GUNTUNG (RIAUPOS.CO) -- Komitmen Sambu Group dalam mendukung keberlanjutan sektor perkebunan kembali ditunjukkan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dijalankan oleh unit bisnisnya, PT Riau Sakti United Plantations (PT RSUP) Divisi Perkebunan. Kali ini, Sambu Group menyalurkan 400.000 bibit nanas kepada para petani di Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau.
Penyerahan bibit nanas ini dilakukan secara bertahap pada tanggal 19 dan 24 Maret 2025, serta 3 dan 7 Mei 2025. Kegiatan terpusat di Wilayah 3, tepatnya di area C14, yang dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan nanas di Kecamatan Pulau Burung. Total nilai bantuan bibit nanas tersebut mencapai Rp372.016.000 dan disalurkan kepada petani yang tergabung dalam Koperasi Unit Desa (KUD) Desa Karya Mukti.
Dalam prosesi simbolis yang digelar pada Rabu (7/5/2025), bibit diserahkan oleh perwakilan PT RSUP Divisi Perkebunan kepada Ketua KUD Desa Karya Mukti, Gampang Djatmiko, dan sejumlah petani lainnya sebagai penerima manfaat.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada PT RSUP Divisi Perkebunan yang telah memberikan perhatian nyata kepada petani di Pulau Burung. Bantuan bibit ini sangat kami butuhkan untuk peremajaan tanaman yang sudah tidak produktif, dan ini akan sangat membantu meningkatkan hasil panen nanas ke depan," ungkap Gampang Djatmiko.
Corporate Communication Manager Sambu Group, Dwianto Arif Wibowo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu praktik baik perusahaan dalam mewujudkan ketahanan pangan serta pertanian dan perkebunan yang berkelanjutan.
"Melalui program CSR pembagian bibit nanas ini, kami berharap petani dapat melakukan peremajaan lahan sehingga produksi nanas terus optimal. Ini juga bagian dari upaya kami dalam menjaga sinergi dengan komunitas petani sekitar lokasi usaha, yang selama ini telah berkolaborasi dengan Sambu Group," jelasnya.
Program ini mencerminkan strategi jangka panjang Sambu Group dalam menjaga keberlangsungan sektor pertanian, khususnya komoditas nanas yang memiliki nilai ekonomi tinggi di wilayah Indragiri Hilir. Dukungan terhadap peremajaan tanaman nanas ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga memberikan dampak sosial yang positif bagi kesejahteraan petani di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Dwianto menambahkan bahwa Sambu Group berharap melalui langkah ini, terbentuk ekosistem pertanian yang berkelanjutan dan produktif di Pulau Burung. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai perusahaan yang mengutamakan kolaborasi dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.
Sebagai informasi, Sambu Group didirikan pada tahun 1967 oleh Tay Juhana dan bergerak di bidang pengolahan kelapa. Perusahaan ini memiliki tiga pabrik yang berlokasi di Riau, yaitu PT Pulau Sambu di Kuala Enok (berdiri sejak 1967), PT Pulau Sambu di Guntung (1983), dan PT Riau Sakti United Plantations (1993).
Dengan merek unggulannya, KARA, Sambu Group berhasil membawa industri kelapa Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi melalui sistem terintegrasi yang melibatkan petani lokal sebagai mitra strategis. Petani kelapa bukan hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga bagian tak terpisahkan dari ekosistem sosial perusahaan.
Sambu Group juga dikenal aktif menjalankan berbagai program sosial seperti pembangunan infrastruktur, kegiatan keagamaan, hingga pendidikan masyarakat. Melalui produk-produknya, termasuk yang bermerek KARA, Sambu Group mengajak masyarakat turut berkontribusi dalam mendukung kesejahteraan petani kelapa Indonesia serta menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Dengan semangat keberlanjutan dan inklusifitas sosial, Sambu Group terus mengukuhkan perannya sebagai pelopor industri kelapa yang berwawasan lingkungan dan berpihak pada kesejahteraan petani.
Editor : Rinaldi