BEW YORK (RIAUPOS.CO) – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meradang. Hal ini dikarenakan dalam beberapa minggu terakhir, protes anti-Israel terus menyebar ke berbagai kampus yang ada di Amerika Serikat (AS) sebagaimana dikutip dari New York Post, Jumat (26/4/2024).
"Apa yang terjadi di kampus-kampus Amerika sangat mengerikan," katanya dalam sebuah pernyataan yang direkam, serta menuduh masa antisemitisme (kebencian terhadap kaum Yahudi) telah mengambil alih universitas-universitas terkemuka.
"Ini tidak masuk akal. Ini harus dihentikan. Ini harus dikutuk dan dikecam dengan tegas," katanya.Baca Juga: Perkuat Sinetron Tertawan Hati, Aktris Titi Kamal Dipuji Anggika Bolsterli
"Tanggapan dari beberapa presiden universitas sangat memalukan. Sekarang, untungnya, pejabat negara bagian, lokal, federal, banyak dari mereka telah merespons dengan cara yang berbeda, tetapi masih banyak yang harus dilakukan. Masih banyak yang harus dilakukan."
Protes atas tindakan Israel di Gaza semakin meningkat di berbagai kampus di Amerika Serikat dalam beberapa minggu terakhir, sementara perang Gaza telah memasuki bulan ketujuh.
Para pengunjuk rasa anti-Israel menyerukan gencatan senjata, dan meminta universitas-universitas disana untuk melepaskan diri dari perusahaan-perusahaan yang memiliki hubungan dengan Israel.Baca Juga: Taklukkan Arab Saudi 2-0, Uzbekistan Hadapi Timnas Indonesia di Semifinal Piala Asia U-23
Puluhan mahasiswa telah ditangkap oleh polisi, diskors, hingga DO oleh universitas. Beberapa mahasiswa, dosen Yahudi dan Israel mengatakan, bahwa protes tersebut telah mengubah universitas menjadi lingkungan yang tidak bersahabat, hingga membuat mereka merasa terancam.
Masih dikutip dari New York Post, beberapa pihak melaporkan adanya peningkatan antisemitisme di kampus. Beberapa orang Yahudi juga memainkan peran vokal dalam protes anti-perang, termasuk kelompok-kelompok seperti Jewish Voice for Peace, yang telah memimpin beberapa demonstrasi.
Menurut perhitungan Israel, pada tanggal 7 Oktober 2023, Hamas memimpin serangan terhadap komunitas Israel selatan yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 253 orang.Baca Juga: Sebelum Beli Mini Cooper Seken, 3 Hal Wajib ini Perlu Diperhatikan agar Dapat Unit yang Bagus
Menurut pihak berwenang Gaza, sejak saat itu, Israel telah menewaskan lebih dari 34.000 warga Palestina dalam serangannya yang sedang berlangsung di Jalur Gaza yang diblokade, dan ribuan orang dikhawatirkan terkubur di bawah reruntuhan.
Serangan tersebut telah menghancurkan sebagian besar daerah tersebut, membuat sebagian besar dari 2,3 juta penduduknya mengungsi dan menciptakan krisis kemanusiaan.
Editor : RP Edwar Yaman