Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Donald Trump Ubah Strategi Hadapi Kamala Harris, Bersaing Ketat Kumpulkan Donasi

jpg • Kamis, 1 Agustus 2024 | 10:30 WIB
Jajak pendapat selama sepekan terakhir, termasuk dari Reuters/Ipsos, menunjukkan Kamala Harris dan Donald Trump bersaing ketat.
Jajak pendapat selama sepekan terakhir, termasuk dari Reuters/Ipsos, menunjukkan Kamala Harris dan Donald Trump bersaing ketat.

WASHINGTON (RIAUPOS.CO) - Kurang dari 100 hari pilpres AS, persaingan antara Donald Trump dan Kamala Harris terus memanas. Keduanya saling beradu manuver untuk menggaet pemilih.

Usai Joe Biden mundur dari percaturan pilpres, Trump kini harus menerima kenyataan bahwa lawannya adalah kandidat yang sangat berbeda. Harris adalah wapres pertama berkulit hitam, perempuan, berasal dari Asia Selatan, dan hampir 20 tahun lebih muda darinya.

Trump dan Partai Republik harus dengan cepat mengubah strategi kampanye mereka. Sejauh ini, Trump menggambarkan saingannya itu sebagai ‘Lying Kamala’, ‘Laughing Kamala’, dan ‘Crazy Kamala’, adalah beberapa julukan yang dilontarkannya. Pekan lalu saat berada di North Carolina, Trump bahkan menuduh Harris sebagai pendukung eksekusi bayi-bayi. Hal itu merujuk pada posisi Harris soal kebijakan aborsi.

Rabu kemarin, Trump terbang ke Chicago untuk berpartisipasi dalam diskusi meja bundar dengan para jurnalis Afrika-Amerika. Diskusi itu difokuskan untuk membahas isu paling mendesak yang dihadapi komunitas kulit hitam.

Trump menjanjikan bagaimana ia mencapai lebih banyak kebijakan untuk warga kulit hitam Amerika dibanding presiden lainnya sepanjang sejarah. ’’Dengan menerapkan kebijakan America First pada ekonomi, imigrasi, energi, hukum, dan ketertiban, dan kebijakan luar negeri,’’ jelas kampanye itu dilansir dari AFP.

Harris pun menye­rang balik Trump ketika berkampanye di Pittsfield, Massachusetts. ’’Anda mungkin telah memperhatikan bahwa Donald Trump melontarkan kebohongan menyesatkan tentang rekam jejak saya, dan apapun yang dia dan pasangannya katakan itu sangat aneh,’’ kata Harris.

Dilansir dari Reuters, tim kampanye Harris mengatakan bahwa mantan jaksa itu telah mengumpulkan donasi besar sejak didukung oleh Presiden Joe Biden. Mayoritas dana itu disebutnya berasal dari para donatur pemula.

’’Dalam seminggu sejak kami mulai, @KamalaHarris mengumpulkan 200 juta dolar AS. 66 persen dari jumlah tersebut berasal dari para donatur baru. Kami telah mendaftarkan 170.000 relawan baru,’’ tulis Wakil Manajer Kampanye Harris, Rob Flaherty, melalui X.

Jajak pendapat selama seminggu terakhir, termasuk dari Reuters/Ipsos, menunjukkan Harris dan Trump bersaing ketat. Hal ini mengindikasikan bahwa keduanya akan terlibat dalam kampanye yang sengit selama 100 hari terakhir menuju pemilihan. Tim kampanye Trump melaporkan pada awal Juli bahwa me­reka mengantongi 331 juta dolar AS pada kuartal kedua, lebih besar dari yang diperoleh tim kampanye Biden dan pendukung Demokratnya. Yakni 264 juta dolar AS dalam periode yang sama. Pada akhir Juni, tim kampanye Trump membukukan donasi sebesar 284,9 juta dolar AS dalam kas, sementara tim kampanye Demokrat hanya memiliki 240 juta dolar AS.

Harris memiliki jadwal yang padat selama satu pekan ke depan, dengan salah satunya berkampanye di Atlanta, Georgia. Ia diperkirakan akan mengumumkan cawapresnya.

Isu terkait hak-hak reproduksi perempuan di AS sering kali menjadi pusat perhatian dalam acara kampanye Harris. (dee/bay/jpg)

Silakan simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu dengan mengakses Riau Pos WhatsApp Channel

 

Editor : RP Arif Oktafian
#pemilihan presiden amerika #donald trump #pilpres as #kamala harris