Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

DLH Tunggu Hasil Uji Laboratorium, Selidiki Kematian Mendadak Ikan di Sungai Tapung

Komarudin • Jumat, 3 April 2026 | 12:09 WIB
Polsek Tapung Hilir bersama tim gabungan saat turun ke lokasi untuk menyelidiki dugaan pencemaran yang berpotensi mengancam sumber air utama warga setempat di Sungai Tapung, Kampar, Selasa (31/3/2026). Polres Kampar untuk Riau Pos
Polsek Tapung Hilir bersama tim gabungan saat turun ke lokasi untuk menyelidiki dugaan pencemaran yang berpotensi mengancam sumber air utama warga setempat di Sungai Tapung, Kampar, Selasa (31/3/2026). Polres Kampar untuk Riau Pos

 

BANGKINANG (RIAUPOS.CO) - Sekitar 30 ton ikan ditemukan mati secara mendadak di aliran Sungai Tapung yang melintasi Desa Sekijang, Desa Kota Garo, dan Desa Koto Aman, Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar, pada Senin (30/3) lalu.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kampar masih menunggu hasil uji laboratorium terkait dugaan pencemaran yang menyebabkan kematian massal ikan di Sungai Tapung ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kampar Refizal mengatakan, tim telah turun langsung ke lokasi sejak hari kejadian untuk melakukan identifikasi awal. “Tim sudah turun pada hari kejadian. Sampel air telah diambil dan saat ini sedang diuji di laboratorium tingkat provinsi di Pekanbaru,” ujarnya.

Ia menyebutkan proses pengujian laboratorium diperkirakan memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga pekan sebelum hasilnya dapat disimpulkan secara resmi. Sampel air diambil dari tiga titik pertemuan anak sungai dengan Sungai Tapung, yakni Sungai Kompe, Sungai Banau, dan Sungai Doliek.

Baca Juga: Puluhan Ton Ikan Mati di Sungai Tapung, Polisi dan DLH Selidiki Dugaan Pencemaran

Menurutnya, langkah yang dilakukan saat ini masih dalam tahap identifikasi dan verifikasi awal terhadap dugaan sumber pencemaran. “Masalah lingkungan ini kompleks dan tidak bisa langsung disimpulkan berasal dari satu sumber tertentu. Hasil laboratorium nanti akan menjadi dasar analisis kami,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian serupa disebut telah terjadi beberapa kali dalam beberapa bulan terakhir, yakni pada Desember 2025, Februari 2026, dan kembali terjadi pada Maret 2026. Namun, kejadian terbaru diduga merupakan yang paling banyak menyebabkan kematian ikan.

Saat tim melakukan penelusuran di wilayah Sekijang, ditemukan sejumlah ikan mati di aliran Sungai Kompe hingga ke hilir. Meski demikian, ikan yang berada di keramba milik masyarakat dilaporkan tidak terdampak secara signifikan.

Baca Juga: Diduga Tercemar Limbah, Puluhan Ton Ikan Mati Mendadak

Di bagian hulu Sungai Tapung terdapat pabrik kelapa sawit serta area perkebunan milik PT Buana Wira Lestari (BWL) yang saat ini sedang melakukan kegiatan replanting. Pohon sawit yang diremajakan dikubur dan diberi bahan kimia tertentu. Masyarakat menduga bahan tersebut berpotensi mencemari aliran Sungai Tapung.

Namun demikian, dugaan tersebut masih dalam tahap penyelidikan dan menunggu hasil uji laboratorium resmi dari DLH Kampar. Sementara itu, Humas Sinar Mas Group (PT BWL) Agung saat dikonfirmasi terkait dugaan pencemaran yang disebabkan oleh perusahaan belum memberikan tanggapan. Permintaan konfirmasi yang disampaikan melalui WhatsApp juga belum mendapat respons.

Sementara itu, menindaklanjuti laporan masyarakat, Polsek Tapung Hilir bersama tim gabungan langsung turun ke lokasi pada Selasa (31/3) sore untuk menyelidiki dugaan pencemaran yang berpotensi mengancam sumber air utama warga setempat.

Kapolsek Tapung Hilir AKP Khairil mengatakan pihaknya segera merespons laporan masyarakat karena Sungai Tapung merupakan sumber kehidupan warga sekitar. “Kami perlu memastikan penyebab kejadian ini. Kerja sama dengan berbagai pihak sangat penting untuk mengetahui penyebab pastinya,” ujarnya, Kamis (2/4).

Tim gabungan juga mengambil sampel air di tiga anak sungai yang bermuara ke Sungai Tapung, yakni Anak Sungai Kompe, Anak Sungai Banau, dan Anak Sungai Doliek. Sampel tersebut akan diuji untuk mengetahui kualitas air yang diduga menjadi salah satu faktor penyebab kematian massal ikan.

Berdasarkan pengecekan awal di lapangan, suhu air masih dalam kondisi normal dan tingkat kekeruhan berada dalam batas wajar. Kadar oksigen terlarut (DO) tercatat sekitar 3 mg/L dan masih dalam batas toleransi. Namun, kandungan zat kimia lainnya masih menunggu hasil uji laboratorium DLH Kabupaten Kampar.

Meski beberapa parameter menunjukkan kondisi normal, tim menemukan banyak ikan mati yang sudah mulai membusuk di sepanjang aliran Sungai Tapung. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena sungai tersebut merupakan sumber air penting bagi kebutuhan konsumsi, pertanian, serta aktivitas ekonomi masyarakat.

Tim gabungan berharap hasil pemeriksaan laboratorium dapat segera diketahui agar langkah penanganan yang tepat dapat dilakukan guna menjaga kelestarian lingkungan serta melindungi sumber kehidupan masyarakat Tapung Hilir.(kom)

Editor : Bayu Saputra
#Sungai Tapung #lingkungan #ikan mati #pencemaran air #kampar