BANGKINANG (RIAUPOS.CO) - Wakil Bupati (Wabup) Kampar Misharti sangat menyayangkan kejadian yang viral jenazah yang digotong warga Desa Senama Nenek, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar. “Kami sangat menyayangkan kejadian warga menggotong jenazah di Desa Senama Nenek karena tidak ada ambulans desa,” jelas Wabup Misharti, Ahad (4/5).
Wabup menjelaskan, akan menurunkan tim investigasi ke Desa Senama Nenek penyebab tidak bisa dipakai ambulans desa. Ini akan menjadi bahan evaluasi pelayanan ambulans untuk masyarakat.
“Ini menjadi perhatian bagi kami bersama Pak Bupati Kampar Ahmad Yuzar. Karena ini menyangkut pelayanan kepada masyarakat,” tegasnya.
Wabup menambahkan, sudah mendapatkan laporan tentang kejadian yang di Desa Senama Nenek ini. Tim investigas yang terdiri dari Inspektorat, Dinas Kesehatan dan instansi terkait lainnya segera turun ke Desa Sinama Nenek.
Viral di akun facebook emak daster yang memposting warga Senama Nenek, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar menggotong jenazah dengan menggunakan sepeda motor, tetapi tidak jadi dan akhirnya empat warga menggotong jenazah tersebut dengan berjalan kaki ke rumah duka.
Informasi di lapangan jenazah tersebut bernama Ilut yang meninggal di kebun sawit, Sabtu (3/5) siang. Karena tidak ada ambulans warga akhirnya menggotong jenazah tersebut dari perkebunan sawit ke rumah duka.
Dalam pada itu, Camat Tapung Hulu Wira Sastra menjelaskan, kepala Desa Senama Nenek Abdoel Rakhman Can sedang melaksanakan ibada haji dan untuk sementara digantikan oleh Sekretaris Desa sebagai Pelaksana tugas (Plt).
Wira menjelaskan, berdasarkan keterangan dari staf puskesmas korban meninggal dunia dalam kebun sawit sedang memanen. Jenazah kemudian digotong warga saat dikeluarkan dari kebun sawit menuju rumah saudaranya sambil menunggu kedatangan ambulans.
“Informasi di lapangan ada warga yang minta bantuan perusahaan, tetapi perusahaan tidak memberikan izin karena pernah kejadian sopir ambulans kena SP. Kita sudah koordinasikan dengan humas perusahaan untuk membantu warga dalam keadaan situsional,” jelas Wira.
Wira menambahkan, memang ambulans Puskesmas Senama Nenek terlambat datang. Tetapi ambulans Puskesmas yang mengantarkan jenazah dari rumah duka ke pemakaman.
“Memang pada hari itu, terjadi miskomunikasi karena jaringan telepon mati disebabkan listrik mati,” tegas Wira.
Wira menambahkan, tentang keberadaan ambulans desa tidak mengetahuinya. Biasanya ambulans desa parkir di rumah pak kades. Pada hari kejadian tidak mengetahui keberadaan ambulans desa tersebut.(gem)
Editor : Arif Oktafian