TEHERAN (RIAUPOS.CO) - Eskalasi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meletus setelah gelombang serangan udara Washington dilaporkan menghantam warga sipil, yang segera dibalas Teheran dengan membombardir sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Bentrokan terbuka ini langsung berdampak fatal pada rantai pasok energi global di Selat Hormuz. Jalur distribusi strategis tersebut ditutup secara efektif oleh Iran setelah dua kapal tanker dilaporkan terkena serangan. Imbasnya, harga minyak mentah global langsung melonjak tajam.
Mengutip Investing.com, Rabu (2/9), kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November naik 5 persen menjadi 95,05 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober melonjak 5,7 persen menjadi 90,68 dolas AS per barel.
Baca Juga: Satu Kelompok Warga Australia Hilang, Korban Tewas Banjir Bandang Nepal-Tibet Tembus 633 Jiwa
Kenaikan tersebut membawa harga minyak dunia kembali menuju ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Adapun harga minyak dunia tertinggi tahun ini tercipta pada akhir April 2026 yang menyentuh level di atas 126 dolar AS per barel imbas eskalasi konflik Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengancam akan memblokade total pasokan energi kawasan jika Washington terus meningkatkan agresi. “Jika musuh ingin kita tidak mengekspor minyak dari Teluk Persia, maka tidak seorang pun akan mampu mengekspor minyak,” tegas Qalibaf.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan pihaknya siap merespons setiap pelanggaran kesepakatan yang dilakukan AS. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi pembalasan dalam skala yang jauh lebih masif jika terus melancarkan serangan terhadap aset-aset militer Amerika.
Baca Juga: Banjir Bandang Nepal-Tibet akibat Runtuhan Es
Bulan Sabit Merah Iran melaporkan serangan udara AS di Kota Kuhestak menewaskan empat orang, termasuk seorang anak-anak, serta melukai lebih dari 50 orang. Pecahan peluru menghantam sebuah rumah warga yang tengah menggelar perayaan pernikahan.
Juru Bicara Komando Pusat AS (CentCom), Kapten Tim Hawkins, membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil.
Washington berdalih operasi udara tersebut murni menyasar infrastruktur Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyusul ancaman terhadap kapal komersial dan personel militer mereka.
Baca Juga: Tambang Emas di Republik Afrika Tengah Runtuh, Lebih 100 Orang Tewas dan Masih Akan Bertambah
Merespons jatuhnya korban di wilayahnya, IRGC melancarkan serangan balasan berupa gelombang rudal dan pesawat tanpa awak (drone) ke instalasi militer Amerika Serikat di luar negeri.
Pangkalan militer AS di Yordania dan Erbil (Irak) menjadi target langsung gempuran tersebut. Laporan serangan juga mencakup wilayah Kuwait, sementara sirene peringatan bahaya udara meraung-raung di Bahrain pada Rabu (2/9).(lyn/gas/jpg)
Editor : Arif Oktafian