JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Sudah 9 tahun atau hampir satu dekade kasus kematian mahasiswa Universitas Indonesia (UI) Akseyna Ahad Dori menemui jalan buntu. Polres Metro Depok masih berusaha untuk mengungkap kasus tersebut.
Kapolres Metro Depok Kombes Pol Arya Perdana mengatakan, penanganan kasus Akseyna sudah menemui kendala sejak awal. Sebab, saat itu Akseyna baru ditemukan mengambang di danau setelah diperkirakan meninggal 2 hari.
Setelah itu, kondisi jenazah yang mulai membusuk membuat sidik jari jenazah tidak bisa terdeteksi. Baru setelah 4 hari berselang identitas Akseyna terungkap dan dikenali ayahnya.
"Jadi 6 hari sejak kematian korban sampai dikenalinya korban ini menjadi obstacle yang membuat kerja penyidik menjadi sulit untuk mengungkap kejadian dari TKP yang ada," jelas Arya.
Dalam waktu 6 hari, kata Arya, kondisi TKP sudah pasti berubah. Sehingga menimbulkan kendala.
"Di sisi lain kita tidak bisa menemukan CCTV di UI yang menunjukkan korban dibunuh di wilayah danau atau di bawa ke arah danau," imbuhnya.
Sebagaimana diketahui, pada 26 Maret 2015 Akseyna ditemukan tewas mengambang di danau Kenanga UI. Awalnya mahasiswa jurusan Biologi ini diduga meninggal akibat bunuh diri. Pasalnya, ditemukan pesan dalam selembar surat di tempat kosnya.
Namun setelah dilakukan pendalaman oleh ahli, diketahui bahwa surat tersebut tidak seluruhnya di tulis oleh pria yang akrab disapa Ace tersebut. Atas penemuan itu maka diduga kuat bahwa pria 18 tahun itu tewas akibat dibunuh. Namun kasusnya masih menjadi misteri hingga sekarang.***
Editor : RP Edwar Yaman