TEHERAN (RIAUPOS.CO) - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas hanya beberapa pekan setelah kedua negara menyepakati penghentian sementara permusuhan. Militer Amerika melancarkan serangan ke sejumlah wilayah strategis Iran setelah Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan gencatan senjata telah berakhir.
Serangan yang berlangsung pada Rabu (9/7) malam waktu setempat menyasar kota pelabuhan Bandar Abbas di Selat Hormuz, Sirik, Provinsi Bushehr yang menjadi lokasi kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Iran, serta Pulau Abu Musa. Komando Pusat Militer Amerika (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut dilakukan atas perintah langsung Trump.
Menurut CENTCOM, serangan bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz. Langkah itu diambil setelah tiga kapal kargo diserang di jalur pelayaran tersebut sehari sebelumnya, memicu bentrokan terbesar sejak nota kesepahaman penghentian perang diteken pada 17 Juni lalu.
Baca Juga: Menolak Paranoid Pengadil Argentina
Trump menegaskan operasi militer itu merupakan aksi balasan terhadap serangan Iran. “Ini adalah pembalasan atas pengeboman kapal-kapal kemarin oleh Iran. Jika itu terjadi lagi, konsekuensinya akan jauh lebih buruk,” tulisnya melalui Truth Social.
Iran merespons dengan melancarkan serangan ke pangkalan militer Amerika di Bahrain dan Kuwait sejak Rabu hingga Kamis (10/7). Sirene peringatan berbunyi sedikitnya dua kali di Bahrain yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika. Militer Kuwait juga mengaku mencegat sejumlah drone dan rudal yang mengarah ke wilayahnya. (lyn/gas/jpg)
Editor : Arif Oktafian