JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- BBC melaporkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro kini ditahan di sebuah penjara di New York. Hal itu diketahui setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke negara Amerika Latin itu.
Dilaporkan dalam operasi militer pekan lalu, pasukan AS menangkap Maduro bersama istrinya, Cilia Flores. Setelah itu AS menerbangkan keduanya keluar dari Venezuela.
Maduro menghadapi dakwaan serius terkait jaringan perdagangan narkotika internasional. Pemerintah AS menyebut langkah itu sebagai bagian dari perang melawan organisasi perdagangan narkoba, bukan perang terhadap negara Venezuela.
Maduro sendiri selama ini membantah keras tuduhan bahwa dirinya memimpin kartel narkoba. Namun, jaksa federal di New York telah mengajukan dakwaan terkait perdagangan narkotika lintas negara, yang kini menjadi dasar hukum penahanannya di AS.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan, Washington tak sedang berkonflik dengan Venezuela sebagai negara. Menurut dia, target utama operasi itu adalah jaringan kejahatan narkotika yang disebut telah menyusup ke lingkaran kekuasaan Caracas.
"Amerika Serikat berperang melawan organisasi perdagangan narkoba, bukan melawan Venezuela," kata Rubio, sehari setelah serangan dilakukan.
Pasca Maduro ditahan di New York, situasi politik di dalam negeri Venezuela bergerak cepat. Wakil Presiden Delcy Rodríguez telah diambil sumpahnya sebagai presiden sementara.
Di tengah ketegangan geopolitik, kondisi di ibu kota Caracas justru dilaporkan relatif tenang. Seorang warga setempat mengatakan kepada BBC bahwa aktivitas masyarakat berjalan normal. "Saat ini semuanya terlihat cukup tenang," ujar warga, meski ketidakpastian politik masih membayangi.
Pemerintah Venezuela sendiri mengecam keras tindakan AS dan menyebutnya sebagai agresi militer yang melanggar kedaulatan negara.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika Serikat akan mengelola Venezuela hingga tercipta transisi yang aman, tepat, dan terukur menuju pemerintahan baru.
Pernyataan Trump jelas memicu kontroversi karena dianggap bertolak belakang dengan janji sebelumnya yang berkomitmen menghindari perang selama masa jabatan keduanya.
Alih-alih menjauh dari konflik, Washington kini terlibat langsung dalam pergantian kekuasaan di Venezuela. Sebuah langkah yang berpotensi memicu ketegangan regional dan perdebatan panjang soal hukum internasional.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi