Dampak kesepakatan damai itu juga menjalar sampai ke Indonesia. Setelah berbulan-bulan tertekan akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menunjukkan pemulihan signifikan pada pertengahan bulan ini.Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong penguatan aset-aset keuangan domestik. Salah satu dampak paling cepat terlihat adalah penguatan rupiah.
Sempat mendekati level psikologis kritis, kini rupiah bergerak lebih stabil di kisaran Rp17.672 hingga Rp17.778 per dolar AS. Kondisi tersebut didukung oleh turunnya harga minyak mentah dunia sekitar 4 hingga 5 persen sehingga kembali berada di bawah 80 per barel per dolar AS.
Baca Juga: Menang di Moto3 Junior Portugal 2026, Kiandra Ramadhipa Dekati Puncak Klasemen
“Penurunan harga minyak sangat membantu Indonesia karena mengurangi tekanan biaya impor migas sekaligus menjaga ketahanan fiskal melalui beban subsidi energi yang lebih terkendali,” kata Rahma kepada JPG, Rabu (17/6).
Terpisah, ekonom senior INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini menyebut, pemerintah AS berkepentingan besar meredakan konflik karena lonjakan harga energi telah membebani masyarakat dan tidak memberikan keuntungan politik bagi Presiden Donald Trump. “Pasar minyak mendapat gangguan yang sangat serius dalam beberapa bulan terakhir. Sekarang ada harapan untuk pulih dan kembali normal,” ujarnya.
Mengutip Al Arabiya News, seremoni penandatanganan MoU akan berlangsung di Resor Burgenstock dekat Lucerne, Swiss. Menurut pejabat AS, Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf telah menandatangani dokumen tersebut secara elektronik. Vance akan mewakili AS dalam penandatanganan fisik dokumen, sementara media Iran melaporkan, Ghalibaf akan menjadi representasi Iran.
Baca Juga: Tali Pengaman Belum Terpasang, Perempuan Brazil Tewas saat Bungee Jumping
Penghentian Perang
Meski isi lengkap dokumen belum dipublikasikan, sejumlah media Amerika dan Arab Saudi menyebut, kesepakatan tersebut berisi 14 poin, utamanya penghentian perang di seluruh lini konflik. Setelah penandatanganan, kedua negara dijadwalkan langsung memulai negosiasi lanjutan selama 60 hari.
AS akan mengizinkan Iran kembali menjual minyak dan bahan bakar segera setelah kesepakatan ditandatangani. Pelonggaran juga mencakup sektor perbankan, transportasi, dan asuransi.
Optimisme pasar juga diperkuat dengan mulai bergeraknya kembali ekspor minyak Iran. Situs pelacak TankerTrackers melaporkan, sedikitnya dua kapal tanker super milik National Iranian Tanker Company telah keluar dari area blokade Angkatan Laut AS di Selat Hormuz dengan membawa sekitar 3,8 juta barel minyak mentah.
Namun, prospek perdamaian masih dibayangi ketegangan di Lebanon. Mengutip Al Jazeera, militer Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon Selatan, termasuk di sekitar Kfar Tebnit dan Nabatieh. Sebagai balasan, pejuang Hizbullah dilaporkan menembakkan sedikitnya 10 roket ke arah posisi pasukan Israel.
“Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah (Lebanon) yang mereka duduki selama perang ini, perang belum sepenuhnya berakhir,” kata Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Sebelumnya, Trump secara terbuka mengkritik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam KTT G7 di Prancis. “Israel telah terlalu lama memerangi Hizbullah dan terlalu banyak orang yang terbunuh,” ujar Trump.
Sentimen Eksternal
Rahma menambahkan, penguatan rupiah tidak hanya ditopang sentimen eksternal. Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang sebelumnya menaikkan BI-Rate menjadi 5,5 persen serta optimalisasi instrumen Operasi Pasar Terbuka (OPT) valas seperti SVBI dan SUVBI turut membantu menjaga likuiditas dolar di pasar domestik.
Baca Juga: Israel Didesak Buka Blokade di Jalur Gaza
Sentimen positif yang sama juga tercermin di pasar saham. Pada pekan ketiga Juni, IHSG mencatat lonjakan lebih dari 3,6 persen dan kembali menembus level psikologis penting. Saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan seperti bank-bank pelat merah dan BCA, menjadi motor penggerak utama penguatan indeks.
Tak hanya perbankan, hampir seluruh sektor di bursa bergerak di zona hijau. Sektor bahan baku, industri, dan konsumsi menjadi penopang utama kenaikan IHSG.
Meski demikian, Rahma mengingatkan, optimisme pasar masih perlu diimbangi kewaspadaan. “Investor tetap perlu memperhatikan perkembangan lanjutan kesepakatan damai serta keputusan BI-Rate dalam waktu dekat untuk melihat arah kebijakan moneter setelah risiko geopolitik mulai mereda,” tuturnya.
Senada, peneliti makroekonomi dan pasar keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia Teuku Riefky juga menilai, sentimen positif terhadap nilai tukar dan reli indeks IHSG kemungkinan hanya berlangsung dalam jangka pendek. Dia menilai, apa yang terjadi dengan IHSG belum mencerminkan perubahan fundamental ekonomi Indonesia. “Kenaikan tersebut lebih banyak dipicu sentimen eksternal dibanding perbaikan kondisi domestik,” katanya.
Terkait dampak fiskal, Riefky mengatakan, belum ada perhitungan yang dapat menggambarkan secara pasti besarnya keuntungan yang diperoleh pemerintah apabila harga minyak dunia terus turun akibat normalisasi pasokan energi melalui Selat Hormuz. Di sisi lain, membaiknya situasi geopolitik global dinilai dapat meningkatkan minat investor asing terhadap aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.(lyn/mim/ttg/jpg)
Editor : Arif Oktafian