Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Bahaya Mobil Bermesin Turbo Diisi Pertalite di Tengah Kenaikan BBM Pertamax, Pereli Rifat Sungkar Ungkap Beberapa Hal Berikut

Redaksi • Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:00 WIB
Ilustrasi mobil yang menggunakan mesin turbo.(HYUNDAI/JAWAPOS.COM)
Ilustrasi mobil yang menggunakan mesin turbo.(HYUNDAI/JAWAPOS.COM)

 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Seiring perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi, kendaraan roda empat atau mobil juga semakin canggih. Salah satunya mobil bermesin turbo. Namun, seiring tingginya harga BBM Nonsubsidi, dalam hal ini  jenis Pertamax, tak sedikit pula pengendara yang berpindah mengisi mobilnya dengan BBM Subsidi atau Pertalite.

Lantas, apakah berbahaya mengisi mobil bermesin turbo dengan Pertalite? Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan pereli nasional Rifat Sungkat berikut ini.

Seperti diketahui, kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax, membuat banyak pemilik kendaraan mulai mencari cara untuk menekan pengeluaran harian. Namun bagi pemilik mobil bermesin turbo, beralih ke Pertalite demi menghemat biaya operasional bukanlah langkah yang disarankan.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Tuan Rumah Amerika Serikat Sikat Paraguay, Menang Besar Skor Akhir 4-1

Mulai 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) mengalami kenaikan signifikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau naik sekitar Rp3.950 per liter. Sementara Pertalite (RON 90) tetap dijual Rp10.000 per liter.

Selisih harga yang semakin lebar membuat sebagian pengguna mobil mempertimbangkan untuk turun kelas bahan bakar.

Padahal, mobil bermesin turbo dirancang untuk bekerja dengan tekanan dan temperatur ruang bakar yang lebih tinggi dibanding mesin naturally aspirated atau tanpa turbo.

Baca Juga: Persoalan Drainase Belum Tuntas, Sejumlah Titik di Bagansiapiapi Kembali Digenangi Air

Karena itu, mayoritas pabrikan merekomendasikan penggunaan bahan bakar beroktan minimal RON 92 atau bahkan lebih tinggi.

Pereli nasional, Rifat Sungkar, menjelaskan bahwa kendaraan bermesin turbo pada dasarnya masih dapat beroperasi menggunakan BBM beroktan rendah seperti Pertalite.

Namun, penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai rekomendasi pabrikan berpotensi menimbulkan masalah pada mesin dalam jangka panjang dan dapat berujung pada biaya perbaikan yang tidak sedikit.

Baca Juga: Pameran di Living World, Mitsubishi Hadirkan Harga Spesial hingga Test Drive Berhadiah

"Mobil turbo modern telah dibekali teknologi sensor anti-knocking yang memungkinkan mesin menyesuaikan proses pembakaran saat menggunakan bahan bakar dengan angka oktan lebih rendah," ujar Rifat kepada JawaPos, Jumat (12/6).

Meski begitu Rifat menambahkan mesin tetap dapat bekerja meski diisi Pertalite. Kendati demikian, penggunaan BBM beroktan lebih tinggi tetap dianjurkan agar performa, efisiensi, dan usia pakai mesin tetap terjaga secara optimal.

Namun menurutnya, ketika mesin turbo menggunakan BBM beroktan lebih rendah seperti Pertalite, risiko terjadinya knocking atau detonasi menjadi lebih besar.

Kondisi ini terjadi saat campuran udara dan bahan bakar terbakar sebelum waktu yang ditentukan oleh sistem pengapian.

Dalam jangka pendek, mobil modern memang masih dapat beroperasi berkat adanya sensor knock dan sistem manajemen mesin elektronik (ECU). Sistem tersebut akan secara otomatis menyesuaikan waktu pengapian dan tekanan turbo untuk mencegah kerusakan mesin.

Baca Juga: Kejar Tunggakan Pajak Kendaraan Rp60 Miliar, Samsat Bangkinang Gencarkan Layanan Tanjak ke Desa-desa

Namun konsekuensinya tidak bisa dianggap sepele. Penyesuaian ECU membuat performa mesin menurun, akselerasi menjadi kurang responsif, dan efisiensi bahan bakar berpotensi memburuk.

Dengan kata lain, penghematan yang diperoleh dari penggunaan Pertalite belum tentu sebanding dengan penurunan performa yang dirasakan pengemudi.

Lebih jauh lagi, penggunaan BBM beroktan rendah secara terus-menerus pada mesin turbo dapat meningkatkan risiko terbentuknya deposit karbon di ruang bakar.

Baca Juga: Wabup Inhu: Lahan Pertanian Tidak Boleh Dialihfungsikan 

Dalam kondisi ekstrem, knocking yang terjadi berulang kali juga dapat mempercepat keausan piston, ring piston, hingga komponen internal mesin lainnya.

Saat ini semakin banyak mobil di Indonesia yang mengandalkan teknologi turbo, mulai dari SUV kompak hingga kendaraan premium.

Mesin turbo dipilih karena mampu menghasilkan tenaga besar dengan kapasitas mesin yang relatif kecil sekaligus mendukung efisiensi konsumsi bahan bakar.

 

Karena itu, pemilik kendaraan turbo sebaiknya tetap mengikuti rekomendasi bahan bakar yang tercantum dalam buku manual kendaraan.

Jika pabrikan merekomendasikan RON 92, maka Pertamax atau bahan bakar dengan angka oktan setara tetap menjadi pilihan paling aman.

Kenaikan harga Pertamax memang menjadi tantangan baru bagi pemilik kendaraan.

Baca Juga: Koleksi TV Premium LG Tawarkan Kecerdasan Lebih Personal dengan Peningkatan Pengalaman Hiburan Lengkap

Namun mengorbankan kualitas bahan bakar demi menekan biaya operasional justru berpotensi menimbulkan pengeluaran yang lebih besar di kemudian hari akibat penurunan performa maupun biaya perawatan mesin.

Bagi pemilik mobil turbo, memilih bahan bakar yang sesuai spesifikasi mesin tetap menjadi investasi terbaik untuk menjaga performa, efisiensi, dan umur kendaraan dalam jangka panjang.

Editor : Eka G Putra
#pertamax naik #mobil bermesin turbo #bahaya mobil diisi pertalite #pertamax ganti pertalite aman mobil? #rifat sungkar