Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Murid Berdesakan di SD Negeri 022 Rambaian Inhil, Teras pun Jadi Tempat Belajar

Redaksi • Kamis, 29 Januari 2026 | 19:30 WIB
Anak-anak rombongan belajar dibagi dua dalam satu ruang kelas demi menimba ilmu ditengah keterbatasan sarana dan prasarana, Kamis (29/1/2026).
Anak-anak rombongan belajar dibagi dua dalam satu ruang kelas demi menimba ilmu ditengah keterbatasan sarana dan prasarana, Kamis (29/1/2026).

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Pagi itu, suara anak-anak membaca saling bertabrakan di SD Negeri 022 Rambaian. Bukan karena riuh kegembiraan, melainkan karena dua kelas harus berbagi satu ruangan sempit, dipisahkan sekat tipis yang nyaris tak mampu menahan suara.

Di Dusun Maju Jaya, Desa Rambaian, Kecamatan Gaung Anak Serka (GAS), Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), ruang kelas bukan lagi tempat yang memberi rasa aman dan nyaman. Ia berubah menjadi ruang kompromi, tempat anak-anak berbagi ruang, berbagi suara, bahkan berbagi konsentrasi.

Ironisnya, kondisi ini terjadi di sekolah berstatus negeri yang menampung sekitar 175 siswa. Sejak tahun 2020, sekolah ini resmi menjadi sekolah negeri. Namun hingga kini, keterbatasan sarana dan prasarana masih menjadi persoalan utama.

Keterbatasan ruang memaksa pihak sekolah melakukan berbagai cara agar proses belajar tetap berjalan. Kepala SD Negeri 022 Rambaian, Suaib Rizal, S.Pd.I., Gr, kepada Riaupos.co, Kamis (29/1/2026) mengakui kondisi tersebut.

"Karena ruang tidak cukup, kami berinisiatif membagi kelas. Bahkan ruang kantor juga kami manfaatkan untuk ruang belajar anak-anak,"ujarnya.

Upaya itu dilakukan bukan tanpa beban. Sebagian siswa tetap harus belajar di teras sekolah. Buku pelajaran dibuka di atas lantai dingin. Di ruang-ruang darurat itulah pelajaran tentang angka dan huruf dijalani.

Bagi warga desa, SD Negeri 022 Rambaian adalah harapan yang tak tergantikan.

"Kalau sekolah ini tidak ada, anak-anak kami mau sekolah ke mana?" ujar Selvi, wali murid yang telah menyekolahkan adiknya sejak kelas 1 hingga kelas 6 di sekolah tersebut.

Akses menuju sekolah lain bukan perkara mudah. Jarak jauh, kondisi jalan yang rusak, serta keterbatasan ekonomi membuat SD Negeri 022 Rambaian menjadi satu-satunya pilihan realistis bagi banyak keluarga.

Ironisnya, keberlangsungan pendidikan anak-anak di desa ini justru masih bergantung pada bantuan transportasi dari perusahaan sekitar, bukan sepenuhnya ditopang negara.

Di tengah keterbatasan sarana, para guru tetap bertahan menjalankan tugasnya. "Guru-gurunya rajin. Anak-anak jadi lebih disiplin dan semangat belajar," kata Selvi.

Namun, semangat tak mampu menutup luka lama. Sekat tipis antar kelas gagal meredam suara. Proses belajar sering terganggu, konsentrasi siswa buyar.

"Dua kelas jadi satu ruangan. Suara dari sebelah sering masuk," ucap Selvi lirih.

Hingga kini, perubahan nyata belum juga datang. Selain dukungan terbatas dari pihak perusahaan, belum ada pembangunan ruang kelas baru maupun renovasi fasilitas sekolah.

Di teras sekolah, Elma, siswi kelas 6, duduk bersila menulis pelajaran di bukunya. Ia belajar di luar kelas bukan karena ingin, melainkan karena tak ada ruang tersisa. "Saya sekarang belajar di teras,"katanya polos.

Harapannya sederhana dan seharusnya mudah dipenuhi. "Saya mau kelas baru, supaya tidak belajar di teras lagi,"inginnya.

Bagi masyarakat, kondisi SD Negeri 022 Rambaian adalah potret nyata ketimpangan pembangunan pendidikan di wilayah pedesaan. Jumiati, warga setempat, menyebut sekolah ini sebagai kebutuhan dasar yang tak bisa terus diabaikan.

"Manfaatnya besar sekali, tapi bangunannya sudah tidak layak," ujarnya.

Kepala Desa Rambaian, Hasbi Asshiddiqi pun mengaku telah berulang kali menyuarakan persoalan ini dalam forum resmi.

"Setiap tahun dalam musrenbang, kondisi sekolah ini selalu kami sampaikan dan kami tempatkan di urutan utama pengajuan. Namun sampai sekarang belum ada juga perbaikan,"katanya.

Di balik dinding dan ruang kelas yang dibagi dua, bahkan kantor guru yang berubah fungsi, 175 anak SD Negeri 022 Rambaian terus belajar-menggenggam mimpi besar di ruang yang begitu sempit.

Editor : M. Erizal
#inhil #sd negeri #SDN 022 Rambaian