TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Abrasi yang melanda Kelurahan Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah, dalam tiga hari terakhir terus menimbulkan kerusakan. Sedikitnya 20 bangunan rumah dan tempat usaha terdampak dalam tiga kejadian abrasi yang terjadi sejak Selasa (16/6) hingga Kamis (18/6).
Kejadian pertama dan kedua terjadi pada Selasa (16/6) di dua lokasi berbeda. Abrasi di kawasan Pasar Kuala Enok RT 001 RW 001 menyebabkan lima bangunan terdampak, terdiri dari warung, toko sembako, rumah dan tempat usaha. Tidak lama berselang, abrasi kembali terjadi di RT 001 RW 006 Kampung Jawa yang mengakibatkan sembilan rumah warga terdampak.
Selain merusak bangunan warga, abrasi juga berdampak terhadap sejumlah fasilitas umum, di antaranya jalan umum, pelabuhan dan vihara. Tiga rumah bahkan terancam dan penghuninya terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Baca Juga: Abrasi Kembali Terjang Tanah Merah, Belasan Rumah Warga Runtuh dalam Tiga Hari
Abrasi kembali terjadi pada Kamis (18/6) sekitar pukul 12.25 WIB di Jalan Merdeka RT 001 RW 001 Kelurahan Kuala Enok. Longsor susulan mengakibatkan empat rumah dan dua lapak jualan mengalami kerusakan berat.
Kepala Pelaksana BPBD Inhil R Arliansyah membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, abrasi dipicu terkikisnya tanah akibat hantaman ombak dan arus pasang surut yang terus terjadi, ditambah kondisi kontur tanah yang labil.
Baca Juga: Abrasi di Kuala Enok, 13 Kepala Keluarga Terdampak
“Longsor susulan mengakibatkan empat rumah dan dua lapak jualan rusak berat. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” ujarnya.
Berdasarkan data BPBD, bangunan yang terdampak pada kejadian terbaru antara lain milik Riko Hardinata, Sutiyem, Mujiburrahman, Sunardi, serta dua lapak jualan milik Suwandi dan Khairiah. Kerugian akibat kejadian tersebut diperkirakan mencapai Rp500 juta.
Sementara pada kejadian 16 Juni lalu, kerugian akibat abrasi di dua lokasi berbeda ditaksir mencapai sekitar Rp320 juta. Dengan demikian, total kerugian dari rangkaian abrasi yang terjadi dalam tiga hari terakhir diperkirakan menembus Rp800 juta.
Hingga Kamis sore, BPBD bersama aparat kecamatan, TNI, Polri dan perangkat kelurahan masih melakukan pemantauan di lokasi. Warga berharap pemerintah segera melakukan penanganan permanen karena abrasi terus mengancam permukiman dan pusat aktivitas ekonomi masyarakat di Kuala Enok. (*2)
Laporan ALI NURMAN, Tembilahan
Editor : Arif Oktafian