Konflik AS-Iran Memanas, Houthi Klaim Serang Dua Tanker Saudi, Harga Minyak Dunia Tembus USD 100 per Barel

Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 09:10 WIB
Kapal perang AS dikerahkan kembali dalam blokade laut terhadap Iran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara (The Guardian)
Kapal perang AS dikerahkan kembali dalam blokade laut terhadap Iran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara (The Guardian)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Timur Tengah panas lagi. Perang darat antara Amerika Serikat dan Iran bisa saja terjadi.

Terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz telah mendorong harga minyak mendekati level tertinggi dalam empat tahun terakhir, yakni USD 126,41 per barel pada perdagangan Jumat (24/7).

Melansir Reuters, harga minyak kontrak berjangka Brent pada penutupan perdagangan Kamis (24/7) naik USD 6,62 atau 7 persen menjadi USD 100,69 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup naik USD 5,36 atau 6,2 persen menjadi USD 92,19 per barel.

Baca Juga: Iran Tak Biarkan Setetes Minyak Lolos Selat Hormuz

Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, mengatakan alasan naiknya harga minyak adalah karena meningkatnya kemungkinan perang darat serta terganggunya lalu lintas kapal tanker di dua jalur pelayaran tersibuk dunia.

Analis dari Gelber and Associates menilai eskalasi kelompok Houthi di Yaman memperparah gangguan lalu lintas di Selat Hormuz dan semakin menekan ekspor minyak Iran, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan minyak dunia dalam waktu dekat.

Para analis memperkirakan Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb secara bersama-sama menjadi jalur pengiriman sekitar seperempat pasokan minyak dunia. Meski terjadi serangan, data pelayaran menunjukkan dua kapal tanker super milik China yang mengangkut sekitar 4 juta barel minyak Saudi berhasil keluar dari Laut Merah melalui Selat Bab el-Mandeb pada Kamis.

Baca Juga: AS Picu Kekhawatiran Baru setelah Pernyataan Donald Trump yang Jadikan Korut sebagai Prioritas Berikutnya

Kelompok Houthi di Yaman pun dilaporkan membuka front baru dalam konflik Iran dengan menargetkan kapal-kapal yang mengangkut minyak Saudi di Selat Bab el-Mandeb. Sebelumnya, kelompok tersebut menyatakan akan memberlakukan blokade laut terhadap pengiriman dari Arab Saudi.

Houthi mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Saudi dalam sebuah operasi militer. Belakangan, kantor berita pemerintah Arab Saudi, SPA, mengonfirmasi bahwa salah satu dari dua kapal tersebut terbakar setelah diserang saat berlayar di Laut Merah. Namun, SPA tidak menyebut pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Bank investasi Goldman Sachs memperkirakan harga Brent dapat melampaui USD 120 per barel pada kuartal IV apabila gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut hingga 2027. Risiko kenaikan harga bahkan dinilai lebih besar apabila gangguan juga meluas ke Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez.

Baca Juga: Pekanbaru Dipercaya Jadi Tuan Rumah Forum Internasional GCMC, Wako Agung Pimpin Pertemuan Kepala Daerah Tiga Negara

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan akan memberikan hukuman militer besar kepada Iran dan sekutu Houthinya.

Iran pun tak gentar dengan ancaman Trump. Bahkan Garda Revolusi Iran melaporkan sebuah kapal tanker minyak terbakar setelah terjadi ledakan saat melintasi jalur yang dipasangi ranjau di wilayah selatan Selat Hormuz dekat pesisir Oman. Dua kapal tanker lainnya dilaporkan memutuskan berbalik arah.

Iran juga menyatakan Selat Hormuz berada di bawah kendalinya dan kini sepenuhnya ditutup selama aksi militer Amerika Serikat masih berlangsung di kawasan. Teheran memperingatkan tidak ada kapal tanker yang diizinkan masuk atau keluar tanpa koordinasi dengan otoritas Iran.

Sumber: Jawapos.com

Editor : Rinaldi
Konflik AS-Iran houthi harga minyak dunia