KAIRO (RIAUPOS.CO) – Awal dari perdamaian abadi dan kemakmuran bagi seluruh wilayah. Begitulah isi pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump setelah resmi menandatangani kesepakatan gencatan senjata Gaza bersama para pemimpin Qatar, Mesir, dan Turki di Sharm el-Sheikh, Mesir.
Gencatan senjata ini menadai berakhirnya dua tahun perang yang menewaskan puluhan ribu warga Palestina dan mengguncang kawasan Timur Tengah.
"Ini bukan sekadar akhir dari perang. Ini adalah awal baru bagi rakyat Gaza, bagi Israel, dan bagi dunia yang lebih damai," ujar Trump seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (14/10/2025).
Baca Juga: Marcus Rashford Ditantang Thomas Tuchel untuk Tunjukkan Konsistensi dan Potensi Terbaiknya
Lebih dari 20 pemimpin dunia hadir dalam penandatanganan kesepakatan gencatan senjata itu di sela-sela Sharm el-Sheikh Peace Summit. Kesepakatan gencatan senjata ini mencakup penghentian operasi militer Israel di Jalur Gaza serta pertukaran tahanan berskala besar antara Israel dan Hamas.
Sekitar 2.000 warga Palestina dibebaskan dari penjara Israel, sementara Hamas melepaskan 20 sandera Israel yang masih hidup dan menyerahkan jasad empat lainnya. Dari jumlah tahanan Palestina yang dibebaskan, 154 di antaranya diasingkan ke Mesir.
Suasana haru menyelimuti Gaza dan Tepi Barat. Banyak keluarga Palestina yang akhirnya dapat memeluk kembali kerabat mereka setelah bertahun-tahun terpisah. Namun, tidak sedikit pula yang menangis kecewa setelah mengetahui anggota keluarga mereka tidak termasuk dalam daftar pembebasan.
Baca Juga: Bantah Pekerja Bangunan Terjatuh dari Lantai Tiga, Begini Penjelasan Pemilik Hotel
"Kami bahagia sekaligus hancur," ujar seorang warga di Khan Younis.
Meski gencatan senjata membawa secercah harapan, kondisi Gaza tetap memprihatinkan. Jurnalis Al Jazeera melaporkan bahwa banyak warga yang kembali ke wilayah tanpa rumah, sekolah, atau fasilitas publik. Sebagian besar rumah sakit rusak parah dan tidak mampu menangani ribuan orang yang membutuhkan perawatan medis.
"Banyak dari yang dibebaskan membutuhkan perawatan segera, tetapi tidak ada sumber daya untuk menanganinya," tulisnya.
Sejak perang dimulai pada Oktober 2023, setidaknya 67.869 warga Palestina tewas dan 170.105 lainnya luka-luka akibat serangan Israel. Di pihak Israel, 1.139 orang tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, dengan sekitar 200 orang sempat disandera. Kini, Gaza digambarkan sebagai "gurun abu-abu" setelah lebih dari 200.000 bangunan, termasuk sekolah, rumah sakit, dan menara permukiman, hancur total.
Israel kini menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) setelah Afrika Selatan menggugatnya atas kejahatan terhadap kemanusiaan di Jalur Gaza. Kehancuran infrastruktur dan blokade bantuan medis membuat ribuan warga kini menunggu evakuasi ke luar wilayah untuk mendapatkan perawatan.
"Gaza saat ini hampir tidak layak huni," tulis laporan Al Jazeera.
Dari sisi diplomatik, para pemimpin dunia menyambut positif peran Amerika Serikat dalam tercapainya gencatan senjata ini.
Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, menyebut hasil KTT Sharm el-Sheikh sebagai "awal positif menuju solusi yang adil dan berkelanjutan bagi rakyat Palestina." Ia menambahkan, "Kami berharap semua pihak berkomitmen terhadap kesepahaman bersama ini demi kebaikan semua."
Sementara itu, Menteri Pertahanan Australia Richard Marles menyatakan bahwa negaranya akan mempertimbangkan permintaan pengiriman pasukan penjaga perdamaian ke Gaza jika diminta secara resmi.
"Belum ada permintaan apa pun, tapi kami akan menimbang setiap permintaan yang datang," ujarnya kepada Sky News Australia.
Marles juga memuji Trump yang, menurutnya, "layak mendapat penghargaan besar atas upayanya mengakhiri tragedi kemanusiaan di Timur Tengah."
Di sisi lain, perhatian dunia kini tertuju pada implementasi kesepakatan ini. Banyak diplomat mempertanyakan langkah berikutnya, termasuk apakah Hamas akan melucuti senjata dan apakah Otoritas Palestina akan memegang kendali atas pemerintahan Gaza pascaperang.
Seorang pejabat Mesir menyebut, "Ini memang kemenangan besar, tapi masih banyak rincian yang harus dikerjakan."
Dalam deklarasi bersama bertajuk Enduring Peace and Prosperity, para pemimpin AS, Mesir, Qatar, dan Turki menegaskan komitmen untuk membangun perdamaian yang langgeng. Pernyataan itu juga mengakui hak yang setara bagi warga Palestina dan Israel, sebuah sikap yang jarang diambil oleh pemerintahan Trump sebelumnya. Namun, deklarasi itu belum secara eksplisit menyebut hak rakyat Palestina atas negara dan penentuan nasib sendiri.
Sementara euforia menyambut perdamaian menyelimuti banyak pihak, bayang-bayang ketidakpastian masih membesar di Gaza. Dengan infrastruktur hancur total, rumah sakit lumpuh, dan ekonomi porak-poranda, masa depan wilayah itu masih suram. Namun di tengah reruntuhan, sebagian warga tetap memelihara secercah harapan bahwa kesepakatan ini bisa menjadi titik balik bagi kebebasan dan kemanusiaan di tanah yang telah lama dilanda perang.***
Editor : Edwar Yaman