Rudal Iran Hantam Pusat Intelijen AS di Teluk dan Irak

Tim Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 10:44 WIB
Asap membubung dari gedung yang diklaim sebagai pusat intelijen AS di Irak setelah diserang Iran. (AFP)
Asap membubung dari gedung yang diklaim sebagai pusat intelijen AS di Irak setelah diserang Iran. (AFP)

TEHERAN (RIAUPOS.CO) - Eskalasi ketegangan di Timur Tengah kian memuncak setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeklaim bahwa rudal-rudal Iran berhasil menghantam sejumlah pusat intelijen Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk dan Irak utara. Di saat yang sama, Washington dinilai telah gagal menguasai serta membuka kembali Selat Hormuz.

Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, menegaskan bahwa serangan presisi tersebut membuktikan fasilitas strategis AS di kawasan tidak berada di luar jangkauan Teheran sekaligus menjadi bentuk kekalahan intelijen bagi Washington. “Rudal Iran telah menghantam pusat-pusat intelijen Amerika di sekitar Teluk dan Irak utara,” tutur Mohebbi.

Ia menyoroti indikator utama kekalahan AS terletak pada ketidakmampuan Washington menembus blokade dan membuka kembali perairan Selat Hormuz, meski telah mengerahkan seluruh kemampuan militernya. Keberadaan pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan yang sebelumnya ditujukan untuk jaminan keamanan kini dinilai berbalik menjadi beban rentan.

Baca Juga: Serangan Rudal dan Drone Houthi ke Riyadh Sebabkan Harga Minyak Dunia Turun

Dampak dari penutupan jalur vital tersebut terasa signifikan pada lalu lintas pelayaran global. Sepanjang akhir pekan, hanya terdapat 12 kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz, merosot tajam dari 35 kapal pada periode akhir pekan sebelumnya.

Peringatan keras turut dilontarkan oleh Komando Militer Pusat Iran, Khatam al-Anbiya Central Headquarters, pada Ahad (20/9). Pihaknya memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak menyediakan wilayah maupun fasilitas untuk mendukung operasi militer AS. 

Negara yang mengizinkan wilayahnya digunakan untuk menyokong serangan AS akan dianggap terlibat dan menghadapi aksi balasan langsung dari Teheran.

Baca Juga: Ngeri! Ban Pesawat Lepas saat Mendarat, Detik-detik Pendaratan Sepehran Airlines Terekam Kamera

Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga AS memenuhi komitmen yang disepakati. Iran mengajukan beberapa syarat perundingan melalui mediator Qatar dan Pakistan, seperti penghentian serangan AS, pencairan aset yang dibekukan, serta pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan Iran.

Menanggapi situasi yang memanas, Presiden AS Donald Trump membuka peluang untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum PBB di New York. “Kami mempertimbangkan sejumlah opsi, mulai dari aksi militer lanjutan, tekanan ekonomi, hingga kesepakatan,” kata Trump.(lyn/gas/jpg)

Editor : Arif Oktafian
rudal iran konflik timur tengah selat hormuz