Batik Jumputan Karya Rumah Batik Moringa Kampar Binaan PLN UIP Sumbagteng  Tampil di Indonesia Fashi

Tim Redaksi • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 16:28 WIB
Hasil kolaborasi  desainer Rico Bije Reybonte Hendriko dengan Rumah Batik Moringa Kampar binaan PLN UIP Sumbagteng  yang ditampilkan dalam Indonesia Fashion Week (IFW), belum lama ini. (pt pln (persero) untuk riau pos)
Hasil kolaborasi desainer Rico Bije Reybonte Hendriko dengan Rumah Batik Moringa Kampar binaan PLN UIP Sumbagteng yang ditampilkan dalam Indonesia Fashion Week (IFW), belum lama ini. (pt pln (persero) untuk riau pos)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kain batik jumputan yang diproduksi Rumah Batik Moringa Kampar mendapat kesempatan tampil di panggung Indonesia Fashion Week (IFW). Karya perajin dari Kampar, Riau, itu dikolaborasikan dengan desainer Rico Bije Reybonte Hendriko dan diolah menjadi busana dengan sentuhan desain modern.

Bagi Rumah Batik Moringa Kampar, keikutsertaan dalam ajang fesyen tersebut menjadi momentum untuk memper­kenalkan karya perajin lokal kepada khalayak yang lebih luas. Kain jumputan yang selama ini dikembangkan di tingkat masyara­kat kini mendapat ruang untuk tampil dalam industri fesyen nasional.

Rumah Batik Moringa Kampar merupakan kelompok usaha masyarakat di bawah asuhan UMKM Dapur Aru yang menda­pat pendampingan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli dari PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah (UIP Sumbagteng).

Baca Juga: ISPU Kampar Tembus 234, Kabut Asap Diduga Kiriman dari Jambi

Dari Karya Perajin hingga Panggung Fesyen

Kolaborasi dengan Rico Bije Reybonte Hendriko mempertemukan keterampilan para pe­rajin dengan kreativitas desainer. Kain jumputan yang dihasilkan Rumah Batik Moringa Kampar dikembangkan menjadi busana yang lebih modern, tanpa menghilangkan karakter dan identitas kain tersebut.

Proses ini memberikan penga­laman baru bagi para perajin. Mereka tidak hanya belajar menghasilkan kain dengan teknik jumputan, tetapi juga melihat bagaimana produk yang dibuat dengan tangan dapat dikembangkan menjadi bagian dari industri fesyen.

General Manager PLN UIP Sumbagteng, Achmadi Abbas mengatakan pengembangan masyarakat melalui program TJSL tidak semata-mata berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mengembangkan potensi yang dimiliki secara berkelanjutan.

Baca Juga: DPRD dan Pemkab Kampar Sepakati Perubahan KUA-PPAS 2026 Rp2,57 Triliun

”Kami ingin program TJSL PLN Peduli dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat. Rumah Batik Moringa Kampar memiliki potensi yang besar, terutama dari sisi kreativitas dan produk berbasis kearifan lokal. Ketika potensi tersebut mendapatkan pendampingan dan kesempatan untuk berkola­borasi, kami berharap produknya dapat berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Achmadi.

Menurut dia, tampilnya batik jumputan Rumah Batik Moringa Kampar di Indonesia Fashion Week merupakan bagian dari proses panjang pemberdayaan masyarakat.  ”Bagi kami, tampil di Indonesia Fashion Week bukan hanya tentang sebuah karya yang dipamerkan. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat melihat bahwa produk yang mereka hasilkan memiliki nilai dan peluang untuk dikembangkan. Pengalaman ini diharapkan menjadi motivasi bagi para perajin untuk terus berinovasi,” katanya.

Pendampingan dari Tingkat Lokal

Owner UMKM Dapur Aru sekaligus pembina Rumah Batik Moringa Kampar, Nurhidayah Sari mengatakan pengembangan kelompok tersebut dilakukan secara bertahap. Menurut dia, para perajin memiliki kreativitas yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Pendampingan dilakukan untuk membantu mereka meningkatkan keterampilan sekaligus memahami bagaimana sebuah produk lokal dapat dikemas agar memiliki daya saing.

Baca Juga: BPBD Kampar Ingatkan Potensi Hujan Lebat, Petir dan Angin Kencang di 10 Kecamatan

”Kami melihat para ibu-ibu di Rumah Batik Moringa Kampar memiliki potensi dan kreativitas yang besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut terus diasah sehingga karya yang dihasilkan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” ujar Nurhidayah.

Kolaborasi dengan Rico Bije Reybonte Hendriko, kata dia, menjadi salah satu pengalaman penting bagi para perajin. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana kain jumputan yang dibuat dapat dikembangkan menjadi busana dengan pendekatan desain yang berbeda.(adv)

 

Editor : Arif Oktafian
Rumah Batik Moringa Kampar Batik Jumputan indonesia fashion week