Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

AS Blokade Pelabuhan Iran, Harga Minyak Naik

Tim Redaksi • Kamis, 16 Juli 2026 | 10:03 WIB
Ilustrasi situasi di perairan selat Bab al-Mandab. (geminiAi)
Ilustrasi situasi di perairan selat Bab al-Mandab. (geminiAi)

 

TEHERAN (RIAUPOS.CO) - Iran menutup Selat Hormuz. Amerika Serikat (AS) membalasnya dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan negara tersebut. Kini, Teheran yang terus-menerus diserang Washington DC mengancam akan menutup jalur krusial distribusi minyak dan gas lainnya: Selat Bab al-Mandab.

Lewat Bab al-Mandab, selat sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, Arab Saudi mengalirkan ekspor minyaknya. Jalur itu pula yang dilewati armada distribusi energi dunia dalam jumlah yang signifikan.

Dampaknya langsung terasa pada harga minyak dunia. Mengutip UNN, per Selasa (14/7), minyak mentah Brent berjangka naik 1,43 dolar Amerika Serikat (AS) per barel atau 1,7 persen menjadi 84,73 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika menguat 1,20 dolar AS per barel atau 1,5 persen menjadi 79,34 dolar AS per barel.

Baca Juga: Iran Hanguskan Depot BBM Pangkalan Militer AS 

UNN juga mengingatkan, bahwa pada awal pekan ini harga minyak dunia sempat melonjak lebih dari sembilan persen hingga menyentuh level tertinggi dalam sebulan setelah muncul laporan mengenai rencana AS memberlakukan kembali blokade laut terhadap Iran.

Jika konflik terus berlanjut, tekanan terhadap rantai pasok energi global diperkirakan akan semakin besar, termasuk potensi kenaikan harga minyak yang dapat berdampak pada inflasi dan biaya energi di berbagai negara. Hal itu harus diwaspadai semua negara, tak terkecuali Indonesia.

Para analis menyebut, pasar juga mengalami kebingungan atas kondisi di Selat Hormuz. Terutama dipicu pernyataan Trump bahwa AS bakal ikut cawe-cawe di jalur yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia tersebut.

Baca Juga: Iran Serang Pangkalan Militer AS di Teluk sebagai Balasan atas Gempuran AS

Caranya, dengan mengenakan tarif 20 persen untuk semua kapal yang melintasi selat yang memisahkan Iran dengan Oman tersebut. “Pasar masih bertanya-tanya, ‘Apakah kami akan membayar Iran untuk mendapatkan perlindungan atau kami membayar AS saja, juga untuk perlindungan? Dan, berapa persisnya yang harus dibayar?’’ kata Andy Lipow, analis di Asosiasi Perminyakan Lipow, seperti dikutip dari AFP, Selasa (14/7).

Namun, Trump akhirnya menarik ancaman pengenaan tarif 20 persen tersebut. “Semua kapal bebas melintas (di Selat Hormuz), kecuali untuk Iran, dan AS akan mengimplementasikan blokade penuh khusus untuk kapal-kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran,” tulis Trump di akun Truth Social-nya.

Beban Subsidi

Meski demikian, menurut pengamat energi dari Energy Shift Institute Putra Adhiguna, pemerintah tetap perlu mulai melakukan pembenahan kebijakan subsidi agar lebih tepat sasaran. Sebab, konsumsi BBM bersubsidi oleh kelompok masyarakat mampu masih cukup besar.

Putra menilai, dengan harga minyak dan nilai tukar rupiah saat ini, beban yang harus ditanggung Pertamina untuk menjaga harga BBM berpotensi meningkat signifikan. “Pertamina bisa menambah beban Rp300 miliar hingga Rp500 miliar per hari untuk menambal subsidi,” sebutnya kepada Jawa Pos (JPG), kemarin (15/7).

Sampai dengan kemarin, pemerintah belum mengeluarkan pernyataan terkait kemungkinan dampak memanasnya kembali kondisi di Timur Tengah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) hanya merilis bahwa pihaknya segera menerbitkan regulasi sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto terkait pemberian harga khusus BBM.

Baca Juga: Iran Serentak Bombardir Enam Negara

Yang disasar adalah pengusaha nelayan yang mengoperasikan kapal berukuran 30 hingga 200 gross ton (GT). Kebijakan tersebut ditujukan untuk menekan beban operasional pelaku usaha perikanan di tengah tingginya harga BBM nonsubsidi.

“Dengan harga Rp15 ribu ini diharapkan dapat membantu proses operasional bagi nelayan yang mengoperasikan kapal 30 GT ke atas,” ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia seusai rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Kabupaten Bogor, belum lama ini.

Dua Musuh Lama Saling Serang Bandara

Empat tahun sudah Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan koalisi di belakangnya menjalani gencatan senjata dengan Kelompok Houthi yang didukung Iran. Namun, kini keduanya berada di ambang episode perang baru.

Mengutip AFP, kemarin (15/7), pemicunya adalah aksi saling serang bandara. Diawali serangan militer Yaman ke Bandara Sanaa yang akan didarati delegasi Houthi yang baru pulang melayat ke Iran.

Pesawat akhirnya harus mendarat di bandara lain. Houthi membalas serangan tersebut pada Ahad (13/7) malam waktu setempat dengan menembakkan misil ke Bandara Abha, kota di bagian selatan Saudi.

Itulah serangan besar pertama Houthi ke wilayah Saudi sejak 2022. “Saya pikir dampak saling serang ini bakal besar. Bisa dibilang, gencatan senjata empat tahun terakhir telah berakhir,” kata Farea Al-Muslimi, periset di Chatam House, think tank yang berbasis di London, Inggris, kepada AFP.

Arab Saudi disebut akan membalas serangan Houthi itu. “Infrastruktur sipil Saudi dalam kondisi siaga,” kata seorang sumber kepada AFP. Houthi sudah mengancam, misil dan drone akan terus diluncurkan ke wilayah Saudi selama Bandara Sanaa dijadikan sasaran serangan. Kelompok tersebut juga melarang penerbangan sipil menggunakan wilayah udara negeri monarki itu.

Konflik terbaru Saudi dengan Houthi ini tak lepas dari dampak perang antara AS dan Iran. Konflik tersebut juga dapat semakin membuat situasi Timur Tengah tidak stabil. Iran yang menyerang berbagai fasilitas militer AS di negara-negara tetangganya menantang hegemoni koalisi di balik Saudi. Hal tersebut diwujudkan dengan mengirim pesawat ke Sanaa untuk menjemput delegasi Houthi tanpa meminta izin.

Selama lebih dari satu dekade, pesawat yang akan memasuki wilayah udara Yaman harus meminta izin kepada Saudi dan koalisi di belakangnya. Saudi terlibat dalam konflik antara Pemerintah Yaman dan Houthi sejak 2015, setahun setelah perang saudara itu meletus.

Mohammed al-Basha, analis dari Basha Report yang berbasis di AS, menyebut, kedua pihak sebenarnya masih terus berunding. “Tapi, keduanya juga siap berperang kalau pembicaraan buntu,” katanya.(lyn/bry/ttg/jpg)

Editor : Arif Oktafian
iran amerika serikat harga minyak dunia