BANGKINANG (RIAUPOS.CO) -- Pihak Sentra Pengelolaan Program Gizi (SPPG) Kecamatan Bangkinang Kota Indra Noval menyampaikan permohonan maaf atas insiden dugaan keracunan makanan dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah.
Ia menegaskan, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi menyeluruh agar tidak terulang kembali. Indra menegaskan bahwa kejadian ini merupakan insiden pertama dan terakhir yang tidak diharapkan semua pihak.
"Tidak ada unsur kesengajaan dari tim dapur SPPG Bangkinang Kota. Namun kami akui ada kelalaian teknis, terutama pada pekan pertama pelaksanaan program," ujarnya, Selasa (2/9/2025).
Menurutnya, proses pengawasan sebenarnya sudah melibatkan ahli gizi dan petugas SPPG, sementara pihak dapur hanya menyiapkan tempat dan perlengkapan masak. Namun, faktor keterlambatan pengiriman makanan serta proses penyesuaian jadwal antar-sekolah menjadi kendala yang perlu segera dibenahi.
"Sejak kejadian Kamis lalu, kami langsung evaluasi mulai dari bahan baku, teknik memasak, hingga sistem distribusi agar makanan tetap segar dan higienis sampai ke tangan siswa," tambah Indra.
SPPG Bangkinang Kota juga menegaskan siap bertanggung jawab membantu perawatan siswa yang terdampak. Selain itu, pihaknya telah melakukan klarifikasi ke sekolah-sekolah terkait serta berencana mengunjungi keluarga siswa yang terdampak untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
"Program MBG ini sebenarnya berniat baik untuk mencukupi gizi anak-anak. Karena itu kami tidak ingin insiden ini mengurangi kepercayaan masyarakat. Disiplin dapur, standar masak, dan distribusi akan kami perketat mulai sekarang," tutupnya.
Di sisi lain Ahli Gizi Program Sekolah Pemberian Pangan Gratis (SPPG) Bangkinang Kota Umul Khairiyah memberikan klarifikasi terkait dugaan keracunan makanan yang menimpa belasan murid SDN 006 Langgini, Kamis lalu.
Umul mengakui bahwa pada hari pertama pelaksanaan program, terjadi penyesuaian waktu memasak. Namun, pada Kamis hari kejadian, proses memasak nasi goreng dilakukan lebih cepat dari jadwal yang dianjurkan.
"Saya sebenarnya sudah mengarahkan agar proses memasak dilakukan mulai pukul 03.00–04.00 dini hari. Namun, tim juru masak sudah memulai lebih cepat sebelum saya beri arahan. Hal ini memengaruhi kualitas makanan, terutama daya tahannya," ungkap Umul.
Ia menjelaskan bahwa sebelum distribusi, pihaknya selalu melakukan uji organoleptik atau pengecekan rasa, bau, dan tekstur makanan. Namun, ia mengakui bahwa proses pemasakan yang terlalu cepat bisa mempercepat perubahan bau atau rasa pada makanan.
"Ke depan, saya akan memperketat pengawasan, mulai dari penerimaan bahan baku, proses persiapan, hingga distribusi. Relawan juga akan lebih diawasi agar tidak sembarangan dalam mengolah makanan," tegasnya.
Editor : Rinaldi