahak.

Banderol itu memang terpaut jauh. Sebab, kebanyakan burung yang dijual di pasar adalah hybrid. Gennya sudah tidak murni. Hasil perkawinan silang secara serampangan.

Sumber: Jawapos.com

Editor : RP Edwir Sulaiman
#kawin campur #perkawinan #spesies #Lovebird #hybrid