BANGKINANG (RIAUPOS.CO) -- Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar mencatat 437 kasus gangguan kesehatan yang masuk dalam laporan pemantauan dampak kesehatan selama 1–4 September 2026. Dari jumlah tersebut, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi yang paling banyak ditemukan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar, Zulhendra Dasat, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Elfian, mengatakan data tersebut merupakan hasil pemantauan laporan harian dari sejumlah puskesmas di Kabupaten Kampar. Pemantauan dilakukan di tengah kondisi kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Pada 1 September 2026 tercatat 122 kasus ISPA, kemudian 125 kasus pada 2 September. Selanjutnya, terdapat 79 kasus pada 3 September dan 88 kasus pada 4 September," ujar Elfian, Jumat (4/9/2026).
Baca Juga: Mancokau Ikan Tanjung Belit, Tradisi Lokal Jaga Kelestarian Alam dan Pererat Kebersamaan
Berdasarkan laporan tersebut, total kasus ISPA selama empat hari mencapai 414 kasus. Jumlah itu menjadi kelompok penyakit yang paling dominan dibandingkan penyakit lain yang turut dipantau.
Selain ISPA, Dinas Kesehatan Kampar juga mencatat 5 kasus pneumonia, 5 kasus konjungtivitis, 14 kasus iritasi kulit, dan 4 kasus asma.
Jika seluruh kelompok penyakit tersebut dijumlahkan, total kasus yang tercatat selama periode 1–4 September 2026 mencapai 437 kasus.
Baca Juga: Razia Pekat di Sumber Datar, 11 LC dan Miras Dibawa ke Mako Satpol PP
Data tersebut dihimpun dari laporan sejumlah puskesmas di Kabupaten Kampar. Beberapa wilayah yang mencatat kasus ISPA cukup menonjol antara lain Tambang, Sibiruang, Pandau Jaya, Kuok, Tanah Tinggi, Air Tiris, dan Pulau Gadang.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar terus melakukan pemantauan terhadap kondisi kesehatan masyarakat seiring masih adanya potensi paparan asap karhutla. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok rentan seperti balita, anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki gangguan atau riwayat penyakit pernapasan.
Masyarakat juga diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di tengah kondisi berasap, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan memperhatikan kondisi kesehatan.
Baca Juga: Turnamen Kalapas Cup Vol II, Tumbuhkan Semangat Sportivitas antara Petugas dan WBP
Dinas Kesehatan menegaskan bahwa angka tersebut merupakan data kasus yang tercatat dalam laporan pemantauan selama 1–4 September 2026, bukan angka yang secara otomatis menunjukkan seluruh kasus tersebut disebabkan langsung oleh kabut asap karhutla.
Editor : Rinaldi