Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Belasan Murid SD di Kampar Diduga Keracunan Makanan MBG

Komarudin • Rabu, 3 September 2025 | 09:57 WIB

Suasana pertemuan wali murid, Kepala SDN 006 Langgini, pihak SSPG, dan Dinas Kesehatan di aula SDN 006 Langgini, Kecamatan Bangkinang Kota, Kampar, Selasa (2/9/2025).
Suasana pertemuan wali murid, Kepala SDN 006 Langgini, pihak SSPG, dan Dinas Kesehatan di aula SDN 006 Langgini, Kecamatan Bangkinang Kota, Kampar, Selasa (2/9/2025).


BANGKINANG (RIAUPOS.CO) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menimbulkan kekhawatiran orang tua murid. Belasan murid SDN 006 Langgini, Kecamatan Bangkinang Kota, Kabupaten Kampar diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program ini, Kamis (28/8) lalu.

Sebanyak 18 murid SD mengalami gejala mual dan muntah, bahkan dua di antaranya harus dirawat di rumah sakit. Salah seorang korban, Delpin Alpatih, siswa kelas 2C harus menjalani perawatan intensif. “Awalnya dia makan nasi goreng. Tak lama setelah itu muntah-muntah, jadi langsung saya bawa pulang,” ujar ibu Delpin, Roudah Anis, Selasa (2/9).

Dikatakan Raudah, setelah tiba di rumah, kondisi Delpin tidak membaik. “Kamis (28/8) siang, kami bawa ke rumah sakit karena dadanya sesak dan matanya pucat. Jumat (29/8) sempat pulang, tapi Sabtu (30/9) sore masuk lagi karena setiap makan dan minum langsung muntah,” jelasnya.

Roudah menyebutkan, kasus serupa juga dialami siswa lain. “Di kelas anak saya saja ada 10 orang yang mengalami gejala serupa. Dua di antaranya harus dirawat di rumah sakit,” katanya. Ia pun meminta pemerintah segera bertindak. “Tolong jangan sampai ada korban lagi. Anak-anak makan apa yang diberikan tanpa tahu apakah masih layak atau tidak,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SDN 006 Langgini, Ema Astuti membenarkan adanya dugaan keracunan makanan tersebut. “Kami sudah membentuk tim pengawas di setiap kelas untuk mengecek kelayakan makanan sebelum dibagikan. Jika dinilai tidak layak, akan langsung dikembalikan ke dapur. Jika layak, baru boleh dikonsumsi siswa,” jelas Ema.

Ia menekankan perlunya komitmen bersama antara sekolah, penyelenggara MBG, dan orang tua untuk menjaga kualitas makanan. “Sekolah hanya fasilitator. Yang menyiapkan makanan adalah dapur penyelenggara. Kami ingin ada kesepahaman soal standar kebersihan dan gizi agar program ini berjalan baik tanpa ada korban lagi,” tambahnya.

Program MBG di SDN 006 Langgini baru berjalan sejak 24 Agustus 2025. Namun, insiden ini langsung menjadi sorotan. Ema menyebutkan, pihak sekolah telah berkoordinasi dengan penyelenggara MBG dan dinas terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh.

“Pihak MBG juga siap melakukan sosialisasi bersama orang tua, sekolah, dan tenaga kesehatan agar ada pemahaman yang sama. Harapannya, kejadian serupa tidak terulang lagi,” jelasnya.

Pengelola SPPG Bangkinang Kota Siap Bertanggung Jawab
Pengelola Sentra Pengelolaan Program Gizi (SPPG) Kecamatan Bangkinang Kota Indra Noval menyampaikan permohonan maaf atas insiden dugaan keracunan makanan dalam Program MBG di sejumlah sekolah.

Ia menegaskan, kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi menyeluruh agar tidak terulang kembali. Indra menegaskan kejadian ini merupakan insiden pertama dan terakhir yang tidak diharapkan semua pihak. “Tidak ada unsur kesengajaan dari tim dapur SPPG Bangkinang Kota. Namun kami akui ada kelalaian teknis, terutama pada pekan pertama pelaksanaan program,” ujarnya, Selasa (2/9).

Menurutnya, proses pengawasan sebenarnya sudah melibatkan ahli gizi dan petugas SPPI. Sementara pihak dapur hanya menyiapkan tempat dan perlengkapan masak. Namun, faktor keterlambatan pengiriman makanan serta proses penyesuaian jadwal antarsekolah menjadi kendala yang perlu segera dibenahi.

“Sejak kejadian Kamis (28/8) lalu, kami langsung evaluasi mulai dari bahan baku, teknik memasak, hingga sistem distribusi agar makanan tetap segar dan higienis sampai ke tangan siswa,” tambah Indra.

SPPG Bangkinang Kota juga menegaskan siap bertanggung jawab membantu perawatan korban yang terdampak. Selain itu, pihaknya telah melakukan klarifikasi ke sekolah-sekolah terkait serta berencana mengunjungi keluarga siswa yang terdampak untuk menyampaikan permintaan maaf secara langsung.

“Program MBG ini sebenarnya berniat baik untuk mencukupi gizi anak-anak. Karena itu kami tidak ingin insiden ini mengurangi kepercayaan masyarakat. Disiplin dapur, standar masak, dan distribusi akan kami perketat mulai sekarang,” tutupnya.

Di sisi lain, Ahli Gizi Program SPPG Bangkinang Kota Umul Khairiyah memberikan klarifikasi terkait dugaan keracunan makanan yang menimpa belasan siswa SDN 006 Langgini ini. Umul mengakui pada hari pertama pelaksanaan program, terjadi penyesuaian waktu memasak. Namun, pada hari Kamis (28/8), hari kejadian proses memasak nasi goreng dilakukan lebih cepat dari jadwal yang dianjurkan.

“Saya sebenarnya sudah mengarahkan agar proses memasak dilakukan mulai pukul 03.00–04.00 WIB. Namun, tim juru masak sudah memulai lebih cepat sebelum saya beri arahan. Hal ini memengaruhi kualitas makanan, terutama daya tahannya,” ungkap Umul.

Ia menjelaskan, sebelum didistribusikan, pihaknya selalu melakukan uji organoleptik atau pengecekan rasa, bau, dan tekstur makanan. Namun, ia mengakui proses pemasakan yang terlalu cepat bisa mempercepat perubahan bau atau rasa pada makanan.

“Ke depan, saya akan memperketat pengawasan. Mulai dari penerimaan bahan baku, proses persiapan, hingga distribusi. Relawan juga akan lebih diawasi agar tidak sembarangan dalam mengolah makanan,” tegasnya.(kom)

Editor : Arif Oktafian
#murid sd #makanan #Mbg #keracunan #kampar