BANGKINANG (RIAUPOS.CO) - Menjelang waktu salat Asar, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar merdu dari dalam masjid. Suara itu berpadu dengan hiruk-pikuk aktivitas pasar di sekitarnya. Satu per satu jemaah berdatangan, sebagian berjalan kaki, sebagian lagi menepi dengan sepeda motor mereka di halaman masjid.
Bangunan kayu berwarna cokelat itu tampak sederhana, namun menyimpan pesona tersendiri. Tiang-tiang penyangga yang besar berdiri tegap. Dinding papan yang tersusun rapi terlihat terawat. Meski telah berusia lebih dari satu abad, tak tampak tanda-tanda kerusakan berarti akibat usia.
Menurut juru jaga masjid, Amiruddin, Masjid Jami’ telah menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Air Tiris sejak awal abad ke-20. “Masjid ini bukan hanya tempat ibadah. Di sinilah masyarakat berkumpul, bermusyawarah, dan menyelesaikan berbagai persoalan kampung,” ujarnya, Senin (2/3).
Berawal dari Pasar Kenegerian
Sebelum berdiri masjid, kawasan tersebut dikenal sebagai Pasar Kenegerian Air Tiris. Aktivitas perdagangan sudah ramai kala itu. Mayoritas penduduk memeluk agama Islam, namun belum memiliki tempat ibadah yang representatif.
Kondisi itu menggugah hati seorang tokoh masyarakat bernama Datuk Angku Mudo Sangkal. Ia melihat umat Islam kesulitan menunaikan salat ketika waktu ibadah tiba. Melalui musyawarah bersama ninik mamak dan warga, disepakati pembangunan sebuah masjid yang menjadi pusat ibadah dan simbol persatuan masyarakat.
Pembangunan masjid dilakukan secara gotong royong. Tidak ada kontraktor, tidak pula anggaran besar. Seluruh bahan dan tenaga berasal dari masyarakat sendiri.
Terinspirasi Arsitektur Masjid Demak
Dalam merancang bangunan, Datuk Angku Mudo Sangkal terinspirasi oleh arsitektur Masjid Agung Demak yang dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Jawa. Meski tidak pernah melihat langsung bangunan tersebut, konsep atap bertingkat diadopsi dan disesuaikan dengan budaya lokal Melayu.
Jika Masjid Demak memiliki atap bertingkat dua, Masjid Jami’ Air Tiris dibuat dengan tiga tingkat. Bentuk atap limas berundak itu menjadi ciri khas yang membedakannya dengan masjid lain di Kampar. Arsitek pembangunan masjid ini adalah H Burhanuddin.
Menariknya, pada awal pembangunannya, bangunan dirakit tanpa menggunakan paku. Sistem pasak kayu menjadi teknik utama penyambungan, yang hingga kini terbukti mampu bertahan puluhan bahkan ratusan tahun.
Kisah Kayu yang Menghilang
Proses pembangunan masjid juga diwarnai cerita-cerita yang hingga kini masih dituturkan dari generasi ke generasi. Salah satunya tentang kayu bangunan yang sempat menghilang.
Warga dari Kampung Tanjung Belit mencari kayu pilihan ke hutan untuk dijadikan bahan utama. Namun ketika hendak diangkut, kayu tersebut tak lagi terlihat di lokasi semula.
Warga kemudian melapor kepada Datuk. Mereka kembali bersama-sama dan seorang pemuda diminta mengumandangkan azan di tengah hutan. Setelah doa dipanjatkan, kayu yang hilang itu disebut kembali terlihat di tempatnya semula. Peristiwa tersebut diyakini sebagai pertanda bahwa pembangunan masjid mendapat keberkahan.
Tiang Induk dan Masa Penjajahan
Masjid ini awalnya memiliki empat tiang induk besar sebagai penyangga utama bangunan. Konon, saat salah satu tiang hendak ditegakkan, tiang itu tak kunjung berdiri meski sudah diupayakan bersama.
Saat itu, masyarakat menyadari ada seorang nyonya dan tuan Belanda yang menyaksikan proses tersebut. Setelah keduanya diminta menjauh, tiang tersebut akhirnya bisa ditegakkan. “Orang-orang tua dulu memaknai kejadian itu sebagai simbol bahwa urusan ibadah umat Islam tidak ingin dicampuri penjajah,” tutur Amiruddin.
Batu Misterius dan Keyakinan Warga
Cerita lain berkaitan dengan sebuah batu berbentuk menyerupai kepala kerbau. Batu itu sulit dipasang karena selalu jatuh ketika diletakkan. Bahkan setelah masjid berdiri, batu tersebut konon kerap berpindah tempat.
Ada yang menyebut batu itu pernah berada di tengah masjid, lalu berpindah ke dekat tempat penampungan air. Setelah bertahun-tahun, batu tersebut akhirnya menetap di satu lokasi.
’’Sebagian masyarakat meyakini batu itu memiliki keistimewaan dan kerap dijadikan perantara doa untuk memohon kesembuhan atau hajat tertentu, dengan keyakinan bahwa segala sesuatu tetap atas izin Allah SWT,’’ jelas Amiruddin.
Dari Pelangkin hingga Renovasi
Pada masa awal berdirinya, seluruh bagian masjid terbuat dari papan kayu pilihan. Dindingnya dicat menggunakan “pelangkin”, pewarna tradisional berwarna hitam pekat yang lengket karena belum tersedia cat modern.
Seiring waktu, masjid telah mengalami beberapa kali renovasi untuk memperkuat struktur dan menjaga keselamatan jamaah. Beberapa bagian kini diperkuat dengan paku dan bahan tambahan, namun tiang-tiang utama dan sebagian besar struktur asli tetap dipertahankan demi menjaga nilai sejarahnya.
Pusat Aktivitas Sosial dan Keagamaan
Masjid Jami’ Air Tiris bukan sekadar tempat salat lima waktu. Di sinilah masyarakat melaksanakan Salat Jumat, Tarawih, peringatan hari besar Islam, wirid pengajian, hingga musyawarah kampung.
’’Bahkan, pada masa lalu, masjid menjadi pusat pengambilan keputusan adat dan tempat menyelesaikan persoalan warga. Perannya bukan hanya sebagai pusat spiritual, tetapi juga sebagai pusat sosial,’’ jelas Amiruddin.
Makna Filosofis di Balik Ukiran
Keindahan masjid juga tampak pada ukiran-ukiran kayunya. Motif bunga manggis dengan lima kelopak melambangkan kesempurnaan dan kerukunan. Ada pula motif bunga matahari sebagai simbol cahaya yang menerangi kehidupan.
’’Setiap ukiran dibuat bukan sekadar untuk estetika, melainkan mengandung pesan moral dan filosofi hidup masyarakat Melayu yang religius dan menjunjung tinggi kebersamaan,’’ ungkap Amiruddin.
Kini, di usia yang hampir mencapai satu setengah abad, Masjid Jami’ Air Tiris tetap berdiri teguh. Ia bukan hanya bangunan tua dari kayu, melainkan simbol persatuan, warisan sejarah, serta bukti kuatnya semangat gotong royong masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.***
Laporan KAMARUDIN, Bangkinang
Editor : Arif Oktafian