Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Sebut Miliki Kendali di Selat Hormuz, Trump Perintahkan Kapal Perang AS Tembak Penebar Ranjau

Redaksi • Jumat, 24 April 2026 | 06:48 WIB
Donald Trump enggan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran, tanpa kesepakatan. (int)
Donald Trump enggan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran, tanpa kesepakatan. (int)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Donald Trump sepertinya suka berkontoversi. Kali ini Presiden Amerika Serikat (AS) itu mengeluarkan pernyataan keras terkait situasi di Selat Hormuz. 

Trump bermanuver dalam unggahannya di platform Truth Social. "Tidak boleh ada keraguan. Tembak dan bunuh setiap kapal yang kedapatan menebar ranjau laut di jalur strategis tersebut," tulis Trump memerintahkan Angkatan Laut AS.

Trump menyebut pemerintah Iran sedang dilanda konflik internal antara kelompok garis keras dan moderat. "Kami memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Tidak ada kapal yang bisa masuk atau keluar tanpa persetujuan Angkatan Laut Amerika Serikat. Selat itu 'tertutup rapat' sampai Iran mau membuat kesepakatan," ujarnya.

Baca Juga: Kawasan Teluk Memanas Lagi! Kapal Tanker Sekutu AS di Selat Hormuz Ditembaki Iran, Ini Penyebabnya

Pernyataan ini muncul di tengah laporan media Amerika yang menyebut Iran kesulitan membuka kembali Selat Hormuz. Menurut laporan tersebut, Teheran tidak mampu menemukan seluruh ranjau laut yang mereka pasang selama konflik berlangsung, sehingga memperumit upaya normalisasi jalur pelayaran.

Situasi di Selat Hormuz kini menjadi salah satu titik paling rawan di dunia, dengan pernyataan sepihak dan aksi militer yang berpotensi memperluas konflik global.

Di hari yang sama, Pentagon mengumumkan militer AS menyita sebuah kapal tanker yang diduga terkait penyelundupan minyak Iran. Departemen Pertahanan AS menegaskan operasi tersebut merupakan bagian dari upaya penegakan hukum maritim global untuk mengganggu jaringan ilegal yang mendukung Iran.

Baca Juga: Presiden Iran Pezeshkian Buka Peluang Penyelesaian Damai, Begini Penegasannya Terkait Nuklir

Kapal tanker bernama Majestic X dilaporkan disergap di Samudra Hindia. Rekaman yang dirilis Pentagon memperlihatkan pasukan AS menaiki dek kapal tersebut. Data pelacakan menunjukkan kapal itu berada di antara Sri Lanka dan Indonesia, dengan tujuan akhir menuju Zhoushan, Tiongkok.

Di sisi lain, Iran meningkatkan eskalasi dengan menyerang tiga kapal di Selat Hormuz dan menyita dua di antaranya. Media Iran menyebut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membawa kapal MSC Francesca dan Epaminondas ke wilayah Iran, memperkeruh situasi di jalur perdagangan vital dunia tersebut.

Penyitaan kapal oleh AS ini menambah daftar panjang intersepsi kapal berbendera Iran oleh AS. Setidaknya empat kapal telah dialihkan dalam beberapa waktu terakhir, menyusul operasi sebelumnya di perairan India, Malaysia, dan Sri Lanka.

Baca Juga: Krisis Minyak Percepat Ekspansi EV Cina di Asia

Sementara perusahaan pengelola kapal Epaminondas melaporkan bahwa kapal mereka ditembaki oleh kapal bersenjata di lepas pantai Oman hingga menyebabkan kerusakan pada bagian anjungan. Kapal kargo lain juga diserang beberapa jam kemudian, meski tidak menimbulkan korban jiwa.

Ketegangan ini terjadi hanya sehari setelah Trump memperpanjang gencatan senjata yang rapuh, sembari tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Situasi tersebut praktis membuat ekspor melalui Selat Hormuz, yang biasanya dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, terhenti hampir sepenuhnya.

Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menembus angka 100 dolar AS per barel, melonjak sekitar 40 persen dibandingkan sebelum perang. Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, memperingatkan dampak jangka panjang bagi konsumen dan dunia usaha, dengan kerugian yang diperkirakan mencapai EUR 500 juta per hari bagi Eropa.

Baca Juga: Sekutu Barat Makin Terpecah, Spanyol Kecam Serangan Brutal Israel ke Lebanon 

Sejak konflik pecah pada akhir Februari, lebih dari 30 serangan terhadap kapal telah terjadi di kawasan Timur Tengah. Dampaknya terasa luas, mulai dari lonjakan harga energi hingga kenaikan biaya pangan global.

Sumber: Jawapos.com

 

 

Editor : Rinaldi
#kapal penebar ranjau #selat hormuz #presiden as donald trump