GAZA (RIAUPOS.CO) - Setelah meninggalnya Ismail Haniyeh, Hamas telah menunjuk pemimpin baru untuk biro politiknya. Yahya Sinwar didapuk menjadi pemimpin baru politbiro. Dia merupakan petinggi Hamas yang tengah aktif di medan tempur Gaza, Palestina, menghadapi Israel.
Dilansir dari Al Jazeera, Israel pernah menyebut pria 61 tahun itu sebagai dalang dalam pecahnya serangan balik Hamas pada 7 Oktober lalu. Sekitar 1.000 orang terbunuh dan 200 lebih ditawan. Sebagian tawanan saat ini telah dibebaskan.
Analis Politik Palestina Noor Odeh menyatakan, pemilihan Sinwar ini menempatkan Gaza di garis depan. ’’Perjuangan di Gaza tidak hanya peristiwa lapangan, tapi (dengan penunjukan Sinwar) juga menempatkan dinamika politik Hamas,’’ bebernya. Bisa jadi ini adalah sinyal Gaza yang akan menjadi kendali dalam gencatan senjata.
Penunjukan Sinwar mendapat respons positif dari Hizbullah. Dalam pernyataan resminya, mereka menyebutkan pemilihan Sinwar merupakan pesan kuat bagi Israel maupun Amerika. Artinya dalam keputusan perang maupun politik, keputusan itu menjadi satu pintu.
’’Memilih Yahya Sinwar dari Jalur Gaza, yang hadir di garis depan bersama pejuang dan di antara rakyatnya. Ini menegaskan kembali tujuan yang dicari musuh dengan membunuh pemimpin telah gagal,’’ ucapnya.
BBC menyebut ada dua satu nama lain selain Yahya Sinwar untuk maju memimpin Hamas. Nama yang muncul adalah Mohammad Hasan Darwis. Dia adalah kepala Dewan Syura Umum, badan yang memilih biro politik Hamas.
Menurut informasi yang diperoleh dari salah satu pejabat Hamas, langkah ini merupakan wujud menantang Israel. Berbeda dengan Haniyeh yang cenderung moderat, Sinwar memiliki pendekatan militer lebih kuat. ’’Mereka membunuh Haniyeh yang terbuka terhadap solusi. Sekarang mereka harus berurusan dengan Sinwar dan pimpinan militer,’’ kata Pejabat itu kepada BBC.
Sinwar dipandang sebagai salah satu tokoh paling ekstrem di Hamas. Sinwar berada di puncak daftar orang yang diburu Israel. ’’Penunjukan teroris ulung Yahya Sinwar merupakan alasan kuat untuk melenyapkan organisasi keji ini dari muka bumi,’’ kata Israel Katz, Menteri Luar Negeri Israel.
Terpisah, serangan roket di pangkalan di Irak melukai tujuh warga Amerika Serikat. Serangan itu menargetkan pangkalan Ain al-Assad. Pangkalan itu menampung pasukan Amerika serta personel lain dari koalisi pimpinan AS melawan kelompok jihadis ISIS.
’’Lima anggota angkatan bersenjata AS dan dua kontraktor AS terluka dalam serangan itu,’’ di mana dua roket menghantam pangkalan itu, kata seorang pejabat pertahanan AS yang tidak mau disebutkan namanya.
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengecam keras. Dia menuding milisi Syiah yang didukung Iran, terlibat dalam serangan itu. ’’Amerika Serikat tidak akan menoleransi serangan terhadap personel kami di kawasan tersebut,’’ kata Austin. (lyn/bay/jpg)
Editor : RP Arif Oktafian